49

Sampah Masyarakat

Dulu saat gue masih SMA, sempat terpikir oleh gue, untuk ga usah punya anak aja.

The world is so scary, full of dangerous people. Yakinkah gue mau menciptakan kehidupan baru untuk tinggal di dunia yang tidak aman ini?

Belum lagi persoalan global warming yang semakin meresahkan, sedangkan manusia masih cuek bebek aja dan justru semakin serakah. Hutan dibabat. Hewan-hewan banyak yang mati demi keserakahan kita aja, kadang demi menjadi pajangan, kadang demi memberi status sosial saat jamuan makan malam. Yakinkah gue mau menciptakan kehidupan baru di bumi yang semakin renta karena dianiaya oleh kita para manusia ini?

Sampai sekarang, setelah gue berubah pikiran pun, gue bisa menghargai keputusan orang yang tidak mau memiliki anak.

Menikah, tidak menikah. Memiliki anak, tidak memiliki anak. Beragama, tidak beragama. Kuliah, tidak kuliah. Suapin anak, atau biarkan dia BLW. Semua itu adalah pilihan.

And I totally respect that.

Yaahhh palingan agak ngatain dikit dalem hati lah ya kalo alesannya rada aneh buat gue, misalnya ga mau kuliah meski orang tua punya banyak duit karena males dan maunya nganggur leyeh-leyeh aja. Yah bolehlah gue komen-komen dalem hati gue yaaa. Mihihihihi.

Tapi buat gue, tak pernah sedikitpun berpikir bahwa seandainya gue punya anak, maka anak gue akan ended up menjadi sampah masyarakat. Menjadi orang tak berguna. Menjadi orang yang menyakiti orang lain.

NEVER.

Dan seperti itu pulalah gue rasa, orang tua kita memandang kita. Seperti itu pulalah, perempuan yang mempertahankan kehamilannya – meski ayah dari bayinya tidak mau bertanggung jawab sekalipun – berpikir sambil mengelus perutnya.

Dengan penuh harapan.

Berharap, anak ini nantinya akan jadi anak yang baik.

Berharap, anak ini nantinya akan jadi anak yang membanggakan.

Berharap, anak ini nantinya, meskipun tidak mendapatkan penghargaan nobel ataupun pulitzer ataupun menang di olimpiade, dapat membuat orang lain merasa berarti atau gembira atau merasa bersyukur dengan keberadaan dia.

Mungkin dengan dia yang tersenyum lebar dan ikhlas memberikan tempat duduk kepada orang yang membutuhkan di angkutan umum.

Mungkin dengan dia yang menggandeng anak yang tersesat di mall dan membantu mencarikan orang tua anak tersebut.

Mungkin dengan dia yang membantu pramusaji membereskan piring bekas makannya dan #TumpukDiTengah saat di restoran.

Mungkin dengan dia yang mengurangi penggunaan plastik dan kertas.

Mungkin dengan dia yang memeluk temannya yang sedang berduka.

Mungkin dengan dia yang tak pernah mengekspresikan kasih sayangnya, tapi dalam diamnya bekerja keras membantu membayar biaya kontrakan rumah untuk meringankan beban orang tuanya.

Mungkin dengan dia yang membantu orang tuna netra menyebrangi jalan.

Mungkin, dengan banyak perbuatan lainnya yang meski kecil dan terlihat remeh, tapi membawa perubahan baik untuk kehidupan ini.

Seperti itulah harapan gue saat memutuskan untuk mempunyai anak. Dan gue yakin, seperti itu jugalah harapan orang tua gue kepada gue.

Gak perlu hebat sampai menang penghargaan ini itu. Meskipun kalau bisa sampai seperti itu, tentu akan jadi bonus yang sangat menyenangkan hati mereka.

Gak perlu jenius sampai berjaya di olimpiade matematika dunia. Meskipun kalau bisa sampai seperti itu, tentu akan membuat mereka bangga setengah mati.

Tapi cukup dengan menjadi orang yang berbudi baik. Mengasihi sesama. Menghormati orang lain. Menghargai perbedaan.

Itu saja, sudah cukup.

Karena bila semua orang bisa jadi seperti itu, maka gue yakin dunia pasti akan menjadi tempat yang jauh lebih menyenangkan untuk ditinggali.

Tapi nyatanya, tidak mudah untuk menjadi seperti itu.

Masih begitu banyak ketamakan. Masih begitu banyak kesombongan. Masih begitu banyak kekurangan gue, sebagai seorang manusia yang mengharapkan dunia yang lebih baik.

Tetapi melalui kekurangan itulah gue tau gue harus belajar untuk menjadi semakin baik lagi. Agar dapat memberi contoh kepada anak gue. Agar kemudian dia dapat memberi contoh lagi kepada anaknya. Dan dilanjutkan sampai ke generasi-generasi selanjutnya.

Itu yang ada di pikiran gue saat gue memutuskan untuk punya anak.

Dunia ini memang semakin seram.Β  Semakin banyak tipu daya. Semakin banyak arogansi. Semakin banyak kriminalitas. Tapi gue membesarkan dan mendidik anak agar dapat menjadi garam dalam kehidupan.

Dengan harapan.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa menjadi generasi yang penuh toleransi. Saling menghargai. Saling menghormati. Meski ada begitu banyak perbedaan.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa terhindar dari fanatisme dan merasa selalu paling benar sendiri.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa mendapatkan seorang pemimpin yang baik dari antara mereka, yang adil dan bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan sesama.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa menghargai alam dan mengambil secukupnya saja sesuai kebutuhan.

 

Dan tidak, tentu saja tidak akan menjadi sampah masyarakat.

Karena gue yakin, tidak ada orang tua yang berpikir wajar dan normal yang merasa bahwa anak mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat saja.

Kita mendidik anak, baik itu anak sendiri maupun anak orang lain, selalu penuh dengan harapan yang baik.

Atau adakah yang melahirkan anak dengan harapan agar nantinya dia akan memerkosa orang lain? Atau melahirkan anak dengan berpikir bahwa anak ini nantinya udah gede bakal jadi begal motor?

I guess none of us would think it that way.

Tidak mau punya anak?Β Cool.

Tidak mau punya anak karena merasa hanya akan menghasilkan sampah masyarakat?

Hmm. What is it with your heart and mind that made you think you would produce a society-trash after you made love with your partner?Β 

Gue rasa, kalau ada yang berpikir seperti itu, mungkin sudah seharusnya dia fokus ke dirinya sendiri. Mengobati luka batinnya. Menganalisa apa yang sebenernya menjadi masalah dalam hidupnya. Kurang perhatian kah? Kurang kasih sayang kah?

And I hope all the best for him. Or her. Or anyone in particular that would think it that way.

Advertisements
21

Cerita Belakangan Ini Selama Mireia 12-14 Bulan

Sebenernya gue mau bikin postingan tentang hari ultah Mireia tapi ampe sekarang masih ga nulis-nulis karena penyakit menahun bernama laziness ihmalasngets.

Sungguh penyakit mengerikan yang membuat gue menunda-nunda banyak hal. Untungnya tidak menular. Obat penyakit itu apa yaaaa, ada yang tahu? Hahahaha πŸ˜›

Gue mau cerita tentang Mireia akhir-akhir ini aja ah.

Yang udah mulai makin pinter ngeledekin orang lol. Udah bisa kiss juga tapi mulutnya sambil mangap, jadi kalo minta dicium dia bakal dapet bonus iler deh huahaha. Udah mulai makin ngerti dimintain tolong ini itu. Kosa kata juga bertambah meskipun beberapa kata terdengarnya sama. Contohnya duduk dan dedek sama-sama disebut dedek hehehe.

Sejak bisa bilang buka, jadi demen banget ngomong begitu. Ngasih apapun yang dibungkus plastik ato kotak tissue ato botol minum sambil bilang “Buka, buka.”, mau nenen juga tarik baju gue bilang “Buka.”

Kalo kaget bisa tepok-tepok dadanya sendiri, kadang pake bilang “Taget.” hehehe. Kalo kita ganti diapernya dan bilang ih Mireia pupupnya bauuu, dia bisa nutup mulut dan hidungnya pake telapak tangan dan ngeringis gitu. Kalo gue bilang gue kebauan, dia bantu tutupin hidung gue pake telapak tangannya muahahaha.

Tapi lumayan seneng ngeliat dia kalo ditanya “Sakit dimana?” kadang-kadang udah bisa tunjuk. Malah waktu itu jari kejepit, trus otomatis langsung sodorin jarinya sambil nangis-nangis. Kemampuan kayak gini membantu banget untuk mengidentifikasi penyebab nangis. Pusyang pala ambo kalo dia nangis-nangis gaje dan kita ga ngerti dia nangisnya kenapa ada apa bagaimana.

Ngeliat dia jalan udah makin pinter juga seneng karena udah bisa diajak jalan-jalan ngeliat ini itu. Cuman ya ini pedang bermata dua yaaaa (ngasal banget pake ungkapannya hahahah), satu sisi seneng, satu sisi lagi gemes kalo dia maksa mau turun jalan sendiri padahal sikon tidak memungkinkan. Contohnya aja pas lagi ruame pol macem di Ikea kemarin.

Lah yang ada kamu dilindes orang, Rei -_-

img_7281-1

Keenakan di Ikea

img_7285-2

Ceritanya lagi bobo

Reia itu truly one of my happiness hehe. Mungkin orang eneg kali ya kalo ngeliat emak-emak ngeshare foto anaknya melulu. Tapi gimana dong, I think of how she makes me happy and how she’s so cute (#mamakbias) and I just want to share those happiness and cuteness to all people to see. Look! Look at my baby and how cute she is! Doesn’t she just make you smileee?

Hahahah πŸ˜€

(#masihmamakbias #mamakbiasunited #apakahkamumamakbias #ayobergabungdengankami)

Lagipula, kadang gue pikir masa ini mungkin akan segera berakhir. Kalo dia tambah gede nanti, mungkin udah ga bakal terus-terusan merasa dia gemesin kan ya. Jadi harus dinikmati selagi bisa nyahahaha.

Giginya baru 8 biji. Ga nambah sejak umur setahun. Gue kira dia bakalan nambah geraham, karena sejauh ini pertumbuhan gigi Mireia bener-bener sesuai umur mulai tumbuh gigi di chart, ga ada satupun yang meleset hahaha. Jadi ekspektasi gue geraham pun bakal sesuai, eh taunya meleset. Ampe sekarang belom nongol-nongol si geraham.

Di umur ke 14 bulan kemaren dia malah batuk pilek. Cukup parah sampe ganggu tidur malam, jadi akhirnya ke dokter. Sampe sekarang masih tapi udah ga terlalu ganggu tidur lagi. Sedih banget pas ngeliat dia batuk-batuk terus sampe kebangun dan nangis karena kecapean batuk-batuk 😦

Mudah-mudahan cepet sembuh dan sehat-sehat terus ya Reiii ❀

Ohya pas 13,5 bulan kemaren sempet ke Batam berduaan gue. Jadi gue, cici gue dan adek gue sebenernya emang ada urusan sih kudu ke sana barengan. Trus cici gue usul sekalian pas hari ultah nyokap aja (yang tinggal di Batam sendirian saat ini atas keinginan beliau sendiri), sekalian surprise visit gitu.

Oh don’t you just love nice supriseessss? I DO! πŸ˜€

Jadi beneran gue excited banget menunggu hari itu lol. Gue dan cici gue masing-masing bawa anak, cici gue bawa si bungsunya yang seumuran Reia. Cici gue dari Surabaya, gue dan adek gue dari Jakarta. Tapi gue dan adek gue beda flight pas pergi maupun pulang jadi bener-bener perjalanannya itu gue dan Reia berduaan doang lol.

It was fun!

Pas perginya gue naik Garuda, udah book seat secara online di row paling depan biar leg area nya lega (hasil bertapa di goa “Mahmud” dan mendengarkan bisikan-bisikan dari para bidadari di sana LOL) eh taunya malah dikasih row 32 window dong pas check in counter. Jadi macem ga dianggep gitu yang online. Pas boarding kan gue agak telat ya jadi udah lumayan full, pas ngeliat row paling depan juga udah keisi full kiri kanan. Awalnya sih gue rada KZL gitu, tapi gue ga berargumen juga sih sama pramugarinya.

Karena… Kok ya row depannya Garuda di kelas Ekonomi ini ga gede ya leg areanya? Pas-pasan aja gitu, apa karena pengaruh gue ngeliat ada bapak-bapak bule duduk di sono ya? Jadi badan gedenya terlihat sempit gitu di row depan hehe.

Anyway.. ternyata pemindahan seat ini justru blessing in disguise karena di tempat duduk row 32 itu bagian tengahnya kosong, jadi gue lebih leluasa buat nyusuin Mireia. Trus bapak-bapak yang duduk di kursi aisle juga orangnya pendiem, kaga pake basa basi nanya-nanya ato ngajakin ngobrol maupun becanda-becandain Mireia. Cuma sempet senyum-senyum aja liatin Mireia, trus dia sibuk baca koran ato tidur. Jadi gue seneng. Lagi males basa-basi huahahahah πŸ˜›

Sedangkan di flight pulang naik Citilink, seat gue sesuai pesenan yaitu di row paling depan bagian kanan, gue di aisle. Ada suami istri di sebelah gue. Eh ternyata di bagian kiri kosong pol, jadi gue minta izin untuk pindah. Boleh. Hore! Tiga kursi untuk mama dan Mireia! Lol padahal ya tetep kepake 1 kursi tok sih hahaha cuma tetep lebih enak aja gitu kan πŸ˜›

Nah di Citilink ini row depannya enaaakk. Bener-bener gede leg areanya, jadi kalo gue lagi duduk trus gue rentangkan kaki gue ke depan gitu, bisa loh!

img_6658
So much better daripada Garuda yang gue yakin ga bisa rentangin kaki begitu.

Di kedua flight pulang pergi, Reia tidur pas take off. Sambil nenen tentunya. Biar kupingnya ga sakit. Trus kebangun sekitar 20 menit sebelum landing. Baca-baca buku, becandaan ama gue. Pas mau landing, gue kasih snack aja biar ngunyah. So it went well! First flight mama berduaan Reia and it was a success! πŸ™‚

Sesampainya di Batam, surprise buat nyokap berhasil banget sampe beliau nangis terharu dan nanya terus-terusan “Kok bisa sih, kok bisa sih, kok bisa sih kalian…” Hahahaha

YEAY!

Kita sempet ke Singapura juga meskipun perjalanannya sungguh ga penting abis hahaha. Kita sampe sono jam 10 WITA, trus makan pagi, jalan ke Chinatown beli lotre nyokap gue (SUPER LOL), jajan ke minimarket (gue ngadem sambil nidurin Reia), mampir kopitiam beli minuman untuk menghilangkan dahaga (halah bahasanya hahaha), trus ngebahas “Mau kemana lagi nih, kapal balik ke Batam jam 16 ya!” Sedangkan saat itu udah hampir jam 12.

Trus akhirnya diputuskan untuk ke Mall Vivo City aja karena ada playground di sono. Sekalian pelabuhan buat ke balik ke Batam juga kan deket sono. Mampir Subway dulu, adek ama cici gue pengen nyobain. Gue cuma cicip dikit dan belom tau apa yang bikin Subway heboh dipuji-puji enak. Trus ke foodcourt Vivo City eeehh ngasih makan anak-anak ternyata lama bener hampir 2 jam, karena si Reia sempet rewel di tengah-tengah makan. Sampe akhirnya gue bolak balik toilet 3x bawa dia.

Yang pertama false alarm. Kedua pup beneran. Ketiga pup lanjutan. Hahahaha. Pup aja dicicil, untung ga sebanyak jumlah cicilan mobil.

img_6576-1

Cici gue dan Theo si bungsunya

Trus kita ke… Daiso. Iya sungguh ga penting macem Jakarta ga ada Daiso lol. Tapi Daiso SG lebih gede dan lengkap loh! Gue hepi, apalagi Reia dibeliin tas unyu oleh cici gue di Daiso hahaha.

img_6491-1

img_6411

di MRT

Dari Daiso, jajan frozen yoghurt sama nyokap gue beli jus dulu. Saking dikejer waktu, kita bahkan ga sempet bawa anak-anak ke playground akhirnya hahaha. Tau-tau yowis kudu pulang ke Batam lagi.

Btw kalo ada yang bertanya-tanya, naik kapal PP Batam-Singapura itu sekitar 300 ribu rupiah. Anak-anak tetep dihitung satu tiket. Ini di luar prediksi gue karena gue kira anak di bawah 2 tahun ga perlu bayar. Huhu jadi berasanya mahal banget.

Salah satu hal yang paling menyenangkan dari trip gue ke Batam ini, selain kumpul keluarga dan ketemu cici gue serta Theo, adalah gue ngeliat Mireia kok kayak bisa menyadari bahwa nyokap gue itu pho-phonya. Dia ngeliat nyokap gue kan cuma sesekali ya. Kalo selama sebulan pertama umur dia sih yaudahlah ya dia ga mungkin inget. Kemudian ketemu lagi itu pas dia udah 6 bulan, itu aja gue takjub dia anteng mau digendong nyokap gue. Trus kemaren ini pas udah ultah pertama ketemu lagi dia juga anteng-anteng aja. Dan pas ke Batam juga mau-mau aja gitu sama nyokap, disuruh cium nyokap juga langsung mau.

Berbanding terbalik sama kondisi pas ketemu adek gue. Entah kenapa dia nangis aja gitu setiap kali baru dideketin adek gue padahal udah beberapa kali ketemu huahahahahahah. Butuh waktu agak lama untuk kemudian baru mau sama adek gue. Kayaknya karena adek gue suka agresif langsung toel-toel mukanya hahahah. Pas di mobil kemaren juga adek gue toel-toel mukanya dan dia kayak kesel ngerengek gitu. Adek gue bilang “Ih kenapa sih” dan gue ngomong “Iya.. Mireia ga suka ya.. Reia bilang khiu-khiu jangan pegang-pegang pipi Reia…”

Dan Mireia pun ngangkat telunjuknya trus digoyang-goyang, gesture dia kalo lagi bilang “No, no, no..” Hahahah πŸ˜€

img_5094img_5092-1

Mireia mulai kena garem dikit-dikit tapi gue tetep batesin. Misal ikan tim, boleh pake garem. Tapi kalo untuk kuah ato sup gitu, gue belom pakein garem. Prinsip gue sih selagi dia masih mau yaudah ga usah pake garem dulu lol.

Masih full asi. Kalo ditanya sampe kapan, gue sih pengennya bisa sampe dia 2 tahun. Tapi sekarang dia aja baru 14 bulanan ya, jadi we’ll see. Gue sendiri sekarang pompa di kantor 2x. Saking tiap hari rutinitasnya begitu-begitu aja, gue kadang ampe kayak auto-pilot mode on gitu untuk pompa-cuci pompa-simpen. Kadang bisa panik “Eh udah cuci pompa belom ya?! Udah mau jam pulang!” padahal mah udah daritadi hahaha. Tapi ga ngeh karena auto-pilot itu tadi lol.

Rencana gue sih Reia 18 bulan mau gue turunin pompanya jadi 1x tapi yaaahhhh liat ntar lah ya. Rencana bisa tinggal rencana, bisa aja sebelum Reia 18 bulan tau-tau udah ga ASI lol. So.. yeah, we’ll see. ^^

Oh trus pas menjelang 14 bulan kemaren Reia sempet nangis-nangis ngamuk ga mau tutup pintu lemari padahal dia sendiri yang buka dan bongkar-bongkar isi lemari. Giliran disuruh tutup dia emoh. Malah nangis-nangis. Yaudah gue ama koko tungguin aja ampe dia mau tutup. Nangis satu jam’an gitu deh lol. Sebelum akhirnya mau tutup pintunya. Dan sekarang berasa banget efeknya. Kalo diminta tutup pintu ya otomatis tutup. Malah kadang abis bongkar isi lemari, dia bakal tutup sendiri sebelum disuruh hahaha.

Emang jadi orang tua itu terkadang harus ‘jahat’ demi kebaikan anak ya πŸ™‚

img_6537

Ohya, Mireia ini orangnya lumayan agresif lol. Maksudnya, dia itu cukup berani untuk ngajak maen anak-anak lain duluan. Nyamperin, melukin, gandeng, ato ngajak ngobrol dengan bahasa bayi. Kadang teriak-teriak excited juga. Lol.

Anak lain yang kadang malah keder sama dia. Hahahaha.

Kemaren ini gue sempet ajak dia jalan-jalan ke kompleks perumahan belakang ruko mertua. Trus ada salah satu rumah yang ada anjingnya. Gue berdiri di depan pager rumah itu, trus nunjukin ke Reia, “Tuh Rei, dog. Woof, woof!”

Eh anjingnya gonggong kenceng. Gue aja ampe kaget. Berkali-kali pula. Gue kira Reia bakal kaget dan takut. Taunya…

Dia gonggong balik aja dong!

“Wuk! Wuk! Wuk!”

Hahahahahaha. Trus bisa ngomong juga “Thok. Wuk!” Lol. Gemes.

Yang masih ngeselin dari Reia itu adalah kalo dia kepentok ato kesandung, dia bisa mukul objeknya gitu padahal yang salah kan dia karena ga hati-hati. Gue sebel banget dia kayak gitu, diomongin berkali-kali masih begitu. Gue curiganya sih mertua deh yang ajarin kayak gitu karena pernah ngeliat mertua mukulin baby boxnya pas dia kejedot, pake bilang kalo si baby box bandel pula -_-

Trus kalo ngambek dia juga bisa mukul-mukul kayak sebel gitu. Jadi misal gue pamit mau kerja, kalo depan dia meja ya dia mukul meja. Depan dia pegangan stroller ya dia pukul itu. Depan dia ga ada apa-apa ya dia pukul udara. Pake acara buang muka pula kalo kita mau cium, untuk menegaskan kalo dia lagi ngambek. Kalo dia udah buang muka gitu dan gue lanjut pergi ya dia bakal langsung ngeliat lagi ke gue sambil ngerengek nangis manggil-manggil.

Duileh macam udah gede kali lah kau dek.

Gue ga tau dia belajar dari siapa soal ngambek jadi mukul sebel, yang jelas gue belom bisa ngerubahnya sih. Hufh banget sebenernya, gak mau lah ya anak tumbuh gede sifatnya kayak gitu (macem mamaknya) lol, tapi ya belom ketemu aja caranya untuk nunjukin bahwa itu ga baik. Palingan gue kasitau aja, tapi tetep dilakuin. Bikin geregetan ._.

Trus dia gampang frustasi hahahahah. Ga sabaran.

OMG mirip gue banget kalo dipikir-pikir lol. Misal mau masukin sesuatu ke botol tapi ga masuk-masuk, baru coba 2-3x dia bisa langsung sebel buang barangnya trus marah hahahaha.

Oke, I shouldn’t go “hahahaha” terhadap hal itu tapi ya gimana dong. Saat ini gue bawa ketawa dulu aja deh lol. Kalo gedean masih gitu tar gue tabok #loh #didatenginkakseto

Sejauh ini lagi-lagi ya gue palingan bilangin aja, selalu gue ingetin kalo gak apa-apa, coba aja dulu… yang sabar… pelan-pelan.. nanti lama-lama bisa… Cuma ya guenya aja sebenernya gak sabar, jadi gimana ya. Emang kudu berubah jadi pribadi lebih baik dulu biar bisa ngajarin yang baik-baik juga ke anak kali ya? πŸ˜›

Gue jadi inget di buku Adhitya Mulya soal parenting sempet bahas juga bahwa salah satu kesulitan jadi orang tua adalah karena kita harus menjadi kita yang lebih baik, agar yang dicontoh anak juga yang baik-baik.

Peer masih banyak ya untuk jadi orang tua heheh.

Semangat koko Taz dan cece Olip!

*gandeng koko*

*ngomong depan cermin*

Cerita gue agak random ya timelinenya, tapi intinya sih seputar Mireia 2 bulan belakangan ini hahaha.

8

Senin Pagi Ini

Tadi pagi pas di dalem commuter line, ada seorang bapak tuna netra naik dari stasiun Tanah Abang, mau turun di stasiun Karet. Bapak ini bawa tongkat, dan dari awal masuk udah langsung minta maaf minta maaf geser ke pintu yang akan kebuka di stasiun Karet nantinya.

Kebetulan gue juga turunnya di stasiun Karet.

Saat turun dari commuter, Bapak ini dengan tongkatnya jalan pelan-pelan. Apalagi dengan begitu ramainya penumpang naik turun, bikin mobilitas agak terganggu. Gak lama kemudian, ada seorang mas-mas berpakaian lusuh ngerangkul bapak itu dan nyelipin uang di dalam tangannya. Segera setelah nyelipin uang, mas-mas itu langsung jalan cepat bergegas ke arah pintu keluar.

Gue merhatiin itu semua karena gue jalan di belakang si Bapak.

Saat ngantri untuk keluar, gue dan Bapak tuna netra sebelahan. Bapak di belakang bapak tuna netra dengan sigap langsung ngebantuin bapak tuna netra untuk nempelin kartu commuternya ke mesin.

Setelah itu, seorang bapak lain juga langsung nuntun si bapak tuna netra dan nanya “Mau kemana Pak? Yuk saya anter ke depan”.

Hati gue langsung hangat.

Begitu banyak kebaikan yang gue saksikan pagi ini.

Gue sendiri belum melakukan kebaikan apapun. Tapi hal ini memacu semangat gue untuk melakukan banyak kebaikan juga terhadap sesama.

Kebaikan-kebaikan yang keliatannya kecil dan sepele, tapi bisa jadi memberi arti kepada banyak orang.

Sama seperti gesture-gesture dari orang-orang yang membantu bapak tuna netra itu. Gue yang melihat, merasakan dampak yang begitu positif dan menyenangkan.

Kejadian-kejadian itu, kalo kata orang sunda mah,Β so heartwarming.
*
diselepet orang sunda*

Dengan perasaan riang, penuh kehangatan, masa depan yang terlihat cerah dan penuh hal baik, gue melangkah keluar stasiun untuk naik mikrolet.

Setelah nyebrang dua kali dan setiap kali nyebrang selalu terasa seperti petualangan mengancam nyawa karena ga ada zebra cross maupun jembatan penyebrangan di perempatan jalan raya besar, gue ngeliat mikroletnya lagi ngetem tapi kok ada mbak yang berdiri di luar mikrolet.

Gue tau mbak itu langganan naik mikrolet karena sering papasan, kita selalu naik dari tempat yang sama dan turun di tempat yang sama juga tiap pagi.

Kalo mikrolet masih ngetem artinya kan belom penuh ya. Lah trus nape kaga naik, mbak?

Pas gue mendekat, dua orang tukang ojek yang mangkal deket situ langsung bilang “Nah ini aja nih, mbak sini! Naik nih, di depan masih ada tempat! Mbaknya kan kecil, jadi muat! Nih sini ini di sini.”

Sambil buka pintu depan yang sudah ada penumpang lain di dalemnya, tukang ojeknya ngulang lagi “Mbaknya kan kecil, kalo kecil muat nih di sini.”

….

Jadi.

Ternyata.

Mbak yang itu ga naik karena badannya emang gede. 3 kali lipetnya gue.

Sedangkan tempat yang kosong tinggal di depan sebelah pak supir, itupun empet-empetan ama penumpang lain, jadi duduk bertiga di depan ama pak supir.

Tapi.

MBOK YA GA USAH NGULANG-NGULANG DAN MENEGASKAN SEBUT-SEBUT SOAL KECIL BESAR TOH MAS.

-_-

Kan kasian ya si mbak’e. Diliatin seisi mikrolet.

Karena gede jadi ga bisa naik.

Kehangatan di hati gue langsung pada bubar. Amblas byar.

Minggat semuanya.

Senin pagi gue berubah dari yang penuh keriangan jadi awkward.

Gak mungkin juga kan gue dengan gagah berani bilang “Maaf saya menolak naik mikrolet ini karena sampeyan-sampeyan ini telah mempermalukan si mbak. Saya akan temenin si mbak’e aja nungguin mikrolet selanjutnya.”

Gak mungkin bisa begitu.

Karena nanti gue makin telat sampe kantornya.

Jadilah gue yang disebut-sebut kecil berulang kali ini mau ga mau naik aja sambil bersyukur setidaknya mikrolet langsung jalan begitu gue naik.

Dan gue cuma bisa berdoa semoga mikrolet selanjutnya langsung ada biar si mbak’e ga nunggu lama.

Hufh.

Sungguh permasalahan hidup ini ada-ada aja ya.

Gimana senin pagi kalian?

 

54

Why I Decided To Say Bye

Warning: Postingan ini isinya negatif. Keselnya gue. Ngomongin orang. Hilangnya pertemanan. Jadi kalau lagi ga mau ngeliat yang negatif-negatif, jangan lanjut baca. Tapi biasanya makin negatif orang makin penasaran pengen baca kali ya, soalnya kan suka seru baca drama orang lain. Huahahaha πŸ˜›

Yuk ah cuss.

Belum lama ini gue menjaga jarak dengan salah seorang temen di kantor. Sebelumnya deket dan gue nganggep gue sendiri sebagai salah seorang temen baek dia di kantor. Tapi entah karena gue bertepuk sebelah tangan, apa kegeeran apa gimana, ternyata beberapa hal yang terjadi kayak membuka mata gue bahwa dia sendiri ga menganggap gue sebagai temen baik. Hehe.

Dan yang bikin sedih adalah, ternyata dia punya satu sifat yang sangat gue hindari dari seorang temen, yaitu: Suka bohong.

Sebenernya gue udah tau dia suka boong, cuma gue kira masih untuk hal-hal kecil yang sifatnya becandaan. Tapi ternyata hal sepele banget aja tuh dia bisa boong juga. Ini gue kasih contoh aja ya, tapi bukan dari kejadian yang sebenernya, cuma contoh kasus yang kira-kira mirip aja.

Contohnya lagi ngobrol santai di kantor dan gue nanya, “Tadi pagi lo sarapan apa?”Β dan dia jawab “Makan bubur”, trus gue tanya lagi, “Oh makan bubur, lagi sakit?” “Ngga sih, tapi bingung mau makan apa, yaudah deh jadi makan bubur aja.”Β kemudian kita lanjut ngomongin hal lain.

Percakapan wajar, ga ada yang aneh, ga ada yang lain dari biasanya. Tapi sebenernya, dia udah bohong karena sebenernya gue sempet ke kantin pagi itu dan ngeliat dia makan nasi uduk. Aneh kan? Ga tau kenapa dia memilih untuk berbohong, tapi percakapan itu bener-bener seperti percakapan biasa di hari yang biasa tanpa ada hal yang harus bikin gue paranoid.

Tapi setelah tau kalo dia bisa bohong semudah itu, secepat itu, dan sesantai itu, bikin gue jadi bertanya-tanya gimana gue bisa percaya lagi sama dia? Kalo untuk percakapan begitu aja dia bohong?

Sebenernya trigger utama gue jadi jaga jarak sama dia sih jauh lebih parah dari itu, tapi kemudian ada tambahan kejadian sepele barusan yang bikin gue jadi mempertanyakan selama ini cerita-cerita dia ke gue beneran apa bohongan? Sampai mana bisa gue percaya?

Jadi.. yah begitulah. Gue putuskan kita jadi rekan kerja biasa aja, ga usah sedekat dulu yang selalu makan bareng, curhat-curhatan, dll.

Ini bukan pertama kali. Gue udah pernah langsung ambil langkah seribu ngejauhin temen kantor (sebut saja Anggrek) yang dulu bisa ngotot dia jujur ampe sumpah-sumpah segala, tapi ujung-ujungnya ngaku juga kalo dia bohong. Ditambah nih orang memutarbalikkan fakta pas cerita ke temen lain.

Kejadiannya: Gue denger cerita dari si Mawar kalo dia lagi sedih sama Delima. Mawar ini hamil sebelum nikah, dan pas dia cerita ke si Delima, Delima ini ngomelin dia kok bisa malah sampe hamil, makanya dijaga dong blablabla gitu deh ya. Nah gue tuh baru denger cerita dari Anggrek kalo si Mawar kayaknya lagi jaga jarak sementara ama Delima. (Waktu itu kita masih satu circle pertemanan jadi masih saling berbagi cerita) trus gue ngomong lah sama si Anggrek, oh alesan si Mawar jaga jarak sama Delima ternyata karena dia sedih ngerasa Delima ga supportive, malah ngomelin dia. Maklumlah hormon bumil ya, maunya disayang-sayang tapi kok malah diomelin, jadi baper.

Eh tau ngga si Anggrek ngomong apa ke Delima?

“Delima, gue denger dari Olive, lo suruh si Mawar aborsi ya??”

Marah lah si Delima ke Mawar karena dia ga pernah ngomong begitu. Mawar juga ngoceh dong ke gue, kok bisa nyampenya gitu padahal kan dia ga ngomong begitu ke gue. Pas gue konfrontasi, si Anggrek cuma dengan santai bilang “Eh iya, gue salah ngomongnya.”.

-_-

Padahal udah jadi heboh. Sejak itu juga gue langsung bye-bye deh untuk temenan sama Anggrek. Serem gue sama orang begini.

Kejadian terakhir yang baru saja terjadi adalah, gue memutuskan untuk unfollow instagram dan blog salah seorang blogger.

Mari kita sebut B. Awal gue ketemu si B ini sebenernya menurut gue anaknya lucu, asyik dan seru.

Super pede. Which, somehow, becomes her trademark.

Tapi entah itu emang dia yang sebenernya ato that’s what she wants people to believe how she is.Β (Duh diomelin deh nih gue pake bahasa indonesia campur inggris gini dalem satu kalimat lol).

Anyway, suatu hari dia posting di IG pendapat dia mengenai cara seorang seleb kasih makan anaknya. Jadi concern si B pertama adalah: Cara ngasih makannya salah. Lalu banyak yang komen. Kebanyakan emak-emak sih emang hahaha. *sentil satu-satu emak-emak yang pada baper*

Gue saat itu masih kalem. Masih biasa aja. Gue merasa yang dia omongin sih ada benernya dan ada salahnya. Gue setuju untuk beberapa hal namun juga ga setuju untuk hal yang lain.

Lalu dia dikomen beberapa orang yang menyatakan bahwa kurang lebih cara ngasih makan mah sesuka mama yang mau ngasih aja, kan tiap ibu tau yang terbaik buat anaknya. Ntar juga B bakal tau kalo dia jadi seorang ibu.

Eh dia kok terkesan kesel pas dikomen-komen “Bakal tau ntar kalo udah punya anak sendiri”. Dia dengan teges bilang dia toh ga mau punya anak. (which is completely fine).

Tapi gue ngerasa tersentil saat dia bilang bahwa dia ga perlu punya anak untuk memahami. Dia ga perlu menjadi seorang ibu untuk mengerti, karena dia bisa ngerti dan paham dari ngeliat ibunya, ditambah dia pernah ngajarin anak-anak.

Hmmm. Kalo gitu seharusnya semua yang menjadi tenaga pengajar anak bocah udah bisa jadi parenting expert ya. Pfftt.

Gue memutuskan untuk nimbrung. Komen gue kurang lebih ngasih tau kalo dulu gue juga suka merasa apaan sih saat nyokap gue bilang kalo suatu hari nanti gue akan mengerti saat gue menjadi seorang ibu. Bahkan saat udah menikah pun gue masih ngerasa ih apaan sih. Tapi begitu udah punya Mireia, gue baru bener-bener paham, oohh ini toh maksud nyokap gue.

Ternyata bener. Ternyata memang harus tunggu sampe gue sendiri punya anak dulu baru deh gue paham. Seberapa banyak pun teori yang gue lahap, seberapa lamanya gue ngeliatin orang lain mengasuh anaknya, seberapa seringnya gue bantu orang merawat anak mereka, tetep aja gue ga akan bener-bener ngerti sebelum gue sendiri punya anak.

Beneran deh. Lo mau sok pinter kayak apapun ga bakal bisa bener-bener ngerti karena rasanya tuh beda. Semua emak-emak pasti setuju sepaham sesuara deh sama gue lol.

Concern B selanjutnya adalah bahwa karena si seleb ini public figure, maka kalo dia posting kan tar orang-orang bisa ikutan caranya dia padahal salah.

B kemudian posting lagi screenshot pendapat seorang dokter untuk mendukung pendapatnya. Which is, once again, completely okay. Tapi dia (menurut gue) menelan mentah-mentah tweet nyinyir si dokter Β dengan posting di caption mengutip kembali omongan si dokter, yang mana mengatakan bahwa kalo anak-anak pada sampe sakit (karena cara pemberian makan yang menurut dia salah itu) tar berobatnya pake BPJS dan termasuk di dalamnya berarti kan pake duit BPJS dia. Kelas 1 pula.

Nah di sini gue komen lagi dong. Lebih keras daripada komen gue di postingan pertama, tapi sebenernya sih ga pake marah-marah kok. Ga pake emosi, gue cuma mau ngelurusin bahwa ga bisa plek-plekan nyalahin si seleb dengan posting cara kasih makan anaknya. Wong anak kan anak dia. Kalo kemudian orang-orang pada ikut-ikutan cara dia ngasih makan anak, yang salah yang ikutan dong. Iya gak sih?

Logikanya gitu ga sih?

Masa kalo ada seleb posting makanan-makanan enak melulu, trus banyak yang ngeliat jadi ikut-ikutan, trus jadi kolestrol ato diabetes, trus jadi kudu berobat pake BPJS… Kita jadi nyalahin si seleb yang posting?

Bukankah kita sebagai pembaca yang seharusnya menggunakan otak kita untuk berpikir, ini cocok ga untuk saya ikuti. Ini baik ga untuk saya tiru. Begitu ga sih?

Menurut gue sih gitu. Terserah lah ya menurut kalian begitu apa ngga. *Loh kok nyolot* Huahahaha.

Trus kalo mengenai BPJS, yah namanya pun fasilitas kesehatan dari pemerintah untuk berobat ya. Kalo emang segitu keselnya duit BPJS dipake buat orang-orang pada berobat karena kebodohan sendiri, mestinya tiap hari tongkrongin RS Dharmais trus marah-marahin orang yang berobat kanker paru karena merokok.

“Bapak sih, merokok! Udah tau merokok bahaya! Bapak ga baca itu peringatan di bungkusan rokoknya?! Sekarang kanker paru kan! Berobatnya pake duit BPJS kan! Duit siapa itu BPJS hah?? Ada duit saya juga! Kelas 1 pula!”

Sebenernya gue udah ga mikirin soal postingan B lagi. Gue juga ga merasa postingan dia atopun komen-komenan kita harus bikin gue unfollow. Berargumen itu hal yang wajar. Kita punya pendapat berbeda pun wajar. Saling mendengarkan pendapat orang lain membantu membuka pikiran kita bahwa ternyata orang lain bisa berpikiran 1234 saat kita mikirnya 5678.

Tapi kemudian B membuat referensi terhadap postingan instagram tersebut di blogpostnya. Alhasil gue iseng ngeliat lagi tuh postingan… dan menyadari bahwa ada komen-komen yang dia hapus. Komen gue yang keras di postingan kedua ga dihapus. Tapi komen pertama yang lebih ‘halus’ dihapus, komen-komen balasan dia terhadap komen orang lain dihapus, disisakan yang (menurut gue) ‘manis-manis aja’. Contohnya komen dia berterima kasih untuk nasihat-nasihat. Padahal nasihatnya aja dihapus lol. Kemudian disisakan juga komen-komen yang terkesan ‘menyerang dia bertubi-tubi’.

Gue jadi inget di hari postingan instagram itu lagi banyak dibahas dan menerima komen, sempat ada komentar entah dari B atau dari temannya bahwa orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat B terkesan seperti ‘hater’.

Lol.

Kalo menurut gue.. (lagi-lagi menurut gue karena kan ini blog gue ya, ga suka ya ga usah dibaca, ato unfollow aja gue, bwek! Hahahahah πŸ˜› Ih olip nyinyir ih) beda pendapat kan wajar banget ya.

Kalo kita ga setuju sama suatu hal trus menyuarakan pendapat kita di publik ya harus siap dengan pendapat-pendapat orang lain yang tidak setuju sama kita juga dong.

Kecuali… kita posting itu maunya cuma dapet dukungan doang. Pokoke ga mau dikomen yang ga sependapat, apalagi dikritik. Hati panas. Hati tak senang. Hati ga kuat, massss. Pokoknya setuju dong sama eike! Nah kalo ini kadang gue gini nih pas cerita ke koko. Jadi gampang esmosi kalo koko malah ga setuju HAHAHAHA #kokcurcol

Balik lagi ke B, gue jadi bertanya-tanya kenapa ya dihapusss? Padahal dengan dia menghapus komen-komen itu, bikin orang yang baru baca itu merasa kita macem ngebully dia rame-rame.

Padahal kalo menurut gue (duileh lagi-lagi menurut olip, bosen aahh), kan cuma pada menyuarakan pendapat ya. Sama seperti dia menyuarakan pendapatnya mengenai cara si seleb kasih makan anaknya. Cuma kebetulan kebanyakan mak-mak yang komen emang kontra terhadap pendapat dia, dan komennya panjang-panjang. Sedangkan yang pro komennya dikit-dikit. Tapi ya rapopo toh? Mestinya yah. Jadi… Kenapa dihapus ya komen-komen dia yang ngebales kesel dibilang baru ngerti ntar setelah punya anak? Kenapa dihapus ya komen gue? (Ih olip mah gitu, baper komennya dihapus. Hakhakhakhak)

Trus di blogpost terbaru dia, dia juga bilang postingan dia soal seleb membuat dia di unfollow beberapa orang. Sementara gue dapet informasi bahwa dia sendiri juga unfollow dan nge-block beberapa orang setelah ‘insiden postingan seleb’.

But she made it seems like she was the victim.

Just because she posted something like that and people oppose her opinion, those people unfollow her. Hiks hiks.

Padahal yah gak gitu-gitu banget juga. Kayaknya dia sendiri unfollow beberapa orang yang komen kontra di postingan dia. Cuma kan orang ndak tau ya. Dia tulisnya kan cuma bagian yang dia jadi korban unfollow.

Jadi ya dia korbannya aja deh pokoke. Kita haterzzz.

Setidaknya, itulah kesan yang gue dapatkan.

It was a shame since I initially thought of her as a funny and bubbly girl.

Ternyata oh ternyata, IΒ can’t handle the drama she offered.

So I said bye to the mere friendship that was formed from blogging.

Btw kalo kalian… hal apa yang kira-kira bisa bikin kalian ilfil dan berhenti temenan? πŸ™‚

Note: Gue memutuskan ga temenan sama B (or maybe just be an acquaintance of her and vice versa) karena ada caranya dia yang ga cocok di gue, tapi tentunya banyak orang lain yang cocok sama dia dan merasa dia asyik-asyik aja. Jadi buat yang tau siapa B, jangan sebut inisial aslinya apalagi tulis namanya ya untuk menghindari terciptanya imej tertentu buat orang lain. Nuhun.

6

Mireia 11-12 Bulan

Mireia mulai 11 bulan ini bisa apa yaaa…

Makin mantep jalan pake push walker dan selalu seneng ampe cengengesan sendiri.

IMG_4298

Udah bisa nunjuk maunya apa, bisa ngasih barang juga untuk minta dibukain atau ngasih buku minta dibacain.

Pernah dia ngunjukin botol air minumnya ke arah gue dan koko, yang mana oleh kita dibilangin “Ayo Reia buka sendiri botolnya..” trus dia coba tarik gitu dengan kesel kayak mau nunjukin ke kita kalo susah bukanya. Bener-bener yang nariknya pake nada orang kesel gitu “Ergh!” trus langsung ngunjukin lagi ke kita huahahah.

Udah keliatan punya kemauannya sendiri dan cukup keras kepala. Jadi kalo dia nunjuk maunya gelas beling gitu misalnya, kan kita alihin ya biar ngambil barang lain aja untuk dipegang. Dia bakal tetep keukeuh maunya gelas. Kalo lagi baek sih okelah bisa dibujuk pake barang lain, tapi kalo lagi stubborn ya dia bakal sampe nangis-nangis deh -_-”

IMG_4908

Makin pinter ikut-ikutan apa yang kita lakukan. Contohnya pas maenannya jatoh trus sama nyokap gue diambil dan di-lap dulu pake tissue sebelum dikasih ke dia lagi. Dia nunjukin tissue, minta diambilin. Pas dikasih tissuenya, eh dia ikutan ngelap maenannya jugaaaa. Duh gemas.

Kalo dipakein sesuatu di kepalanya trus gue suruh ngaca, dia bisa ke depan cermin dan cengegesan hihihi. Lucuuu banget deh kalo udah gitu. Apapun yang gue pakein ke kepalanya bisa bikin dia ketawa. Entah itu bando kegedean, celana dia sendiri, daster gue yang gue juntai di atas kepalanya, sampe ke pita-pita rambutnya. Malah kadang kalo udah gue pakein sesuatu di kepalanya, tanpa disuruh ngaca dia bakal buru-buru ngaca sendiri hahaha.

Udah bisa bilang mama papa.

Udah bisa minum pake sedotan.

Keliatan kalo suka banget sama balon, pokoknya kalo di mall sekarang ga boleh ngeliat balon deh. Pasti ngerengek minta, mau dialihkan perhatiannya juga susah karena tiap jalan dikit suka ketemu anak bawa balon. Syukurlah sekarang banyak restoran yang suka ngasih balon gratis muahahaha πŸ˜€IMG_5023

Suka dikejer trus ditangkep, dia pasti ketawa cekikikan kesenengan. Kalo kita pura-pura kehilangan dia sambil nanya “Loohh Mireia mana yaaa, Mireia.. Mana ya ini Mireia…” trus celingukan. Dia langsung diem nungguin ampe kita ‘menemukan’ dia. Trus kalo kita ‘nemuin’ dia dan bilang “Waahh ini dia Mireia!”, dia bakal cengengesan seneng lol. Kadang-kadang dia juga bakal manggil seakan ngasi tau ini loh Mireia di siniiii hehehe.

Suka banget copotin kacamata gue. Trus kadang dikasih ke orang lain misalnya papanya ato suster. Trus diminta lagi sama dia, dikasih lagi ke gue. Kadang copotin trus kasih gue trus copotin trus kasih gue, gitu aja bolak balik sampe gue kzl. Lol.

 

Udah bisa bekerja sama pas dipakein celana, bisa otomatis angkat kakinya gitu untuk dimasukin ke lobang kaki celana/pospak.

Pertama kalinya ke kondangan malem. Padahal kondangan malem gini itu jam tidurnya dia hehehe. Tapi masih bisa bertahan sampe gue kelar makan baru rewel ngomel-ngomel ga mau digendong bapake hahahaha.

Pertama kali juga ke acara ulang tahun. Setiap mas MC nanya “Siapa yang mau hadiah??”, eh nih bocah jerit aaaaa! kenceng kayak nyautin lol. Sampe akhirnya mas MC sodorin mic, ealah dia malah mingkem huahahahahahaha.

IMG_4594

Oh dan pertama kali naik choo-choo train yang di mall itu hehehe. Lumayan happy sih, meskipun cenderung lempeng aja di dalem kereta.

Masih manja, belom terlalu bisa tidur sendiri. Kalopun udah ngantuk, tetep aja dia paksa main sampe rewel. Baru mau bobo kalo digendong goyang-goyang pake nyanyi ato sambil ngempeng nenen. Tapi berusaha gue nikmati aja sambil mikir bahwa akan tiba saatnya dia tau-tau bisa tidur sendiri tanpa minta digendong.

Sekarang udah tau kalo ga dikasih apa yang dia mau, tinggal ngerengek. Kalo belom berhasil? Nangis boong-boongan aja. Belom berhasil juga? Nangis jejeritan. Ish. Drama queen macam mamaknya hahaha πŸ˜›

Udah bisa disuruh masukin benda ke tempat yang gede semacem box kontainer plastik buat simpen mainannya. Kalo yang ukuran tempatnya pas-pasan, dia masih kesusahan karena masukinnya kan ngasal gitu kayak dilempar hahaha.

Ngeliat dia yang udah ngerti instruksi, bisa diajak becanda, semuanya terasaΒ bittersweet. Satu sisi menyenangkan banget ngeliat dia makin gede makin ngerti, tapi sisi lain mengingatkan gue bahwa she’s not a baby anymore.

IMG_4975

Ah how time flies :”)

Welcome to toddlerhood, Reia.

Happy first birthday, please be healthy and happy. I love you for as long as I breathe.

IMG_4995

IMG_4966

Birthday Chart by @cataleyadesignhouse

 

 

 

 

 

 

 

9

Mireia 10-11 Bulan

Gigi nambah 2 lagi di bawah, jadi sekarang total ada 8. Duileh jadinya sempet banjir liur lagi dan ada beberapa malem yang dia nangis-nangis mendadak semacam kaget gitu pas tidur.

IMG_3541

Gigi masih 7 pas di foto ini hehe

Sejak dia mulai 9 bulanan sampe sekarang itu rasanya termasuk masa-masa yang menyenangkan karena dia udah mulai lebih bisa ekspresiin diri meskipun apa yang dia omongin belum bisa kita pahami dan mulai ngerti juga apa yang kita bilang.

Contohnya pas diingetin turun kaki duluan.

Ato waktu mau megang keset kaki, begitu dia mulai merangkak ke arah keset bakal gue ingetin “Reia ga boleh pegang keset kaki yaaa”

Dan dia… bakal tetep megang. Huahahaha. Megang sekali aja gitu di ujungnya semacam untuk memuaskan hasrat geratakan. Setelah itu gue bakal bilang lagi “Gak boleh, Reia. Jorok.” Udah tuh dia bakal diem ngeliatin ato langsung mengalihkan perhatian ke hal lain. Pernah dia mau berdiri sambil pegangan sama lemari TV, nah area buat dia pegangan itu ada kabel stop kontak. Gue ngelarang dia buat megang stop kontak, jadi dia ngerengek mau nangis gitu karena mau pegangan tapi ga boleh megang juga huahahahahaha. Akhirnya gue dorong stop kontaknya ke ujung dalem baru dia bisa lanjut pegangan dan berdiri πŸ˜›

Walaupun ya terkadang tetep aja ada saat-saatnya dia ngotot ngelakuin hal yang udah dilarang. Biasanya kalo udah gini, gue bakal mengevakuasi dia dari tempat kejadian dan dia bakal… nangis πŸ˜›

IMG_3697

Rasa-rasanya udah mulai bisa ngomong beberapa kata tapi kadang kok rancu juga sebenernya dia tau artinya apa ngga.

Kayaknya first word dia itu “Nyenen”. Pas jam tidur malem, kalo gue ambil posisi duduk deket lokasi bobonya sambil buka kancing daster, dia bisa ketawa sambil bilang “Nyenen, nyenen” trus nyamperin gue. Itu kalo lagi masih sabar. Kalo udah ga sabar, dia separoh mau ketawa separoh mau nangis gitu ngeburu-buruin gue huahaha. Apalagi kalo gue lama-lamain buka kancingnya, dia bakal protes sampe narik daster huahahaha πŸ˜€

Anehnya adalah dia jarang manggil gue mama loh hahaha. Aneh ya padahal katanya kan biasanya bayi bakal ngomong itu duluuuu, mana ini manaaaa πŸ˜›

IMG_3831

Udah bisa nepuk dirinya sendiri kalau ditanya Mireia mana. Trus kalo kita lanjut tanya papa mana, mama mana, eh yang ditepuk tetep aja dirinya sendiri huahahah.

Sempet gue bawa ke kantor karena susternya sakit ga masuk kerja, nah pas di kantor dia ngeliat gue angkat telpon. Waktu suapin dia dan dia maenin gagang telepon, gue tempel itu gagang di kupingnya dan bilang “Halo? Halo?”. Sempet juga nelpon ke temen gue dan tempelin ke kupingnya biar dia tau kalo gagang telepon itu bisa buat denger suara orang ngomong sama kita.

Eh.. besoknya pas kita bilang “Halo?” ke dia, dia langsung tempelin tangannya ke kuping loh kayak lagi telponan πŸ˜€

Cepet bener belajarnya ya anak-anak ini πŸ˜€

Tapi jadi harus lebih hati-hati juga karena itu artinya dia udah bisa niru apa yang kita lakuin. Susternya sempet nyanyi “Kalau kau senang hati, tepuk tangan…” trus Reia kan bakal tepuk tangan karena udah tau. Nah pernah kapan itu susternya pas lagi suapin dia sambil nyanyi, jadi satu tangan megang mangkok, satu tangan lagi susternya tepuk-tepuk paha dia sendiri sebagai gantinya tepuk tangan. Eh malemnya pas kita nyanyiin lagu itu lagi, Reia tepuk-tepuk paha aja dong. Hahahaha.

Udah makin pinter jalan sambil dorong box yang ada rodanya. Ato dorong kursi. Tapi tetep belom bisa berdiri tanpa pegangan, entah ga pede entah apa. Kalo ada senderan di belakang sih dia masih bisa.

IMG_3291

Paling seneng diajak maen kejar-kejaran, dia bakal merangkak kabur sambil cekikikan seru. Demen ngaca juga, kalo dipakein bando ato apa gitu, dia bisa ngaca sambil cekikan ato senyam senyum πŸ˜€

Kalo makan kayaknya cuma semangat di awal-awal doang lol, setelah beberapa suap pinter mangap mangap, suapan-suapan selanjutnya udah kudu entertain dia entah kasih mainan ato ngajak becanda.

IMG_3833

Ngga berasa sebulan lagi udah genap setahun. Lucunya, dulu pas dia masih newborn trus gue ngobrol sama buibu yang anaknya umur setaun, gue ngerasa umur setaun itu udah gede. Nyatanya pas sekarang Reia udah mau setaun, gue ngerasa dia tetep aja baby banget hahahaha.

IMG_4071

 

 

 

 

9

Perlengkapan Pumping di Kantor

Sebagai seorang working mom, salah satu hal yang bikin bingung pas mau balik ngantor setelah selesai cuti melahirkan adalah: Kudu bawa apa aja ya untuk pompa di kantor?

Gue nanya ke buibu kece di grup, trus baca blog-blog beberapa orang juga. Tapi kok masih ngeraba-raba apa aja yang perlu gue bawa hahaha. Akhirnya gue bawa buanyaaakkkk banget kayak orang mau pindahan di hari pertama ngantor. Hahahahaha. Seiring berjalannya waktu dan perjalanan pumping di kantor, gue mulai ngerti apa yang harus dibawa, apa yang harus ditinggal, apa yang perlu, apa yang gak perlu.

Gue tulis ini buat sekedar masukan atau bahan pertimbangan buat para working moms lainnya yang mau siap-siap ngantor lagi. Yuk ah, jadi bawa apa aja ya?

  1. Mesin Pompa. Ini awalnya gue bawa pulang pergi karena di rumah sebelum tidur gue masih ada sekali jadwal pompa. Bangun tidur juga pompa kalo sempet. Setelah Reia mau 11 bulan dan gue udah hampir ga pernah pumping di rumah (biasanya pompa di rumah pas libur doang), akhirnya pompaan gue tinggal di kantor saat weekdays. Baru gue bawa balik di hari Jumat. Dengan catatan: Gue punya pompa cadangan di rumah (Medela Swing Maxi dan Avent Manual Comfort), jadi kalopun gue kelupaan bawa pulang masih gak apa-apa.

  2. Corong Pompa sepasang. Ini gue tinggal di kantor aja di dalem box kedap udara semacem tupperware ato lock&lock. Gue punya dua pasang corong karena pas free trial sempet beli sepasang, trus pas akhirnya beli Spectra 9+ juga dapet sepasang sebagai bagian dari paketnya. Alhasil sepasang di kantor, sepasang di rumah.

  3. Sabun cuci botol dan sabut/spons cuci botol.Β Kalo udah kelar sesi pumping terakhir di kantor, gue cuci corong pompa dan gue simpen di loker corongnya.
  4. Botol asip.Β Nah ini salah satu yang sempet bikin gue galau di awal-awal. Beberapa hari pertama, gue bawa botol kaca yang tutup karet itu. Tapi ada beberapa hal yang ribet yaitu: Kudu tuang-tuang dari botol di pompaan ke botol kaca ini, kuatir tutup botol lepas pas dibawa perjalanan naik kereta dan ojek saat pulang ke rumah, sama kapasitas botol kaca yang tidak terlalu banyak bikin gue harus bawa sekitar 7-8 botol. Jadi akhirnya gue bela-belain keluar duit lebih buat beli botol-botol baru yang bisa langsung dipake buat pompa sekaligus buat Reia nyusu. Jadi gue bawa sekitar 6 botol sehari (sekarang 4 botol doang dan yang diisi asip cuma 3 botol), jumlahnya genap karena gue selalu double pump. Nah abis pumping gue tinggal tutup botolnya dan masukin kulkas. Sampe di rumah, botol pindah ke kulkas rumah, trus pas mau diminum Reia tinggal ganti tutupnya ama dot. Gue ngerasa jauhhh lebih nyaman begini. Lebih ga rempong.IMG_9105
  5. Ice gel. Ini jelaslah yah buat apa, biar susu ga rusak dalam perjalanan pulang ke rumah. Biasanya pagi-pagi begitu sampe kantor, langsung gue taro di freezer kantor dulu, jadi pas mau pulang masih dalam keadaan dingin beku.
  6. Kotak tupperware/lock&lock yang muat buat naro botol-botol susu. Berhubung simpen di kulkas kantor yang penggunaannya sharing, gue ‘melindungi’ asip gue dari berbagai kemungkinan. Dan memang udah beberapa kali pas buka kulkas sore-sore eehhh taunya ada yang beli duren. Baunyaaaa ampun ampunan, jadi puji Tuhan deh dengan disimpan dalem kotak kedap udara setidaknya asip ga tercemar bebauan tajem. Kotak ini gue tinggal aja di kantor (yaiyalah ya, rempong amat bawa pulang pergi muahahah). Opsi lainnya pake cooler bag.

  7. Kotak untuk taro corong pompa. Setiap abis penggunaan pompa, gue simpen corongnya di freezer untuk penggunaan selanjutnya. Gue pernah coba simpen di chiller dan entah kenapa kok lama-lama berasa gampang bau basi, mungkin karena chiller kantor lebih sering dibuka tutup oleh orang-orang jadi suhunya berubah-berubah terus. Nanti setelah penggunaan terakhir, gue cuci kotaknya bareng corong pompa baru simpen di loker.

  8. Nursing apron alias kain penutup menyusui. Gue beli yang full ketutup depan belakang jadi macem lagi pake poncho. Soalnya gue pumping di meja kantor, bukan di ruangan khusus. Karena ketutup full dan bermotif kembang-kembang macem baju, semua orang ga ngeh gue sebenernya lagi pumping hahaha.

    Image result for nursing apron full cover

    Gue beli yang merk ini nih, Petite Mimi

Kayaknya yang utama itu, tapi ada beberapa hal juga yang gue simpen di kantor, sekedar just in case.

  1. Tuas manual pompa. Berhubung spectra 9+ ngasih tuas manual, jadi gue taro di kantor seandainya gue lupa bawa mesin pompa. Trus pernah lupakah? Pernah hehe. Bukan lupa sih sebenernya, tapi emang kirain ga bakal kepake karena bawa Reia ke kantor. Ah Reia kan nenen langsung >> pikir gue. Taunya tetep kemeng dan perlu dipompa hahaha. Berhubung corong emang udah di kantor, jadi tuas manual ini penyelamat biar ga perlu merah pake tangan hahaha.
  2. Sekotak kantong asip. Awal-awal gue bawa ini karena kuatir kalo botol kaca asi ga cukup, bisa pake kantong asip. Tapi kalo kelupaan bawa botol juga kantong asip bisa dipake πŸ˜€
  3. Valve cadangan.Β Karena bagian pompa yang satu ini gampang sobek, jadi sesuai saran buibu di grup, gue beli cadangannya dan gue simpen di kantor.

Yang gue bawa trus akhirnya cuma kepake beberapa kali adalah Sterilizer Uap. Huahaha.

Jadi kalo di rumah kan sterilnya pake Panasonic Dish Dryer, alhasil pas dapet kado sterilizer uap, gue udah mantep buat dipake di kantor aja. Buat ngesteril corong pompa, pikir gue.

Eh baru kepake beberapa kali, gue malah males huahaha. Jadi sekarang corong pompa yang abis dicuci, gue taro di atas piring beling, trus gue guyur aja pake air mendidih (di kantor ada teko listrik buat masak air), diemin semenit dua menit, baru deh gue kibas kibas masing-masing bagian corong ampe kering dan simpen lagi di kotaknya.

Udah itu aja seinget gue. Semoga membantu siapapun yang ga sengaja mampir di postingan ini karena mau cari tau apa yang kudu dibawa buat mompa di kantor hehe.

Be happy, be strong, selamat pumping, wonder women semuanya! πŸ™‚