25

Bride to be, remember…

Marriage is a hardwork.

Jangan hanya bayangkan pesta, canda tawa, gaun cantik, senyum sumringah di foto prewedding, cake tinggi sampai ke langit-langit, dekorasi indah dan puji-pujian ucapan selamat dari teman-teman

Banyak yang hanya sibuk mempersiapkan wedding, but not their marriage.

Pesta kawin lo cuma awal doang, mak. Jangan sampai lupa. Jangan sampai salah berekspektasi. Setelah itu hidup lo bukan tirai yang ditutup dan muncul ‘And they live happily ever after’.

Kalau saat ini ada hal-hal yang mengganjal di hati lo tentang calon suami, talk it out. Communicate. Jangan berharap setelah nikah dia akan berubah dengan sendirinya.

Kalau saat ini dia udah beberapa kali ke’gap selingkuh ato flirting-flirting sama cewek lain, tanya ke diri lo sendiri dengan jujur: lo bisa terima ga kalau itu terulang lagi? Jangan sampai sekarang lo maafin trus menganggap bahawa setelah nikah dia bakal otomatis langsung sadar bahwa dia udah jadi suami orang, udah ga boleh main mata ama cewek lain. Iya, syukur-syukur dia punya kesadaran begitu. Kalau kaga? Mau cerai? Mau merem aja pura-pura ga liat dia flirting sama yang lain?

Kalau saat ini dia bisa bentak-bentak lo, ngatain lo secara kasar hanya karena hal sepele, ato lempar-lempar, banting-banting barang pas marah, berhati-hatilah. Apalagi kalau dia udah bisa mukul lo karena emosi. Putusin aja. Jangan bermimpi setelah nikah dia ga akan begitu lagi. It would only get worse.

Intinya, menikah is not the solution of your problems.

“Yang penting nikah dulu.”  Seriously??

Meskipun kalian udah dirongrong semua orang untuk nikah, meskipun dunia udah tau kalau kalian lagi mempersiapkan pernikahan, inget, yang akan merasakan sulitnya, capeknya, dan sakit hatinya itu kalian kalau sampai pernikahan kalian bermasalah. Bukan mereka yang bertanya-tanya dan memaksa kalian nikah. Bukan mereka yang mengggosipkan kalian kalau sampai batal nikah.

Kalau saat ini ada masalah dalam hubungan ya dibicarakan, dicari dulu solusinya. Menikah sambil membawa permasalahan dalam hubungan lalu berharap pernikahan bisa jadi fairy godmother yang menyulap permasalahan jadi hilang itu: goblok.

Yes, bodoh banget.

Kalau udah mengkomunikasikan permasalahan, obrolin sampai ada solusi yang benar-benar disepakati kedua belah pihak. Jangan sampai keduanya ngotot-ngototan, akhirnya pembahasan ngegantung, solusi ga jelas, masing-masing masih merasa maunya mereka yang bener, trus nikah.

Abis nikah? Ya lanjut berantem lagi untuk permasalahan yang sama. Bedanya, kali ini ga bisa seenaknya mau pisah. Ya masa mau bilang sama orang “Iya nih gue cerai karena suami ngotot mau begini sementara gue dari dulu udah bilang mau begitu.”

Lah ya iya, udah dari dulu tau dia mau A, lo mau B, trus kenapa baru sekarang dijadiin alasan buat pisah?

Buat kalian yang belum menikah atau baru mau menikah, think about this seriously. Komunikasikan semua visi misi, semua pandangan kalian terhadap orang tua, anak, rencana karir, finansial.

Kenalilah pasangan kalian sebaik-baiknya. Semantap-mantapnya. Perhatikan cara dia berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya.

Kalau dia bisa bentak mamanya, pasti kalian juga bakal dibentak-bentak. Sekarang belum? Nanti pasti akan terjadi. Lah emaknya yang udah mengenal dia dari awal terbentuk dan ngerawat dia sekian lama aja dibentak. Apalagi kalian? Yang baru masuk ke dalam kehidupannya gak lama, gak nyekolahin dia, ga mesti bersihin kotoran dia pas pup, ga mempertaruhkan nyawa untuk ngelahirin dia?

Kalau gue boleh bikin perandaian, ibaratnya jangan sampai kalian udah ngerasain air danau dingin, lalu tetep memutuskan terjun. Pas udah sampe tengah-tengah, malah teriak-teriak kedinginan, jerit-jerit airnya bikin kalian beku, dan mau balik ke darat.

Udah telat.

Jadi, kenalilah calon suami sebaik-baiknya. Komunikasikan berdua semua hal/masalah yang masih mengganjal di hati kalian.

Pilihannya ada di kalian, mau menikmati air danau itu dan menyadari bahwa lama-lama terasa segar, terus-terusan meratapi dinginnya yang menyiksa kulit, atau justru… pasrah dan tenggelam?

ce488b4f8954d07d8f826989f330373c

P.S.: Mohon maaf kalau gue yang baru nikah 2 bulan ini terkesan menggurui ato sok-sokan. Postingan ini dibuat untuk mengingatkan gue sendiri juga ^^ (walaupun tujuan awalnya karena gemes sama beberapa orang) 😛

9

After the wedding

Holla! I’m a married woman now! LOL.

Semuanya masih berasa surreal di beberapa hari pertama. Mungkin karena persiapan untuk hari H ini sendiri dilakukan selama setahun, dan begitu hari H itu akhirnya tiba…. Kok rasanya sehari itu cepet banget! 😀

In a blink of an eye, udah kelar aja pemberkatan dan resepsinya. Gue kayak auto-pilot gitu seharian, tau-tau pokoknya udah di restoran yang agak gelap karena lampu-lampunya uda dimatiin, liat jam udah jam 22.00 lewat, dan gue ama keluarga udah siap-siap untuk pulang.

Lah jadi udah kelar nih? Gini doang? Gue bahkan belum nyobain green tea ice cream di pondokan resepsi gue sendiri! LOL 😀 *yakeleus*

Dan besokannya, pas bangun, masih berasa aneh gitu. I felt like yesterday was just a dream. Are you sure that the guy sleeping next to me is really my husband now? Huahahahaha.

Anyway, puji Tuhan banget semuanya berjalan dengan cukup lancar. Pemberkatannya berjalan dengan cukup baik, we said our wedding vow flawlessly. Gue dan koko, sambil saling menatap dan sambil mau nangis terharu gitu, ngucapin janji nikah like we were in our own world, where everyone else seemed like blurred. All we can see was our other half, standing in front of us, eyes to eyes.

It was such a beautiful moment 🙂

Dan setelah pemberkatan gereja lalu catatan sipil kelar, I actually felt a lot more relaxed. The most important part had passed.

Karena buat gue, acara resepsi yang diadain pas malem itu memang lebih kayak acara makan-makan biasa. Ga perlu terlalu dipusingin. (Mungkin tepatnya gue mendoktrin diri sendiri untuk berpikir begitu LOL) I invite people to celebrate my happiness, jadi gue ga terlalu khawatir harus begini begitu, harus sesuai ini itu. As long as people are happy with the foods, with the crowd, then everything’s okay. And I’m happy too 🙂

Tapi ya itu, resepsi pun berlangsung dengan cepat sekali rasanya hahahaha. Maybe because we really enjoyed every moment. Acara resepsi gue itu sekitar 60% keluarga. Karena baik gue maupun koko punya keluarga besar yang bener-bener besar. Gue sendiri, opa gue itu punya 6 istri. Lo bayangkan dari 6 istri itu kalo dihitung secara rata masing-masing punya 4 anak, udah ada 23 om tante dari pihak bokap (belum termasuk pasangan). Dari 23 om tante itu kalau masing-masing punya anak 2 orang aja, udah ada 46 sepupu tiri (and yes, belum termasuk pasangan mereka).

Belom kelar dong ya, karena itu kan 23 orang saudara kandung dan tiri bokap. Yang sepupu-sepupunya bokap kan belum dihitung. Belum lagi emak gue itu 11 bersaudara. Mama koko 10 bersaudara. Papa koko juga dari keluarga gede. 😆

Intinya sih keluarga gue dan koko itu BANYAK. Mesti pake huruf kapital dan di bold hahaha. Saking banyaknya ampe kita belum tentu bisa ngenalin satu-satu 😆

Tapi yang bikin seneng adalah karena keluarga-keluarga yang kebanyakan dari luar kota ini, banyaaaaaak sekali yang bela-belain dateng ke acara nikahan kita.

Padahal, kita ga nanggung biaya akomodasi dan transportasi loh. Jadi kita bener-bener bersyukur dan berterima kasih banget mereka bela-belain dateng to be a part of our big day 🙂

Karena undangan yang disebar memang kebanyakan untuk keluarga, kita jadinya ga undang banyak temen. Cuma undang yang kita anggep deket aja sambil berdoa mudah-mudahaaaan ga ada yang kelewatan (tapi ya tetep aja ada yang kelewatan, LOL. Maaf mba yeye… 😛 ) Dan itu juga banyak yang dateng. Temen-teman kantor banyak yang dateng. Temen-temen kuliah yang gue anggep deket banget juga dateng semua. Happyyyy~ 😀

Meskipun satu hari pernikahan itu berlangsung dengan cepet banget, tapi melalui satu hari itu juga gue berkali-kali diingatkan of how blessed I am 🙂 Gue sadar bahwa this is not the end of a fairy tale, where the curtain closed and we lived happily ever after.

This is the beginning of a new journey. An exciting and full-of-hopes journey. I know there will be a lot of ups and downs along the way, but as long as we have each other, I believe that everything’s going to be okay. *berpegangan tangan erat sama koko*

11427201_696304750495862_6934041506074590410_n

Buat all brides to be, a tip from me: Just relax and (try your best) to be happy on your big day.

Because,

any amen to that? 🙂

7

Soon

DSC_8185Foto prewedding ini adalah satu-satunya foto prewedding yang gue kurang demen sampe agak males liat gitu sebenernya Tapi ini satu-satunya juga yang baju cetar merah ini dibikin ala bidadari gitu terbang-terbang ujungnya huahahaha 😆

Jadi yaaahhh, dipaksa suka ajalah 😛

Trus sejak minggu lalu, orang kantor kalo papasan ama gue pasti bakal nanya “LOOHHH kok belom cutiii?” ato sekedar nanya retoris aja “Udah bentar lagi yaaaaaaaa?”

Paling sering sih dapet pertanyaan “Gimana? Udah tegang?” “Gimana? Deg-degan ga?” “Gimana rasanya, pasti udah deg-degan gitu ya?”

LOL 😀

Dan selalu gue jawab “Belooommmmmmm” dengan penuh semangat. Soalnya emang 1) Ngapain cuti cepet-cepet dan 2) Emang belum berasa tegangnya hahahaha.

Tapi semalem sih mulai bisa kepikiran ini itu dan jadi agak ga nyenyak bobonya *sigh*

Saat ini cuma berharap semoga gue, koko, dan keluarga kita semuanya sehat-sehat dan hepi-hepi aja di hari H nanti.

Counting the days… until we are Mr. & Mrs. Tasmika Lo.

soon