29

SELF-REMINDER: Mengapa Menikah?

Gue menemukan tulisan ini tapi gak menemukan penulisnya.

Semua link yang gue klik mengakui ini tulisannya orang lain, bukan tulisan mereka sendiri. Tapi siapa orang lain itu, masih menjadi misteri beranak dalam kubur.

Tulisan ini bagus untuk pasangan yang sudah menikah, maupun yang baru mau menikah.

And I post it here because I want this to become a reminder for me

Mengapa orang menikah ?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?
Apakah karena jatuh cinta ?
Bukan…
Tapi karena mereka terus bangun cinta.

Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup…
Mengapa jatuh cinta gampang ?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.
Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap…
Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta.

Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan.

Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.
Apakah kondisi ini bisa diperbaiki ?
Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??
Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta.

Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.

Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.
Mau punya teman hidup ?
Jatuh cintalah….
Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta…Jagalah KOMITMEN awal.

Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.
Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.
Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama.
Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.
Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau Tuhan sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti Ia mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.
Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan Tuhan dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.

MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI “CARA” KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN.

Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri,
Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.
Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi.

Pernikahan adalah tiket 1x jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.
Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa & salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab.
Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.
Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita.
Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.
Ingat !!
Better me = Better we.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan suami :
A. Tidak perhatikan perasaan istri.
Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.
B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.
Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.
☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan istri :
A. Memberi petunjuk tanpa diminta.
Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi suami merasa dikontrol.
B. Mengeluhkan suami di hadapan orang lain.
C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)

Selama berumah tangga, milikilah komitmen-komitmen ini:
1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).
4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)
5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

10 Hukum Pernikahan Bahagia:

  1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)
  2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)
  3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)
  4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)
  5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)
  6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)
  7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)
  8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. ( Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)
  9. Bersedia mengakui kesalahan. ( I Yohanes 1:9)
  10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita ” I LOVE YOU ” biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita.

Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

not for granted

Advertisements
25

Bride to be, remember…

Marriage is a hardwork.

Jangan hanya bayangkan pesta, canda tawa, gaun cantik, senyum sumringah di foto prewedding, cake tinggi sampai ke langit-langit, dekorasi indah dan puji-pujian ucapan selamat dari teman-teman

Banyak yang hanya sibuk mempersiapkan wedding, but not their marriage.

Pesta kawin lo cuma awal doang, mak. Jangan sampai lupa. Jangan sampai salah berekspektasi. Setelah itu hidup lo bukan tirai yang ditutup dan muncul ‘And they live happily ever after’.

Kalau saat ini ada hal-hal yang mengganjal di hati lo tentang calon suami, talk it out. Communicate. Jangan berharap setelah nikah dia akan berubah dengan sendirinya.

Kalau saat ini dia udah beberapa kali ke’gap selingkuh ato flirting-flirting sama cewek lain, tanya ke diri lo sendiri dengan jujur: lo bisa terima ga kalau itu terulang lagi? Jangan sampai sekarang lo maafin trus menganggap bahawa setelah nikah dia bakal otomatis langsung sadar bahwa dia udah jadi suami orang, udah ga boleh main mata ama cewek lain. Iya, syukur-syukur dia punya kesadaran begitu. Kalau kaga? Mau cerai? Mau merem aja pura-pura ga liat dia flirting sama yang lain?

Kalau saat ini dia bisa bentak-bentak lo, ngatain lo secara kasar hanya karena hal sepele, ato lempar-lempar, banting-banting barang pas marah, berhati-hatilah. Apalagi kalau dia udah bisa mukul lo karena emosi. Putusin aja. Jangan bermimpi setelah nikah dia ga akan begitu lagi. It would only get worse.

Intinya, menikah is not the solution of your problems.

“Yang penting nikah dulu.”  Seriously??

Meskipun kalian udah dirongrong semua orang untuk nikah, meskipun dunia udah tau kalau kalian lagi mempersiapkan pernikahan, inget, yang akan merasakan sulitnya, capeknya, dan sakit hatinya itu kalian kalau sampai pernikahan kalian bermasalah. Bukan mereka yang bertanya-tanya dan memaksa kalian nikah. Bukan mereka yang mengggosipkan kalian kalau sampai batal nikah.

Kalau saat ini ada masalah dalam hubungan ya dibicarakan, dicari dulu solusinya. Menikah sambil membawa permasalahan dalam hubungan lalu berharap pernikahan bisa jadi fairy godmother yang menyulap permasalahan jadi hilang itu: goblok.

Yes, bodoh banget.

Kalau udah mengkomunikasikan permasalahan, obrolin sampai ada solusi yang benar-benar disepakati kedua belah pihak. Jangan sampai keduanya ngotot-ngototan, akhirnya pembahasan ngegantung, solusi ga jelas, masing-masing masih merasa maunya mereka yang bener, trus nikah.

Abis nikah? Ya lanjut berantem lagi untuk permasalahan yang sama. Bedanya, kali ini ga bisa seenaknya mau pisah. Ya masa mau bilang sama orang “Iya nih gue cerai karena suami ngotot mau begini sementara gue dari dulu udah bilang mau begitu.”

Lah ya iya, udah dari dulu tau dia mau A, lo mau B, trus kenapa baru sekarang dijadiin alasan buat pisah?

Buat kalian yang belum menikah atau baru mau menikah, think about this seriously. Komunikasikan semua visi misi, semua pandangan kalian terhadap orang tua, anak, rencana karir, finansial.

Kenalilah pasangan kalian sebaik-baiknya. Semantap-mantapnya. Perhatikan cara dia berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya.

Kalau dia bisa bentak mamanya, pasti kalian juga bakal dibentak-bentak. Sekarang belum? Nanti pasti akan terjadi. Lah emaknya yang udah mengenal dia dari awal terbentuk dan ngerawat dia sekian lama aja dibentak. Apalagi kalian? Yang baru masuk ke dalam kehidupannya gak lama, gak nyekolahin dia, ga mesti bersihin kotoran dia pas pup, ga mempertaruhkan nyawa untuk ngelahirin dia?

Kalau gue boleh bikin perandaian, ibaratnya jangan sampai kalian udah ngerasain air danau dingin, lalu tetep memutuskan terjun. Pas udah sampe tengah-tengah, malah teriak-teriak kedinginan, jerit-jerit airnya bikin kalian beku, dan mau balik ke darat.

Udah telat.

Jadi, kenalilah calon suami sebaik-baiknya. Komunikasikan berdua semua hal/masalah yang masih mengganjal di hati kalian.

Pilihannya ada di kalian, mau menikmati air danau itu dan menyadari bahwa lama-lama terasa segar, terus-terusan meratapi dinginnya yang menyiksa kulit, atau justru… pasrah dan tenggelam?

ce488b4f8954d07d8f826989f330373c

P.S.: Mohon maaf kalau gue yang baru nikah 2 bulan ini terkesan menggurui ato sok-sokan. Postingan ini dibuat untuk mengingatkan gue sendiri juga ^^ (walaupun tujuan awalnya karena gemes sama beberapa orang) 😛