38

ÔĽŅMenikah=Happy?

Gue suka senyum-senyum sendiri setiap kali ngeliat perempuan yang ngebet banget mau menikah padahal pasangannya belum ada.

Seakan menikah menjadi tujuan utama dalam hidup, kalau menikah maka lengkaplah sudah.

Kalau menikah, maka bahagia.

Padahal, kalo menurut gue, menikah itu cuma status. Apa yang lebih penting dari menikah?

MENIKAH SAMA SIAPA.

Itu, yang paling utama dan paling penting. Menurut gue.

Kehidupan pernikahan keliatan indah dan penuh cinta menye-menye karena banyak film dan novel menggambarkan demikian. Karena banyak status dan postingan di social media menggambarkan demikian. Kalopun berantem sama suami, tar bakal baikan juga ujung-ujungnya sambil berpelukan mesra ato saling towel-towel unyu.

Padahal prakteknya, untuk menahan ego itu tidak mudah. Untuk menekan emosi itu ga gampang. Kalau mood lagi enak sih, gampiiillll. Pasangan ngoceh-ngoceh bisa kita becandain. Pasangan ngomel-ngomel bisa kita godain “Apa sih papihhh/mamihhh, ngomel-ngomel muluw tar cepet keriputan lohhh, sini aku cium dulu uwuwuwuwu mmuaahhh.”

Tapi kalo kita lagi sensi, suami juga lagi puyeng banyak masalah di kerjaan, duileh sekedar buka mulut bilang sepatah kata aja bisa bikin perang dunia. Pasangan cuma napas aja bisa bikin kita kesel kali, bawaannya pengen ngomel.*lol lebay*

Belum kalau ada masalah-masalah lain yang lebih besar dan lebih berat. Ga cocok sama mertua, sering berantem sama ipar, masalah finansial, ga bisa punya anak dan saling menyalahkan, punya anak tapi bermasalah secara kesehatan, masalah seksual, dll dst dsb. Hal-hal yang bikin kita harus punya banyak stok sabar dan kekuatan untuk terus mempertahankan komitmen kita. Hal-hal yang bikin kita pengen pisah atau ngajuin surat cerai ke pengadilan. Kok tiba-tiba rasanya enakan sebelum nikah. Ato nikah sama orang lain.

Bayangkan kalau kita menikah dengan orang yang sedapetnya aja. Sing penting kewong. Sing penting di atas pelaminan jadi pengantin, senyum dadah-dadah sama temen-temen lain dan dipuji-puji cantik di hari H. Sing penting ga ditanyain lagi kapan kawin.

Trus di hari-hari selanjutnya setelah hari H, syok kok pasangan kita ternyata orangnya begini. Kok begitu. Kok ga bisa diajak kerja sama. Kok diomongin ga ngerti-ngerti. Kok dikasitau dikit langsung emosi lempar asbak. Kok kok kok….

Temen gue ada yang awal tahun 2016 kemaren ini, minta didoakan agar dia bisa segera menikah di tahun 2016. Padahal, per bulan Februari 2106, dia masih jomblo. Hahahaha. (sampai sekarang pun masih)

Buat gue itu lucu karena kalau gue pribadi ya, maunya dapet pasangan dulu. Ketemu dulu sama orang yang pas. Orang yang bikin gue merasa gue mau menikah sama dia. Yang bikin gue mantap untuk mengambil keputusan menghabiskan waktu bersama dia sampai maut memisahkan. Yang bikin gue mau berkomitmen untuk setia dengan dia sampai tua dalam suka maupun duka.

Udah dapet orangnya, baru menikah.

Udah dapet pasangan yang menurut kita pas dan cocok dan sreg aja belum tentu bisa membuat pernikahan jadi lebih mudah dijalani.

Karena menikah itu memang bisa membuat kita merasa lengkap dan bahagia, kalau kita menikah dengan orang yang sama-sama mau mengusahakan kebahagiaan tersebut.

Kalau kita dapat pasangan yang sama-sama mau saling menyenangkan dan saling mendukung satu sama lain, tidak menikah aja bahagia kok ūüôā

Jadi jangan menjadikan status menikah sebagai jaminan kebahagiaan.

Nikah itu gampang.

Seandainya menikah itu seperti mengarungi lautan, maka naik ke atas kapal itu gampang.

Tapi pasangan buat kita mengarungi lautan bersama, mau yang seperti apa? Kalau pake prinsip siapa-aja-boleh-yang-penting-gue-naik-kapal, maka siap-siap aja pas ada badai, kita ga bisa bekerja sama dengan baik. Saling tuding-tudingan. Ato malah yang satu ongkang kaki, satunya disuruh usaha sendirian. Ato rebutan mau pegang kemudi.

Akhirnya… ya tenggelam deh kapalnya.

Trus setelah itu, nyalahin pasangan ato kapalnya. Lupa, kalau tadinya kita yang ngebet mau naik kapal karena merasa mengarungi lautan itu perjalanan yang bakal indah terus-menerus. Lupa, kalau dalam setiap perjalanan, pasti ada kalanya lautan tenang dan ada juga masa badai mengamuk.

Lupa, kalau apa yang ditampilkan teman-teman di sosial media, bukan gambaran lengkap dari perjalanan pernikahannya ūüôā

P.S. Sebuah postingan untuk seorang teman.

 

38

It Takes Two To Tango

Belum lama ini Ninie share video di Path, video itu dibuat oleh seorang perempuan yang curhat bahwa dia dipoligami oleh suaminya. Tanpa suara, tanpa menunjukkan keseluruhan wajahnya karena menggunakan hijab bercadar, dia menunjukkan potongan-potongan kertas berisikan tulisan curhatannya.

Gue bersimpati banget sama perempuan ini.

Banget.

Sampai… di akhir video, dia menunjukkan nama akun instagramnya. Di akun itu, banyak foto selfie tanpa cadar. Ada foto anak-anaknya. Ada nama lengkap anak-anaknya. Kita bisa tau siapa suaminya, kayak apa suaminya, siapa istri kedua suaminya dan kayak apa si istri kedua ini.

Dan gue… malah jadi ilfil.

At first, I thought she was hiding her identity. I thought she was trying to tell people her story, without showing personal information.

Ternyata ngga. Dia membuka aib keluarganya untuk diketahui publik. Dia membuat video yang memuat identitas pribadinya, dengan resiko video tersebut bisa goes viral (atau apakah memang tujuannya seperti itu?).

Begitu video dia hits facebook, komen-komen beragam di facebook langsung bermunculan. Tentu saja, kebanyakan perempuan. Mungkin karena perempuan lebih merasa bisa relate dengan curhatan si Mbak A ini. Dan mayoritas perempuan, tentu saja, bersimpati dengan¬†Mbak A. Mayoritas menghujat si suami. Banyak yang share video dia, dan asumsi gue, sharing tersebut dilakukan untuk¬†menjeritkan, “Hei laki-laki, lihat nih, gak ada bagus-bagusnya poligami. Cuma bikin perempuan sengsara. Tengoklah ini teman kami, korban malang dari poligami. Jangan perlakukan istri kalian seperti itu.”

Perempuan mana yang rela dipoligami? Perempuan mana yang bisa benar-benar dengan ikhlas berbagi suami?

Tapi pertanyaan lain gue, siapa yang bisa¬†senang kalau aib keluarganya digunjingkan khalayak ramai? Dijadikan bisik-bisik tetangga aja, kita udah ga seneng. Apalagi jadi omongan orang seindonesia?¬†Mungkin ada di antara kita yang ternyata adalah temen SD kakaknya Mbak A. Atau temen main catur bapaknya suami Mbak A. Atau teman arisan ibunya si istri kedua. Semuanya… jadi tau.

Sekali lagi, meskipun gue kasian sama Mbak A, tapi video itu somehow¬†malah bikin gue ilfil. That’s probably just me, though.¬†Gue rasa, banyak yang ga setuju sama gue.

Anyway, gue bikin postingan ini bukan buat ngasitau kalau gue ilfil sama video mbak A.

Tapi karena… banyak sekali perempuan yang terbutakan oleh penderitaan mbak A, dan menutup mata terhadap apa yang MUNGKIN terjadi di balik tirai rumah tangganya.

Maaf, penggunaan bahasanya mulai drama abis ye. Hahahaha ūüėõ

Salah satu perempuan yang komen di facebook, sebut saja dia mbak X, menyuarakan pendapat dia yang merasa bahwa ada hukum SEBAB AKIBAT dalam pernikahan. Walaupun dia tidak mendukung poligami, tapi menurut dia, barangkali ada sesuatu dari Mbak A yang menjadi penyebab suaminya berpoligami. (Dalam komen itu, dia berpendapat penyebabnya mungkin karena Mbak A yang menuntut ilmu di luar kota ampe bikin si Mbak A LDR sama suaminya).

Trus ada perempuan-perempuan yang langsung menyerang si Mbak X. Bahkan ada yang terkesan mengatakan bahwa mungkin mbak X harus merasakan dipoligami dulu baru bisa ngerti apa yang dirasakan oleh Mbak A.

LAH.

LAH????

Gue langsung gemets abis. Padahal, menurut gue, Mbak X ini ada benarnya juga loh. Bukan berarti kita ini mendukung suami si Mbak A untuk berpoligami, atau membenarkan poligami. Bukan juga merasa wajar aja kalau suaminya poligami, soalnya dia LDR an sihhh. Bukan, bukan begitu.

Seringkali kita merasa geram sama perlakuan laki-laki terhadap sesama kita yang perempuan. Tapi kita lupa, setiap permasalahan, apalagi rumah tangga orang lain, pasti punya cerita lebih lengkap dan detail di baliknya.

Selalu ada dua sisi dari sebuah koin.

Kalau gue misalkan cerita soal permasalahan rumah tangga gue ke temen gue, kemungkinan besar, teman gue akan menangkap kesan bahwa koko lah yang udah menyakiti gue. Koko yang salah. Soalnya, gue menceritakan versi gue.

Seandainya koko juga cerita ke temen-temennya, maka mungkin, temen koko akan merasa bahwa yang salah itu justru gue.

Because we tend to tell our story with us as the victim.

Yaiyalah. Siapa yang mau jadi tokoh antagonis? Kalau kita curhat, pasti kita yang jadi korbannya. Pasangan yang jadi orang jahat alias villain nya. Misalnya (ini misalkan loh ya, amit-amit banget choi choi choi) gue cerita kalau koko kemarin ngomel-ngomel sama gue, marahin gue babi, bilang gue tolol, ngatain gue istri ga becus. Temen-temen gue syok. Ih ternyata si koko jahat banget. Kasar banget. Tega banget sama istrinya.

Tapi… Mungkin gue ga cerita bahwa sebelum koko ngomel-ngomel itu, gue belanjain uang¬†kebutuhan¬†rumah sampe ngutang sama orang lain buat beli senter penghilang¬†lemak samcan seharga belasan juta rupiah. Gue ga cerita ke temen-temen gue, kalau¬†gue ngatain koko¬†sebagai suami yang payah, suami yang ga bisa menghasilkan uang banyak.

Gue ga cerita itu, mungkin bukan karena gue menyembunyikan fakta. Tapi karena gue fokus sama apa yang gue rasain setelah diomelin koko, gue fokus sama sakit hatinya gue setelah dibilang babi dan tolol, gue cuma inget betapa sedih dan kecewanya gue dikatain istri ga becus. Jadi itulah yang gue curhatin ke temen-temen gue.

Gue lupa, kalau sebenernya, tindakan dan perkataan gue juga salah. Gue ga sadar, koko mungkin sakit hati banget pas dikatain suami payah. Gue ga sadar, koko kecewa sama gue yang menyalahgunakan kepercayaan dia. Gue lupa cari apa sebabnya, sampai-sampai bisa berakibat koko ngeluarin omongan sekasar itu.

Temen emak gue, ada yang terlalu perhatian ke anak sampe-sampe suaminya lupa diperhatiin. Akhirnya suami selingkuh. Istri ngamuk dan bilang suami jahat banget padahal dia udah ngurusin rumah dan anak dengan sebaik-baiknya.

Waktu gue denger cerita itu, gue pikir, ih kok jahat banget suaminya. Brengsek banget. Setelah gue makin gede, gue baru tau kalau si istri selalu punya segudang alesan untuk menolak saat diajak bercinta sama suaminya. Suaminya pulang kantor dan cerita tentang kegiatan dia, si istri selalu sibuk sama anak dan urusan rumah, ga sempet ngedengerin suami. Terkadang malah mencemooh atau menganggap remeh cerita suaminya. Membuat suaminya merasa gak dihargai.

Waduh. Gue pikir, berarti yang salah istrinya dong? Saat gue semakin gede lagi (alias sekarang), gue sadar… yang salah ya dua-duanya.

Suaminya salah karena memilih selingkuh, padahal ada pilihan untuk membicarakan permasalahan ini berdua dengan istrinya, cari solusi sama-sama. Istri pun salah karena tidak membagi perhatiannya dengan berimbang, lupa untuk memberikan perhatian yang seharusnya diterima suaminya, lupa untuk mengkomunikasikan permasalahan dia atau capenya dia ke suaminya.

Dulu, saat¬†mendengarkan cerita orang lain, gue¬†pernah menjadi seperti perempuan¬†yang menyerang Mbak X. Saat ada orang baik yang mau mencoba membukakan mata gue¬†untuk melihat bahwa there’s a bigger picture,¬†gue menuding orang itu ga bersimpati sama masalahnya si korban. Gue bersikukuh pokoknya si korban itu korban yang sangat malang dan tak bersalah. Yang salah itu si orang jahatnya karena udah menjahati dia.

Padahal? Ya belum tentu.

Kalau balik lagi ke video tadi, gue sadar bahwa memang ada orang-orang tertentu yang tetep aja selingkuh padahal pasangannya udah sempurna, pengertian dan perhatian banget.

But oh well… Most of the time, it takes two to tango.