38

It Takes Two To Tango

Belum lama ini Ninie share video di Path, video itu dibuat oleh seorang perempuan yang curhat bahwa dia dipoligami oleh suaminya. Tanpa suara, tanpa menunjukkan keseluruhan wajahnya karena menggunakan hijab bercadar, dia menunjukkan potongan-potongan kertas berisikan tulisan curhatannya.

Gue bersimpati banget sama perempuan ini.

Banget.

Sampai… di akhir video, dia menunjukkan nama akun instagramnya. Di akun itu, banyak foto selfie tanpa cadar. Ada foto anak-anaknya. Ada nama lengkap anak-anaknya. Kita bisa tau siapa suaminya, kayak apa suaminya, siapa istri kedua suaminya dan kayak apa si istri kedua ini.

Dan gue… malah jadi ilfil.

At first, I thought she was hiding her identity. I thought she was trying to tell people her story, without showing personal information.

Ternyata ngga. Dia membuka aib keluarganya untuk diketahui publik. Dia membuat video yang memuat identitas pribadinya, dengan resiko video tersebut bisa goes viral (atau apakah memang tujuannya seperti itu?).

Begitu video dia hits facebook, komen-komen beragam di facebook langsung bermunculan. Tentu saja, kebanyakan perempuan. Mungkin karena perempuan lebih merasa bisa relate dengan curhatan si Mbak A ini. Dan mayoritas perempuan, tentu saja, bersimpati dengan Mbak A. Mayoritas menghujat si suami. Banyak yang share video dia, dan asumsi gue, sharing tersebut dilakukan untuk menjeritkan, “Hei laki-laki, lihat nih, gak ada bagus-bagusnya poligami. Cuma bikin perempuan sengsara. Tengoklah ini teman kami, korban malang dari poligami. Jangan perlakukan istri kalian seperti itu.”

Perempuan mana yang rela dipoligami? Perempuan mana yang bisa benar-benar dengan ikhlas berbagi suami?

Tapi pertanyaan lain gue, siapa yang bisa senang kalau aib keluarganya digunjingkan khalayak ramai? Dijadikan bisik-bisik tetangga aja, kita udah ga seneng. Apalagi jadi omongan orang seindonesia? Mungkin ada di antara kita yang ternyata adalah temen SD kakaknya Mbak A. Atau temen main catur bapaknya suami Mbak A. Atau teman arisan ibunya si istri kedua. Semuanya… jadi tau.

Sekali lagi, meskipun gue kasian sama Mbak A, tapi video itu somehow malah bikin gue ilfil. That’s probably just me, though. Gue rasa, banyak yang ga setuju sama gue.

Anyway, gue bikin postingan ini bukan buat ngasitau kalau gue ilfil sama video mbak A.

Tapi karena… banyak sekali perempuan yang terbutakan oleh penderitaan mbak A, dan menutup mata terhadap apa yang MUNGKIN terjadi di balik tirai rumah tangganya.

Maaf, penggunaan bahasanya mulai drama abis ye. Hahahaha 😛

Salah satu perempuan yang komen di facebook, sebut saja dia mbak X, menyuarakan pendapat dia yang merasa bahwa ada hukum SEBAB AKIBAT dalam pernikahan. Walaupun dia tidak mendukung poligami, tapi menurut dia, barangkali ada sesuatu dari Mbak A yang menjadi penyebab suaminya berpoligami. (Dalam komen itu, dia berpendapat penyebabnya mungkin karena Mbak A yang menuntut ilmu di luar kota ampe bikin si Mbak A LDR sama suaminya).

Trus ada perempuan-perempuan yang langsung menyerang si Mbak X. Bahkan ada yang terkesan mengatakan bahwa mungkin mbak X harus merasakan dipoligami dulu baru bisa ngerti apa yang dirasakan oleh Mbak A.

LAH.

LAH????

Gue langsung gemets abis. Padahal, menurut gue, Mbak X ini ada benarnya juga loh. Bukan berarti kita ini mendukung suami si Mbak A untuk berpoligami, atau membenarkan poligami. Bukan juga merasa wajar aja kalau suaminya poligami, soalnya dia LDR an sihhh. Bukan, bukan begitu.

Seringkali kita merasa geram sama perlakuan laki-laki terhadap sesama kita yang perempuan. Tapi kita lupa, setiap permasalahan, apalagi rumah tangga orang lain, pasti punya cerita lebih lengkap dan detail di baliknya.

Selalu ada dua sisi dari sebuah koin.

Kalau gue misalkan cerita soal permasalahan rumah tangga gue ke temen gue, kemungkinan besar, teman gue akan menangkap kesan bahwa koko lah yang udah menyakiti gue. Koko yang salah. Soalnya, gue menceritakan versi gue.

Seandainya koko juga cerita ke temen-temennya, maka mungkin, temen koko akan merasa bahwa yang salah itu justru gue.

Because we tend to tell our story with us as the victim.

Yaiyalah. Siapa yang mau jadi tokoh antagonis? Kalau kita curhat, pasti kita yang jadi korbannya. Pasangan yang jadi orang jahat alias villain nya. Misalnya (ini misalkan loh ya, amit-amit banget choi choi choi) gue cerita kalau koko kemarin ngomel-ngomel sama gue, marahin gue babi, bilang gue tolol, ngatain gue istri ga becus. Temen-temen gue syok. Ih ternyata si koko jahat banget. Kasar banget. Tega banget sama istrinya.

Tapi… Mungkin gue ga cerita bahwa sebelum koko ngomel-ngomel itu, gue belanjain uang kebutuhan rumah sampe ngutang sama orang lain buat beli senter penghilang lemak samcan seharga belasan juta rupiah. Gue ga cerita ke temen-temen gue, kalau gue ngatain koko sebagai suami yang payah, suami yang ga bisa menghasilkan uang banyak.

Gue ga cerita itu, mungkin bukan karena gue menyembunyikan fakta. Tapi karena gue fokus sama apa yang gue rasain setelah diomelin koko, gue fokus sama sakit hatinya gue setelah dibilang babi dan tolol, gue cuma inget betapa sedih dan kecewanya gue dikatain istri ga becus. Jadi itulah yang gue curhatin ke temen-temen gue.

Gue lupa, kalau sebenernya, tindakan dan perkataan gue juga salah. Gue ga sadar, koko mungkin sakit hati banget pas dikatain suami payah. Gue ga sadar, koko kecewa sama gue yang menyalahgunakan kepercayaan dia. Gue lupa cari apa sebabnya, sampai-sampai bisa berakibat koko ngeluarin omongan sekasar itu.

Temen emak gue, ada yang terlalu perhatian ke anak sampe-sampe suaminya lupa diperhatiin. Akhirnya suami selingkuh. Istri ngamuk dan bilang suami jahat banget padahal dia udah ngurusin rumah dan anak dengan sebaik-baiknya.

Waktu gue denger cerita itu, gue pikir, ih kok jahat banget suaminya. Brengsek banget. Setelah gue makin gede, gue baru tau kalau si istri selalu punya segudang alesan untuk menolak saat diajak bercinta sama suaminya. Suaminya pulang kantor dan cerita tentang kegiatan dia, si istri selalu sibuk sama anak dan urusan rumah, ga sempet ngedengerin suami. Terkadang malah mencemooh atau menganggap remeh cerita suaminya. Membuat suaminya merasa gak dihargai.

Waduh. Gue pikir, berarti yang salah istrinya dong? Saat gue semakin gede lagi (alias sekarang), gue sadar… yang salah ya dua-duanya.

Suaminya salah karena memilih selingkuh, padahal ada pilihan untuk membicarakan permasalahan ini berdua dengan istrinya, cari solusi sama-sama. Istri pun salah karena tidak membagi perhatiannya dengan berimbang, lupa untuk memberikan perhatian yang seharusnya diterima suaminya, lupa untuk mengkomunikasikan permasalahan dia atau capenya dia ke suaminya.

Dulu, saat mendengarkan cerita orang lain, gue pernah menjadi seperti perempuan yang menyerang Mbak X. Saat ada orang baik yang mau mencoba membukakan mata gue untuk melihat bahwa there’s a bigger picture, gue menuding orang itu ga bersimpati sama masalahnya si korban. Gue bersikukuh pokoknya si korban itu korban yang sangat malang dan tak bersalah. Yang salah itu si orang jahatnya karena udah menjahati dia.

Padahal? Ya belum tentu.

Kalau balik lagi ke video tadi, gue sadar bahwa memang ada orang-orang tertentu yang tetep aja selingkuh padahal pasangannya udah sempurna, pengertian dan perhatian banget.

But oh well… Most of the time, it takes two to tango.

3

Random ranting: Selingkuh

Udah beberapa bulan belakangan ini sering ngeliat temen posting di facebook video youtube yang isinya: Ibu-ibu yang ngejambak ato mukulin selingkuhan suaminya di tengah jalan (lalu direkam oleh orang sekitar).

Ada satu video dimana suaminya si ibu itu sibuk ngelindungin selingkuhannya, dan yang ibu itu lakukan adalah terus fokus berusaha mukulin selingkuhan suaminya. Suaminya ngehalau pake tangan, si ibu tetep merangsek berusaha nabokin kepala si selingkuhan. Suaminya meluk selingkuhan, si ibu berusaha jambak rambut mbak selingkuhan.

Despite of how psycho it might be, I actually find guilty pleasure seeing that. Somehow I think, that woman deserves that. Salah sendiri main ama laki orang. Resiko lo lah itu buat dijambakin.

Tapi sejujurnya, gue pernah bilang ke koko bahwa menurut gue, sesalah-salahnya tuh perempuan (ini hanya untuk kasus dimana si perempuan tau ya kalau pasangannya itu suami orang, bukan perempuan yang ditipu pria yang ngaku-ngaku single) …tetep aja YANG PALING SALAH ITU YA SI LAKI-LAKI. (ato perempuan, tergantung ini yang selingkuh si istri apa suami? Lol) 😀

Karena yang punya komitmen kan si laki-laki. Yang udah punya istri kan si laki-laki. Yang berjanji bilang mau mencintai istrinya dalam susah senang dalam suka duka kan si laki-laki.

Dalam hidup gue, gue udah sering banget denger cerita temen-temen nyokap ato sanak sodara yang ngelabrak selingkuhan suaminya (and do some violent things to her of course) tapi ga ngapa-ngapain suaminya. Gue selalu ngerasa itu aneh. Bok, yang melanggar komitmen lo berdua kan suami lo? Kalo mau marah ya harusnya paling marah sama si suami dong? Kenapa suami lo cuma kena omel-omelan doang tapi selingkuhanya kena jambak dan kena pukul pake platform highheels lo?

Menyalahkan selingkuhan suami begitu ibaratnya kayak lo nyium bau indomie goreng yang dimakan sama temen lo, trus lo jadi kalap makan indomie goreng 2 bungkus, yang berakibat lo gagal diet, lalu lo tabokin temen lo karena udah ‘menggoda‘ lo dengan wangi indomie goreng. (postingan ini dibuat sore-sore dalam keadaan mendung, jadi yaaahhh itulah kenapa perumpamaannya indomie, mehehehe) 😀

Anyway.. YA GAK GITU JUGA KAN BOK?

Itu adalah alasan kenapa gue bilang ke koko, seandainya one day dia ketahuan selingkuh, berarti dia secara sadar MEMILIH untuk melanggar komitmen dia. MEMILIH untuk mengalah pada nafsu. MEMILIH untuk berhubungan dengan perempuan lain yang gue anggap berarti LEBIH BAIK dari gue. Dengan kata lain berarti dia udah sadar akibat dan resiko dari pilihannya, tapi tetep MEMILIH UNTUK BERBUAT demikian. Dan dengan tegas gue bilang ke koko, kalau udah ketahuan begitu, putus aja ya. Ga usah wasting my time nor your time untuk minta maaf bilang khilaf, untuk memohon dikasih kesempatan.

Keren kan gue? Keren dong.

Naahh tapi yang lagi gue pikirin sekarang adalah, kalau kejadian itu terjadi setelah menikah, then HOW?

Harus gimana kalau ternyata suatu hari si suami khilaf? Harus gimana memaafkan dan menerima dia kembali setelah dia jelas-jelas bobok sama perempuan lain? Harus gimana biar ga jijik dicium ama dia setelah tau kalau that same and exact lips udah nyium perempuan lain?

I guess that’s why beberapa ibu-ibu melampiaskan semua rasa marahnya pada si selingkuhan. Mungkin karena mereka masih mau mempertahankan rumah tangganya. Mungkin lebih gampang untuk menganggap bahwa yang salah itu ya si selingkuhan, salah lo ngegodain suami gue! Kalo bukan karena lo ngegodain, suami gue ga bakal selingkuh! Jadi semuanya gara-gara lo!

Mungkin… meski dia merasa marah, jijik dan kecewa, tapi masih ada komitmen yang harus dia jaga. Komitmen yang meskipun udah dinodai (halah bahasa gue) kelakuan suaminya, tapi dia has no other way selain berusaha memaafkan dan melanjutkan komitmen tersebut.

Bisa dibilang postingan ini gue bikin setelah mendengar cerita temen gue (cewe dan yes she’s the one who did the sin), lalu gue jadi merenungi what if one day I caught koko red-handed having an affair? What if one day he cheated on me? What if?

Will I… Will I be strong enough?

Honestly, sampai sekarang gue sendiri ga tau gue akan gimana. Satu sisi gue rasa gue ga akan bisa bersikap biasa lagi ke dia. Sisi lain, ‘divorce’ should never be in my mind. Lalu, harus gimana menjalankan pernikahan yang ga nyaman seperti itu?

Hffttthhhhhh. *beli dua single bed buat gantiin double bed* 😀

Sebenarnya ini adalah salah satu kebiasaan super jelek gue. Membayangkan lalu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, lalu kadang jadi galau/kesel sendiri. Goblok memang.

Well…. but I guess I just need to have faith.

Bahwa orang yang gue pilih adalah orang yang setia. Orang yang akan mengutamakan komitmennya dengan gue. Orang yang ga bakal dengan mudah tergoda oleh wanita (maupun laki-laki!) lain.

Dan semoga gue… juga sama berkomitmennya. 🙂

cheating-isnt-a-mistake-it-is-a-choice-quote-1