49

Sampah Masyarakat

Dulu saat gue masih SMA, sempat terpikir oleh gue, untuk ga usah punya anak aja.

The world is so scary, full of dangerous people. Yakinkah gue mau menciptakan kehidupan baru untuk tinggal di dunia yang tidak aman ini?

Belum lagi persoalan global warming yang semakin meresahkan, sedangkan manusia masih cuek bebek aja dan justru semakin serakah. Hutan dibabat. Hewan-hewan banyak yang mati demi keserakahan kita aja, kadang demi menjadi pajangan, kadang demi memberi status sosial saat jamuan makan malam. Yakinkah gue mau menciptakan kehidupan baru di bumi yang semakin renta karena dianiaya oleh kita para manusia ini?

Sampai sekarang, setelah gue berubah pikiran pun, gue bisa menghargai keputusan orang yang tidak mau memiliki anak.

Menikah, tidak menikah. Memiliki anak, tidak memiliki anak. Beragama, tidak beragama. Kuliah, tidak kuliah. Suapin anak, atau biarkan dia BLW. Semua itu adalah pilihan.

And I totally respect that.

Yaahhh palingan agak ngatain dikit dalem hati lah ya kalo alesannya rada aneh buat gue, misalnya ga mau kuliah meski orang tua punya banyak duit karena males dan maunya nganggur leyeh-leyeh aja. Yah bolehlah gue komen-komen dalem hati gue yaaa. Mihihihihi.

Tapi buat gue, tak pernah sedikitpun berpikir bahwa seandainya gue punya anak, maka anak gue akan ended up menjadi sampah masyarakat. Menjadi orang tak berguna. Menjadi orang yang menyakiti orang lain.

NEVER.

Dan seperti itu pulalah gue rasa, orang tua kita memandang kita. Seperti itu pulalah, perempuan yang mempertahankan kehamilannya – meski ayah dari bayinya tidak mau bertanggung jawab sekalipun – berpikir sambil mengelus perutnya.

Dengan penuh harapan.

Berharap, anak ini nantinya akan jadi anak yang baik.

Berharap, anak ini nantinya akan jadi anak yang membanggakan.

Berharap, anak ini nantinya, meskipun tidak mendapatkan penghargaan nobel ataupun pulitzer ataupun menang di olimpiade, dapat membuat orang lain merasa berarti atau gembira atau merasa bersyukur dengan keberadaan dia.

Mungkin dengan dia yang tersenyum lebar dan ikhlas memberikan tempat duduk kepada orang yang membutuhkan di angkutan umum.

Mungkin dengan dia yang menggandeng anak yang tersesat di mall dan membantu mencarikan orang tua anak tersebut.

Mungkin dengan dia yang membantu pramusaji membereskan piring bekas makannya dan #TumpukDiTengah saat di restoran.

Mungkin dengan dia yang mengurangi penggunaan plastik dan kertas.

Mungkin dengan dia yang memeluk temannya yang sedang berduka.

Mungkin dengan dia yang tak pernah mengekspresikan kasih sayangnya, tapi dalam diamnya bekerja keras membantu membayar biaya kontrakan rumah untuk meringankan beban orang tuanya.

Mungkin dengan dia yang membantu orang tuna netra menyebrangi jalan.

Mungkin, dengan banyak perbuatan lainnya yang meski kecil dan terlihat remeh, tapi membawa perubahan baik untuk kehidupan ini.

Seperti itulah harapan gue saat memutuskan untuk mempunyai anak. Dan gue yakin, seperti itu jugalah harapan orang tua gue kepada gue.

Gak perlu hebat sampai menang penghargaan ini itu. Meskipun kalau bisa sampai seperti itu, tentu akan jadi bonus yang sangat menyenangkan hati mereka.

Gak perlu jenius sampai berjaya di olimpiade matematika dunia. Meskipun kalau bisa sampai seperti itu, tentu akan membuat mereka bangga setengah mati.

Tapi cukup dengan menjadi orang yang berbudi baik. Mengasihi sesama. Menghormati orang lain. Menghargai perbedaan.

Itu saja, sudah cukup.

Karena bila semua orang bisa jadi seperti itu, maka gue yakin dunia pasti akan menjadi tempat yang jauh lebih menyenangkan untuk ditinggali.

Tapi nyatanya, tidak mudah untuk menjadi seperti itu.

Masih begitu banyak ketamakan. Masih begitu banyak kesombongan. Masih begitu banyak kekurangan gue, sebagai seorang manusia yang mengharapkan dunia yang lebih baik.

Tetapi melalui kekurangan itulah gue tau gue harus belajar untuk menjadi semakin baik lagi. Agar dapat memberi contoh kepada anak gue. Agar kemudian dia dapat memberi contoh lagi kepada anaknya. Dan dilanjutkan sampai ke generasi-generasi selanjutnya.

Itu yang ada di pikiran gue saat gue memutuskan untuk punya anak.

Dunia ini memang semakin seram.  Semakin banyak tipu daya. Semakin banyak arogansi. Semakin banyak kriminalitas. Tapi gue membesarkan dan mendidik anak agar dapat menjadi garam dalam kehidupan.

Dengan harapan.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa menjadi generasi yang penuh toleransi. Saling menghargai. Saling menghormati. Meski ada begitu banyak perbedaan.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa terhindar dari fanatisme dan merasa selalu paling benar sendiri.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa mendapatkan seorang pemimpin yang baik dari antara mereka, yang adil dan bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan sesama.

Semoga nantinya dia dan generasinya bisa menghargai alam dan mengambil secukupnya saja sesuai kebutuhan.

 

Dan tidak, tentu saja tidak akan menjadi sampah masyarakat.

Karena gue yakin, tidak ada orang tua yang berpikir wajar dan normal yang merasa bahwa anak mereka hanya akan menjadi sampah masyarakat saja.

Kita mendidik anak, baik itu anak sendiri maupun anak orang lain, selalu penuh dengan harapan yang baik.

Atau adakah yang melahirkan anak dengan harapan agar nantinya dia akan memerkosa orang lain? Atau melahirkan anak dengan berpikir bahwa anak ini nantinya udah gede bakal jadi begal motor?

I guess none of us would think it that way.

Tidak mau punya anak? Cool.

Tidak mau punya anak karena merasa hanya akan menghasilkan sampah masyarakat?

Hmm. What is it with your heart and mind that made you think you would produce a society-trash after you made love with your partner? 

Gue rasa, kalau ada yang berpikir seperti itu, mungkin sudah seharusnya dia fokus ke dirinya sendiri. Mengobati luka batinnya. Menganalisa apa yang sebenernya menjadi masalah dalam hidupnya. Kurang perhatian kah? Kurang kasih sayang kah?

And I hope all the best for him. Or her. Or anyone in particular that would think it that way.

Advertisements
8

Senin Pagi Ini

Tadi pagi pas di dalem commuter line, ada seorang bapak tuna netra naik dari stasiun Tanah Abang, mau turun di stasiun Karet. Bapak ini bawa tongkat, dan dari awal masuk udah langsung minta maaf minta maaf geser ke pintu yang akan kebuka di stasiun Karet nantinya.

Kebetulan gue juga turunnya di stasiun Karet.

Saat turun dari commuter, Bapak ini dengan tongkatnya jalan pelan-pelan. Apalagi dengan begitu ramainya penumpang naik turun, bikin mobilitas agak terganggu. Gak lama kemudian, ada seorang mas-mas berpakaian lusuh ngerangkul bapak itu dan nyelipin uang di dalam tangannya. Segera setelah nyelipin uang, mas-mas itu langsung jalan cepat bergegas ke arah pintu keluar.

Gue merhatiin itu semua karena gue jalan di belakang si Bapak.

Saat ngantri untuk keluar, gue dan Bapak tuna netra sebelahan. Bapak di belakang bapak tuna netra dengan sigap langsung ngebantuin bapak tuna netra untuk nempelin kartu commuternya ke mesin.

Setelah itu, seorang bapak lain juga langsung nuntun si bapak tuna netra dan nanya “Mau kemana Pak? Yuk saya anter ke depan”.

Hati gue langsung hangat.

Begitu banyak kebaikan yang gue saksikan pagi ini.

Gue sendiri belum melakukan kebaikan apapun. Tapi hal ini memacu semangat gue untuk melakukan banyak kebaikan juga terhadap sesama.

Kebaikan-kebaikan yang keliatannya kecil dan sepele, tapi bisa jadi memberi arti kepada banyak orang.

Sama seperti gesture-gesture dari orang-orang yang membantu bapak tuna netra itu. Gue yang melihat, merasakan dampak yang begitu positif dan menyenangkan.

Kejadian-kejadian itu, kalo kata orang sunda mah, so heartwarming.
*
diselepet orang sunda*

Dengan perasaan riang, penuh kehangatan, masa depan yang terlihat cerah dan penuh hal baik, gue melangkah keluar stasiun untuk naik mikrolet.

Setelah nyebrang dua kali dan setiap kali nyebrang selalu terasa seperti petualangan mengancam nyawa karena ga ada zebra cross maupun jembatan penyebrangan di perempatan jalan raya besar, gue ngeliat mikroletnya lagi ngetem tapi kok ada mbak yang berdiri di luar mikrolet.

Gue tau mbak itu langganan naik mikrolet karena sering papasan, kita selalu naik dari tempat yang sama dan turun di tempat yang sama juga tiap pagi.

Kalo mikrolet masih ngetem artinya kan belom penuh ya. Lah trus nape kaga naik, mbak?

Pas gue mendekat, dua orang tukang ojek yang mangkal deket situ langsung bilang “Nah ini aja nih, mbak sini! Naik nih, di depan masih ada tempat! Mbaknya kan kecil, jadi muat! Nih sini ini di sini.”

Sambil buka pintu depan yang sudah ada penumpang lain di dalemnya, tukang ojeknya ngulang lagi “Mbaknya kan kecil, kalo kecil muat nih di sini.”

….

Jadi.

Ternyata.

Mbak yang itu ga naik karena badannya emang gede. 3 kali lipetnya gue.

Sedangkan tempat yang kosong tinggal di depan sebelah pak supir, itupun empet-empetan ama penumpang lain, jadi duduk bertiga di depan ama pak supir.

Tapi.

MBOK YA GA USAH NGULANG-NGULANG DAN MENEGASKAN SEBUT-SEBUT SOAL KECIL BESAR TOH MAS.

-_-

Kan kasian ya si mbak’e. Diliatin seisi mikrolet.

Karena gede jadi ga bisa naik.

Kehangatan di hati gue langsung pada bubar. Amblas byar.

Minggat semuanya.

Senin pagi gue berubah dari yang penuh keriangan jadi awkward.

Gak mungkin juga kan gue dengan gagah berani bilang “Maaf saya menolak naik mikrolet ini karena sampeyan-sampeyan ini telah mempermalukan si mbak. Saya akan temenin si mbak’e aja nungguin mikrolet selanjutnya.”

Gak mungkin bisa begitu.

Karena nanti gue makin telat sampe kantornya.

Jadilah gue yang disebut-sebut kecil berulang kali ini mau ga mau naik aja sambil bersyukur setidaknya mikrolet langsung jalan begitu gue naik.

Dan gue cuma bisa berdoa semoga mikrolet selanjutnya langsung ada biar si mbak’e ga nunggu lama.

Hufh.

Sungguh permasalahan hidup ini ada-ada aja ya.

Gimana senin pagi kalian?

 

54

Why I Decided To Say Bye

Warning: Postingan ini isinya negatif. Keselnya gue. Ngomongin orang. Hilangnya pertemanan. Jadi kalau lagi ga mau ngeliat yang negatif-negatif, jangan lanjut baca. Tapi biasanya makin negatif orang makin penasaran pengen baca kali ya, soalnya kan suka seru baca drama orang lain. Huahahaha 😛

Yuk ah cuss.

Belum lama ini gue menjaga jarak dengan salah seorang temen di kantor. Sebelumnya deket dan gue nganggep gue sendiri sebagai salah seorang temen baek dia di kantor. Tapi entah karena gue bertepuk sebelah tangan, apa kegeeran apa gimana, ternyata beberapa hal yang terjadi kayak membuka mata gue bahwa dia sendiri ga menganggap gue sebagai temen baik. Hehe.

Dan yang bikin sedih adalah, ternyata dia punya satu sifat yang sangat gue hindari dari seorang temen, yaitu: Suka bohong.

Sebenernya gue udah tau dia suka boong, cuma gue kira masih untuk hal-hal kecil yang sifatnya becandaan. Tapi ternyata hal sepele banget aja tuh dia bisa boong juga. Ini gue kasih contoh aja ya, tapi bukan dari kejadian yang sebenernya, cuma contoh kasus yang kira-kira mirip aja.

Contohnya lagi ngobrol santai di kantor dan gue nanya, “Tadi pagi lo sarapan apa?” dan dia jawab “Makan bubur”, trus gue tanya lagi, “Oh makan bubur, lagi sakit?” “Ngga sih, tapi bingung mau makan apa, yaudah deh jadi makan bubur aja.” kemudian kita lanjut ngomongin hal lain.

Percakapan wajar, ga ada yang aneh, ga ada yang lain dari biasanya. Tapi sebenernya, dia udah bohong karena sebenernya gue sempet ke kantin pagi itu dan ngeliat dia makan nasi uduk. Aneh kan? Ga tau kenapa dia memilih untuk berbohong, tapi percakapan itu bener-bener seperti percakapan biasa di hari yang biasa tanpa ada hal yang harus bikin gue paranoid.

Tapi setelah tau kalo dia bisa bohong semudah itu, secepat itu, dan sesantai itu, bikin gue jadi bertanya-tanya gimana gue bisa percaya lagi sama dia? Kalo untuk percakapan begitu aja dia bohong?

Sebenernya trigger utama gue jadi jaga jarak sama dia sih jauh lebih parah dari itu, tapi kemudian ada tambahan kejadian sepele barusan yang bikin gue jadi mempertanyakan selama ini cerita-cerita dia ke gue beneran apa bohongan? Sampai mana bisa gue percaya?

Jadi.. yah begitulah. Gue putuskan kita jadi rekan kerja biasa aja, ga usah sedekat dulu yang selalu makan bareng, curhat-curhatan, dll.

Ini bukan pertama kali. Gue udah pernah langsung ambil langkah seribu ngejauhin temen kantor (sebut saja Anggrek) yang dulu bisa ngotot dia jujur ampe sumpah-sumpah segala, tapi ujung-ujungnya ngaku juga kalo dia bohong. Ditambah nih orang memutarbalikkan fakta pas cerita ke temen lain.

Kejadiannya: Gue denger cerita dari si Mawar kalo dia lagi sedih sama Delima. Mawar ini hamil sebelum nikah, dan pas dia cerita ke si Delima, Delima ini ngomelin dia kok bisa malah sampe hamil, makanya dijaga dong blablabla gitu deh ya. Nah gue tuh baru denger cerita dari Anggrek kalo si Mawar kayaknya lagi jaga jarak sementara ama Delima. (Waktu itu kita masih satu circle pertemanan jadi masih saling berbagi cerita) trus gue ngomong lah sama si Anggrek, oh alesan si Mawar jaga jarak sama Delima ternyata karena dia sedih ngerasa Delima ga supportive, malah ngomelin dia. Maklumlah hormon bumil ya, maunya disayang-sayang tapi kok malah diomelin, jadi baper.

Eh tau ngga si Anggrek ngomong apa ke Delima?

“Delima, gue denger dari Olive, lo suruh si Mawar aborsi ya??”

Marah lah si Delima ke Mawar karena dia ga pernah ngomong begitu. Mawar juga ngoceh dong ke gue, kok bisa nyampenya gitu padahal kan dia ga ngomong begitu ke gue. Pas gue konfrontasi, si Anggrek cuma dengan santai bilang “Eh iya, gue salah ngomongnya.”.

-_-

Padahal udah jadi heboh. Sejak itu juga gue langsung bye-bye deh untuk temenan sama Anggrek. Serem gue sama orang begini.

Kejadian terakhir yang baru saja terjadi adalah, gue memutuskan untuk unfollow instagram dan blog salah seorang blogger.

Mari kita sebut B. Awal gue ketemu si B ini sebenernya menurut gue anaknya lucu, asyik dan seru.

Super pede. Which, somehow, becomes her trademark.

Tapi entah itu emang dia yang sebenernya ato that’s what she wants people to believe how she is. (Duh diomelin deh nih gue pake bahasa indonesia campur inggris gini dalem satu kalimat lol).

Anyway, suatu hari dia posting di IG pendapat dia mengenai cara seorang seleb kasih makan anaknya. Jadi concern si B pertama adalah: Cara ngasih makannya salah. Lalu banyak yang komen. Kebanyakan emak-emak sih emang hahaha. *sentil satu-satu emak-emak yang pada baper*

Gue saat itu masih kalem. Masih biasa aja. Gue merasa yang dia omongin sih ada benernya dan ada salahnya. Gue setuju untuk beberapa hal namun juga ga setuju untuk hal yang lain.

Lalu dia dikomen beberapa orang yang menyatakan bahwa kurang lebih cara ngasih makan mah sesuka mama yang mau ngasih aja, kan tiap ibu tau yang terbaik buat anaknya. Ntar juga B bakal tau kalo dia jadi seorang ibu.

Eh dia kok terkesan kesel pas dikomen-komen “Bakal tau ntar kalo udah punya anak sendiri”. Dia dengan teges bilang dia toh ga mau punya anak. (which is completely fine).

Tapi gue ngerasa tersentil saat dia bilang bahwa dia ga perlu punya anak untuk memahami. Dia ga perlu menjadi seorang ibu untuk mengerti, karena dia bisa ngerti dan paham dari ngeliat ibunya, ditambah dia pernah ngajarin anak-anak.

Hmmm. Kalo gitu seharusnya semua yang menjadi tenaga pengajar anak bocah udah bisa jadi parenting expert ya. Pfftt.

Gue memutuskan untuk nimbrung. Komen gue kurang lebih ngasih tau kalo dulu gue juga suka merasa apaan sih saat nyokap gue bilang kalo suatu hari nanti gue akan mengerti saat gue menjadi seorang ibu. Bahkan saat udah menikah pun gue masih ngerasa ih apaan sih. Tapi begitu udah punya Mireia, gue baru bener-bener paham, oohh ini toh maksud nyokap gue.

Ternyata bener. Ternyata memang harus tunggu sampe gue sendiri punya anak dulu baru deh gue paham. Seberapa banyak pun teori yang gue lahap, seberapa lamanya gue ngeliatin orang lain mengasuh anaknya, seberapa seringnya gue bantu orang merawat anak mereka, tetep aja gue ga akan bener-bener ngerti sebelum gue sendiri punya anak.

Beneran deh. Lo mau sok pinter kayak apapun ga bakal bisa bener-bener ngerti karena rasanya tuh beda. Semua emak-emak pasti setuju sepaham sesuara deh sama gue lol.

Concern B selanjutnya adalah bahwa karena si seleb ini public figure, maka kalo dia posting kan tar orang-orang bisa ikutan caranya dia padahal salah.

B kemudian posting lagi screenshot pendapat seorang dokter untuk mendukung pendapatnya. Which is, once again, completely okay. Tapi dia (menurut gue) menelan mentah-mentah tweet nyinyir si dokter  dengan posting di caption mengutip kembali omongan si dokter, yang mana mengatakan bahwa kalo anak-anak pada sampe sakit (karena cara pemberian makan yang menurut dia salah itu) tar berobatnya pake BPJS dan termasuk di dalamnya berarti kan pake duit BPJS dia. Kelas 1 pula.

Nah di sini gue komen lagi dong. Lebih keras daripada komen gue di postingan pertama, tapi sebenernya sih ga pake marah-marah kok. Ga pake emosi, gue cuma mau ngelurusin bahwa ga bisa plek-plekan nyalahin si seleb dengan posting cara kasih makan anaknya. Wong anak kan anak dia. Kalo kemudian orang-orang pada ikut-ikutan cara dia ngasih makan anak, yang salah yang ikutan dong. Iya gak sih?

Logikanya gitu ga sih?

Masa kalo ada seleb posting makanan-makanan enak melulu, trus banyak yang ngeliat jadi ikut-ikutan, trus jadi kolestrol ato diabetes, trus jadi kudu berobat pake BPJS… Kita jadi nyalahin si seleb yang posting?

Bukankah kita sebagai pembaca yang seharusnya menggunakan otak kita untuk berpikir, ini cocok ga untuk saya ikuti. Ini baik ga untuk saya tiru. Begitu ga sih?

Menurut gue sih gitu. Terserah lah ya menurut kalian begitu apa ngga. *Loh kok nyolot* Huahahaha.

Trus kalo mengenai BPJS, yah namanya pun fasilitas kesehatan dari pemerintah untuk berobat ya. Kalo emang segitu keselnya duit BPJS dipake buat orang-orang pada berobat karena kebodohan sendiri, mestinya tiap hari tongkrongin RS Dharmais trus marah-marahin orang yang berobat kanker paru karena merokok.

“Bapak sih, merokok! Udah tau merokok bahaya! Bapak ga baca itu peringatan di bungkusan rokoknya?! Sekarang kanker paru kan! Berobatnya pake duit BPJS kan! Duit siapa itu BPJS hah?? Ada duit saya juga! Kelas 1 pula!”

Sebenernya gue udah ga mikirin soal postingan B lagi. Gue juga ga merasa postingan dia atopun komen-komenan kita harus bikin gue unfollow. Berargumen itu hal yang wajar. Kita punya pendapat berbeda pun wajar. Saling mendengarkan pendapat orang lain membantu membuka pikiran kita bahwa ternyata orang lain bisa berpikiran 1234 saat kita mikirnya 5678.

Tapi kemudian B membuat referensi terhadap postingan instagram tersebut di blogpostnya. Alhasil gue iseng ngeliat lagi tuh postingan… dan menyadari bahwa ada komen-komen yang dia hapus. Komen gue yang keras di postingan kedua ga dihapus. Tapi komen pertama yang lebih ‘halus’ dihapus, komen-komen balasan dia terhadap komen orang lain dihapus, disisakan yang (menurut gue) ‘manis-manis aja’. Contohnya komen dia berterima kasih untuk nasihat-nasihat. Padahal nasihatnya aja dihapus lol. Kemudian disisakan juga komen-komen yang terkesan ‘menyerang dia bertubi-tubi’.

Gue jadi inget di hari postingan instagram itu lagi banyak dibahas dan menerima komen, sempat ada komentar entah dari B atau dari temannya bahwa orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat B terkesan seperti ‘hater’.

Lol.

Kalo menurut gue.. (lagi-lagi menurut gue karena kan ini blog gue ya, ga suka ya ga usah dibaca, ato unfollow aja gue, bwek! Hahahahah 😛 Ih olip nyinyir ih) beda pendapat kan wajar banget ya.

Kalo kita ga setuju sama suatu hal trus menyuarakan pendapat kita di publik ya harus siap dengan pendapat-pendapat orang lain yang tidak setuju sama kita juga dong.

Kecuali… kita posting itu maunya cuma dapet dukungan doang. Pokoke ga mau dikomen yang ga sependapat, apalagi dikritik. Hati panas. Hati tak senang. Hati ga kuat, massss. Pokoknya setuju dong sama eike! Nah kalo ini kadang gue gini nih pas cerita ke koko. Jadi gampang esmosi kalo koko malah ga setuju HAHAHAHA #kokcurcol

Balik lagi ke B, gue jadi bertanya-tanya kenapa ya dihapusss? Padahal dengan dia menghapus komen-komen itu, bikin orang yang baru baca itu merasa kita macem ngebully dia rame-rame.

Padahal kalo menurut gue (duileh lagi-lagi menurut olip, bosen aahh), kan cuma pada menyuarakan pendapat ya. Sama seperti dia menyuarakan pendapatnya mengenai cara si seleb kasih makan anaknya. Cuma kebetulan kebanyakan mak-mak yang komen emang kontra terhadap pendapat dia, dan komennya panjang-panjang. Sedangkan yang pro komennya dikit-dikit. Tapi ya rapopo toh? Mestinya yah. Jadi… Kenapa dihapus ya komen-komen dia yang ngebales kesel dibilang baru ngerti ntar setelah punya anak? Kenapa dihapus ya komen gue? (Ih olip mah gitu, baper komennya dihapus. Hakhakhakhak)

Trus di blogpost terbaru dia, dia juga bilang postingan dia soal seleb membuat dia di unfollow beberapa orang. Sementara gue dapet informasi bahwa dia sendiri juga unfollow dan nge-block beberapa orang setelah ‘insiden postingan seleb’.

But she made it seems like she was the victim.

Just because she posted something like that and people oppose her opinion, those people unfollow her. Hiks hiks.

Padahal yah gak gitu-gitu banget juga. Kayaknya dia sendiri unfollow beberapa orang yang komen kontra di postingan dia. Cuma kan orang ndak tau ya. Dia tulisnya kan cuma bagian yang dia jadi korban unfollow.

Jadi ya dia korbannya aja deh pokoke. Kita haterzzz.

Setidaknya, itulah kesan yang gue dapatkan.

It was a shame since I initially thought of her as a funny and bubbly girl.

Ternyata oh ternyata, I can’t handle the drama she offered.

So I said bye to the mere friendship that was formed from blogging.

Btw kalo kalian… hal apa yang kira-kira bisa bikin kalian ilfil dan berhenti temenan? 🙂

Note: Gue memutuskan ga temenan sama B (or maybe just be an acquaintance of her and vice versa) karena ada caranya dia yang ga cocok di gue, tapi tentunya banyak orang lain yang cocok sama dia dan merasa dia asyik-asyik aja. Jadi buat yang tau siapa B, jangan sebut inisial aslinya apalagi tulis namanya ya untuk menghindari terciptanya imej tertentu buat orang lain. Nuhun.

38

Setelah Kenal Takut Tak Sayang

Ketauan banget ga ada kerjaan ya ampe bikin beginian lagi? Huahahaha 😛

Berhubung dikomen beberapa temen kalo postingan gue sebelum ini kurang seru karena cuma kayak lagi isi biodata *lirik mira. Lol*, gue bikin postingan ini deh untuk kasi tau beberapa fakta tentang gue yang.. hm.. bikin gue malu karena berupa aib menurut gue dan yang bikin gue malu karena emang malu-maluin hahaha.

  1. Waktu kuliah, gue dan temen-temen sekelas bisa pada nonton video bokep. Selain di kelas, di kostan juga bisa rame-rame nonton bokep di ruang tamu. HAHAHAHA. Aduh mati malu banget dah nulis ini. Maklum isinya perempuan semua sih ya, jadi pada ga pake malu-malu segala dah. Trus kalo lagi nonton gitu, kita sambil bahas. Ih kayaknya sakit yah. Kalo dibegini-beginikan itu ntar bisa gini ga sih? *isi sendiri aja begini begininya huahahah* Yah pokoke dibahas lah lol. Dan biasanya dvd bokep itu beredar dari satu kostan ke kostan lain, gue masih inget kostan gue dapet operan dvd bokep Miyabi 7 episode (7 keping dvd!!). Gue nonton ga sampe 5 menit trus ilfil, sampe sekarang gue ga demen ngeliat si Miyabi hahaha.
  2. Masih berkaitan sama dunia perbokepan (LOL!), waktu kuliah, temen gue ada yang sakit hati sama mantannya karena mantannya ternyata punya pacar lain di Bandung (dan temen gue ini ternyata justru si selingkuhan, tanpa dia ketahui). Saking sakit hatinya, dia minta gue bantu ngehack FB si mantan. Kita masukin foto-foto bokep gitu ke FB nya tuh cowok, kebetulan dapet foto-foto yang size badan pasangan di foto mirip banget sama size badan mantannya & si pacar Bandung itu. Jahat yeh. Tapi waktu itu berasanya kayak “SUKURIN LO!” gitu hehehe *senyum meringis nahan malu*
  3. Bahasa inggris gue pas-pasan dan terkadang masih suka ngaco grammarnya. Tapi… gue suka jadi Grammar Nazi. Huahahaha. Maafkan yah. Padahal biasanya orang-orang kan pada sebel ya sama grammar nazi, tapi gimana dong, kadang gemes aja. Grammar dan punctuation itu penting loh. It’s knowing “Your shit” atau “You’re shit” 😛 atau misalnya “Menurut kabar burung Tono sakit” bisa jadi 2 arti berbeda kan kalo tanpa koma. Huahahah. Tapi oh tapi.. gue sendiri masih suka salah juga mihihihi. Ga tau malu yeh koreksi orang lain padahal sendirinya tak sempurna. Tapi ya…. seperti yang kita ketahui bersama, kesempurnaan itu hanya milik Allah, kawanku. (AIH SYEDAAAPPP) hahahaha
  4. Gue ceroboh banget. Gue selalu serem kalo ngelewatin area barang pecah belah. Ngeri kesenggol. Ini juga salah satu alasan gue belom berani belajar bawa mobil. Lah gimana mau bawa mobil, bawa badan sendiri aja suka nubruk sana sini. Misalnya gue mau ngelewatin jarak antara orang yang lagi duduk sama meja di belakangnya. Gue yakin banget gue bisa ngelewatin tuh jarak tanpa bersentuhan sama meja maupun sama orang yang lagi duduk. Tapi taunya nubruk salah satu. Bahkan saat jalan di jalan yang lebar aja, gue bisa nyenggol orang lain. Huahahaha. Yang disenggol kesel kali ya, gile jalan segini gedenya masih aja nabrak gue! Lol. Maafkan, abis gue kok berasanya ga bakal kenaaaa, tapi kok ya kena juga 😛 Trus kalo megang barang juga bisa tau-tau jatoh. Jalan di jalanan mulus tau-tau kesandung. Aneh ya. Hahaha.
  5. Waktu kelas 1 SD pernah dapet nilai nol pas ujian, trus biar ga ketauan tuh kertas ujian gue lipet jadi pesawat-pesawatan dan gue terbangin keluar jendela bus jemputan. Bodohnya, itu gue lakukan pas bus lagi ngetem di sekolahan nungguin temen-temen gue yang lain. Jadinya diambil sama si om sopir dan dikasih ke bokap nyokap. Habis deh abis itu gue disabet pake iket pinggang bokap. Lol.
  6. Sering berada dalam situasi mau comblangin orang ato bantuin temen (cewek maupun cowok) jadi perantara antara dia dan gebetannya, tapi ujung-ujungnya si cowok malah jadi suka sama gue. Gue ampe pernah dimusuhin temen cewek karena ini, dan pernah juga jadi disebelin sama gebetannya temen gegara si gebetan ini sebenernya udah suka juga sama temen gue (cowok) eh tapi kok temen gue malah belok, jadinya mau sama gue ajah. Dan.. psstt.. dulu si koko juga sebenernya mau gue comblangin sama bff gue. HAHAHAHA. Duh malu. Tapiiii kalo si koko dari awal emang udah naksir gue kookkk. Hahahaha. Jadi emang gagal deh usaha buat comblanginnya. Trus sejak sama si koko, dia ga kasih gue jodoh-jodohin ato comblang-comblangin orang lagi. Bahaya, katanya. Hahahaha.
  7. Suka bacain plot film di Wikipedia. Apalagi yang horor-horor gue ga berani nonton macam Saw, The Exorcist, dll. Jadinya gue bacain aja jalan ceritanya kayak apa. Trus kalo ngobrol sama orang, bisa ikutan kayak gue beneran ngerti dan nonton, padahal cuma baca plotnya doang. Hihihi. Padahal gue ga mungkin banget nonton film horor maupun slasher karena gue takut. Gue paranoid sama yang serem-serem karena suka ngebayangin yang kagak-kagak di dalem otak. Misalnya lagi mandi trus shampooan sambil merem, bisa tau-tau ngebayangin, duh pas buka mata bakal ada muka serem ancur-ancur berdarah gitu ga ya mandangin gue persis di depan muka gue? Trus takut sendiri. Trus pas buka mata, sampe ndongak ngeliat ke langit-langit juga mastiin ga ada cewe berambut pajang merayap di atas langit-langit. HUAHAHAHAAHA. Iyah. Gue segitu parnonya. Itu ga pake nonton loh. Ga pake nonton aja begitu. Apalagi nonton cobak. Hih. Syeram.
  8. Ga terlalu bisa berada di ketinggian karena berasa mau jatoh. Oke ini biasa. Banyak orang yang begitu. Tapi yang agak tidak biasa adalah, gue kalo berada di tempat tinggi kudu ada pagar batesan minimal setinggi dada. Kalo yang di bawah itu, misalnya sepinggang doang pagernya, gue ga berani deket-deket. Jadi kalo di mall yang pagernya rendah, gue pasti jaga jarak. Ato kalo gue maksa jalan deket itu pun pasti gue deg-degan. Kenapa? Soalnya gue berasa gue pengen loncat. Hehe. Aneh ya. Gue malu loh mengakui ini hehe. Freak banget yak. Entah napa gue ngerasa kayaknya ada dorongan aja gitu berasa pengen ‘coba-coba’ untuk terjun ke bawah. Hehe. Hehehe. Hehehehehehe plis jangan bilang gue freak meskipun ini freak. Please. Setidaknya bilang dalem hati aja yaaa hahaha 😛
  9. Pernah bikin mati seekor kura-kura. Peliharaan by accident karena dia nyasar depan rumah gue dan tetangga bilang ga ada yang tau punya siapa. Akhirnya gue piara. Awal-awal excited. Lama-lama bosen soalnya kura-kura kan gitu aja yah. Ga bisa diajak maen kayak anjing. Trus karena bego miaranya, gue taro dia ke dalem kotak sempit yang cuma seukuran badannya aja, dan diisi air. Gue masih SD deh kalo ga salah waktu itu. Trus melupakan dia akhirnya. Tau-tau pas gue liat lagi, udah tinggal cangkangnya doang, badannya kayak ancur gitu kerendem dalem air 😦 Sampe sekarang gue masih bersalah banget dan bertekad suatu hari nanti mau pelihara kura-kura dengan baik dan benar sebagai penebusan rasa bersalah gue. Tapi belom kesampean. Sorry, Sunday. Sorry for not treating you well. Sorry for being so stupid. Sorry for insisting to have you as pet but forgot your existence. Sorry for not learning that you actually a land tortoise that didn’t need to live in water. Sorry that you have to went through all the agony I caused you. Sorry 😦
  10. Drama queen. Drama beud. Lol. Gue bisa melebay-lebaykan suatu hal untuk cari perhatian koko. Hahahahaha. Apalagi gue suka banget diperhatiin dan disayang-sayang, jadi kalo gue ngerasa koko kurang perhatian ato kurang sayang-sayang gue, pasti mulai deh gue bertingkah dan drama. Hahahaha maap yah ko. Bear with me for the rest of your life yaaahhh 😛

Oke 10 aja deh. Kalo makin banyak tar gue semakin merasa ditelanjangi. Aw malu.

Hahahah. Tapi beneran loh, gue merasa malu nulis ini semua but somehow agak lega juga. Hehe. Weird huh.

Semoga sih udah tau ini semua tapi kalian tetep mau temenan sama gue yaaaa lol. But you know what, it takes a freak to be friends with another freak. Jadi kalo kita bisa cocok temenan… yaaahh kita tau sama tau aja lah yaaaa. HUAHAHAHAHA.

*lalu dijauhin semua orang*

LOL 😀

35

Tak Kenal Maka Tak Sayang – versi Olip

*tring*

Muncul karena di summon Ribka hahaha.

Bermula dari ratu blogger a.k.a Episapi yang ingin kita semua saling mengenal lebih baik, gue di tag Ribka yang di tag oleh Epoi. Semoga makin banyak yang ngetag kesana kemari biar makin bisa saling kenal ya *tebar kecup* *terima dong plis* *ga pake ilernya Reia kok*

So.. Here are 15 facts about Olivia D.

  1. Nama babtis gue Godeliva. Artinya  “Disayang Tuhan”. Kece ya? Gue pilih sendiri loh karena gue babtisnya pas SMP kelas 2. Tapi faktanya gue pilih tuh nama bukan karena artinya, melainkan karena gue nyari nama babtis yang berinisial G. Gegaranya saat SMP itu gue tergila gila sama penyanyi yang namanya Gareth Gates. Muahahahaha. Jadi demi nama samaan inisialnya ama si Gareth aja. Dulu ampe ada kliping tentang si bang Gareth segala, sekarang mah mendingan Garrett popcorn aja deh lol.
  2. Insecure. Like… Seriously super insecure. Untuk lebih jelasnya ada di blogpost gue ini.
  3. Ga bisa multitasking. Kalo lagi ngerjain satu hal yaudah kudu fokus di hal itu dulu, contohnya gue ga bisa telponan sambil bikin surat. Yang ada omongan gue jadi ngelantur ato hasil ketikan gue jadi ngaco. Lol.
  4. Suka baca manga alias komik jepang. Suka banget banget banget. Gue bisa diajak ngobrol berdasarkan pengarang yang gue favoritin kayak Ono Eriko, Kyoko Hikawa, Usami Maki, Maki Enjoji, Aoyama Gosho, Yoshihara Yuki, Yasuko, Nunoura Tsubasa, aaahhh aku cinta mangaaa hahaha. Tapi the best manga ever? One Piece by Eichiro Oda. BEST BANGET! Lol. Iya gue demen komik cowok juga, termasuk Kungfu Boy, Fight Ippo, Dragon Ball, dll hehehe.
  5. Kuliah di Akademi Sekretaris Tarakanita karena disuruh nyokap, biar cepet lulus (D3) dan bisa cepet kerja bantu ekonomi keluarga. Tapi alasan utama setuju kuliah di sono adalah karena dijanjikan ga ada mata kuliah itung-itungan angka muahaha. (Ternyata tetep ada mata kuliah basic accounting)
  6. Nama gue terinspirasi dari artis bernama Olivia Hussey. Kata bokap karena pas nungguin gue dilahirkan, bokap lagi nonton film yang dibintangi dia. Kalo kata nyokap, karena si Olivia Hussey ini artis tercantik (pada masanya). Bangga gitu kan gue. Trus gue dan cici gue search di google image, eh ada foto-foto doi lagi topless -_-” Dan menurut kita, dia ga cantik-cantik amat. Biasa ajeh. Ga jadi bangga deh gue. Hahaha.
  7. Suka makan udang. Tapi alergi. Lah cemana. Hahaha. Jadi dalam beberapa tahun sekali suntik untuk menekan reaksi alerginya (bentol-bentol gede dan gatel sekujur badan)
  8. Pernah kepengen nikah sama cowok yang ras nya afro-amerika. Menurut gue mereka ganteng.
  9. Tinggal di kota yang berbeda dengan cici dan nyokap. Cici gue di Surabaya, nyokap di Batam, gue dan adek gue di Jakarta. Semoga suatu hari bisa ngumpul semua tinggal di kota yang sama. Terutama gue, cici dan nyokap. (Adek mah melanglang buana aja, kita happy kalo dia bisa keliling dunia hehehe)
  10. Lebih suka Tangled (Rapunzel) daripada Frozen. I don’t really get Frozen Fever, what makes Frozen so special? Rapunzel is funnier.
  11. Muka jutek, mulut judes, suara kenceng kayak nelen toa, omongan suka kasar, ga peka dan nyinyir. Lengkap sudah paket untuk disebelin orang. Lol.
  12. Karena poin no. 11, ga punya banyak temen deket. Cuma beberapa aja yang bener-bener deket banget banget, dua di antaranya cici dan suami. *masukin aja biar agak banyak* hahahaha 😛
  13. Kalo makan soto dan bakso dan segala kuah dan sop, ga boleh pake kecap manis. Ga doyan. Merubah citarasa. Tapi kalo telor ceplok malah doyan pake kecap manis.
  14. Dulu waktu SD ga suka makan sayur dan kalo makan kudu satu macem lauk doang. Misal nasi sama ayam goreng doang. Ga boleh nasi, ayam goreng dan tempe tahu. Hahaha
  15. Hanya bisa tertawa karena merasa lucu. Ga bisa ketawa untuk menyelamatkan suasana. Gue berkali kali ketawa palsu dan berkali kali gagal. Contohnya boss cerita sesuatu yang seharusnya lucu, tapi gue ga ngerti. Tapi gue ketawa aja hahahahaha gitu, trs bos gue nanya “Kamu ngerti?” Gue cm bisa jawab dengan datar “Nggak.” Awkward ya lol. Gue kalo ketawa palsu keliatan banget dipaksainnya hahaha. Jadi sekarang kalo gue ga ngerasa lucu atau ga ngerti becandaannya, cuma senyum ato “Ehe” gitu doang ato terus terang bilang “Sorry I don’t get the joke :(“

Sudah merasa lebih kenal dekat dengan gue belum? *kedip kedip manja*

Hahaha.

Selanjutnya gue tag Diedie, Valin, Nola, Indri dan Ninie 😀

34

Panggilan Tas

Biasanya kalo manggil pasangan kan kita ada panggilan sayang tertentu ya, entah itu daddy kah, papi kah, sayang kah, honey kah, beib kah, ato bahkan myhoneybunnycutiepie.

Seperti yang terpampang jelas dan nyata di blog ini, gue manggil suami “Koko”.

Cukup banyak perempuan lainnya yang manggil pasangan mereka koko. Lebih banyak lagi yang manggil abangnya koko. Tapi yang paling banyak adalah yang manggil penjual handphone bermuka oriental dengan sebutan koko.

Nah karena begitu banyaknya koko-koko di dunia, alhasil di saat emergency seperti ini:

Situasi #1: Gue lagi gendong Reia di tengah supermarket. Terpisah dengan koko. Ga lama kemudian, ngeliat si koko lagi celingukan nyari kita tapi dia malah jalan semakin menjauh sambil ngeliat-ngeliat ke setiap lorong. Mau nyamperin, tapi masih ada yang perlu gue beli di lorong tempat gue berdiri. Males bolak balik kan yah. (Pantes perut lo masih gendut kayak hamil 5 bulan, shaayyy)

Masalah: Mau telepon, tapi tangan ga bisa ambil handphone yang ada di dalem backpack.

Solusi: Manggil koko ajah.

“KO! KOKO!”

Solusi yang brilian, dalam sekejap membuat koko langsung menoleh dan nyengir ngeliat gue dan Reia.

Tapi kemudian membuat masalah baru:

Tidak hanya koko, semua pria bermuka oriental yang mendengar panggilan gue (buat si koko) NOLEH NGELIAT GUE DAN REIA.

….

krik. krik. krik.

Sorry I was calling out for my husband, not you or you or you, and not you either. Sorry. My fault.

*Lalu pura-pura ga tau dan bales cengiran koko*

Okeh.

Setelah kejadian berkali kali, akhirnya gue ubah panggilan gue buat koko di saat-saat emergency begitu.

Situasi #2: Reia lagi bobo di gendongan gue. Gue lagi ngantri beli cemilan. Koko ke toilet dan ga tau gue beli cemilan. Dia keluar dari toilet dan berjalan ke arah yang menjauh dari gue.

Masalah: Tas gue beserta handphone ada sama koko, dan gue udah di tengah antrian yang cukup panjang.

Solusi: Manggil koko aja.

“TAS! TAS!”

Solusi yang luar biasa. Koko langsung menoleh mencari arah suara dan ngeliat gue.

Tapi tidak hanya koko yang menoleh,

Belasan pasang mata perempuan pun ikut menoleh ngeliat gue.

Uhm…. bukan, bukan tas yang lagi kalian cantolin di pundak atau ketek, buibu. Tas itu suami saya. Eh bukan. Bukan berarti saya kawin sama benda buat naro barang dan bisa dibawa kemana-mana itu. Saya kawin sama manusia kok. Pria bernama Tas. Tasmika. Bukan tas berbahan mika. Eh. Uh.

Hmmm.

*nangis di pojokan* *lupa sama antrian*

NAPE SALAH MULU SIH AH MANGGIL LO?

*tendang si koko*

Hahahahahah 😛

Tapi akhirnya sekarang… saat berada di situasi sejenis, gue manggil dia,

“TASMIKA!!”

Setidaknya mengurangi orang yang geer berasa kepanggil.

Hufh.

Kalo kalian saat manggil pasangan, apakah banyak yang ikut menoleh?

33

Kenapa ya… (versi menjelang pilkada)

Gue berasa masih punya banyak utang postingan tapi kok ya akhir-akhir ini malessss banget buat nulis huhuhu.

Berasa ga sempet blogwalking juga, jadi maafkan daku ya teman-teman, janji deh bakal secepatnya kembali mampir ke blog kalian dan baca cerita terbaru dari kalian *tiup kecup*

Anyway, rehat sejenak dari segala postingan bersifat keibuan, gue cuma lagi bertanya-tanya aja akhir ini,

Kenapa ya… kok masih banyak orang yang segitu antinya punya kepala daerah non-muslim? Padahal ini kepala daerah, sisbro. Bukan cari pasangan hidup.

Gue sih ga mau nganggep mereka sebagai pemimpin karena kok konteksnya kayak boss. Trus gue jadi inget becandaan “Peraturan pertama, boss tidak pernah salah. Peraturan kedua, seandainya boss salah, kita kembali ke peraturan pertama.”

Ih malesin banget kan kalo punya kepala daerah trus kita berasa kayak bawahan yang cuma bisa pasrah aja seandainya si atasan nyebelin.

Beberapa tahun belakangan ini, gue untuk pertama kalinya merasa bahwa Gubernur DKI Jakarta itu bukan pemimpin.

Lah kok.

Iya. Bukan pemimpin karena kok ya ‘bisa disuruh-suruh’ ato ‘dikomplain’. Ada birokrasi yang dipersulit, ngadu, dibenerin. Ada pungutan liar, ngadu, dibenerin. Ada kali/got yang banyak sampahnya, tinggal ngadu juga “Pak, di kali daerah AAA banyak sampahnya numpuk.”, besok bersih.

Bahkan nih ya, pernah salah satu sudin tebang pohon-pohon yang tumbuhnya mulai merajalela menghalangi jalan tapi setelah itu tidak mau mengangkut puluhan pohon yang sudah ditebang karena satu dan lain hal. Sementara warga juga ga bisa angkut sendiri karena biaya angkutnya mahal. Akhirnya warga sekitar laporan aja via sms. “Pak, di daerah ABC ada pohon-pohon bla bla bla bla, tolong dibereskan.”

Besoknya, tuh puluhan batang pohon yang gede-gede sudah hilang.

Nah loh.

Mana ada ceritanya kita nyuruh-nyuruh pimpinan beresin sampah, beresin batang pohon di jalanan?

Jadi kenapa ya… kok ada yang anti banget, takut banget memilih kepala daerah non-muslim? Padahal ini kepala daerah dipilih untuk disuruh-suruh kok. Disuruh kerja, kerja dan kerja! Hahaha.

Trus…

Kenapa ya… Kok banyak banget orang dari luar daerah DKI Jakarta yang ikutan ribet sama pilkada DKI Jakarta? Bukan pemegang KTP Jakarta tapi kerja di Jakarta sih masih ngerasain loh ya kebijakan-kebijakan pemprov DKI. Tapi yang tinggalnya nun jauuuuuuhhhhhhhh sampe beda pulau sama DKI Jakarta, itu kok ya ikutan repot?

Apakah permasalahan hidup mereka kurang banyak sampe ikut-ikutan sibuk sama pilkada DKI Jakarta? Lol 😀

Kalo ikutan sibuknya dalam pengertian positif sih ngga apa-apa, lah ini menebar kebencian. Menyebarluaskan berita-berita yang ga jelas kebenarannya. Ada juga yang ikutan memperjuangkan biar DKI Jakarta jangan sampai dapet kepala daerah non-muslim. Lah sampean ini tinggalnya di Sumatra. Untuk ke Jakarta aja mesti nyebrangin lautan luas, ngapain segitu takutnya Jakarta dapet gubernur non-muslim yang cuma menjabat 5 tahun, dan itu pun gubernurnya untuk disuruh-suruh ngebenerin kota Jakarta?

Kenapa ya… kok bisa ada orang yang berubah jadi sedemikian fanatiknya terhadap sesuatu dan membutakan segala panca indranya? Jelas-jelas video yang menyulut amarahnya itu hasil editan. Yang ngedit aja udah ngaku itu hasil ngedit.

Tapi kok tetep pura-pura ga tau, tetep memilih untuk marah-marah ga jelas meski semua fakta sudah ditunjukkan?

Kenapa ya… apa ga cape hidup dalam kemarahan begitu?

Hufh.

Hari ini kan hari Valentine, mbok ya di sosmed itu penuh lope-lope gitu aja boleh dong ya. Jangan marah-marah mulu. Nanti situ cape, saya aja yang ngeliat/ngebaca doang berasa cape. Situ pasti lebih cape kan ya. *elus-elus dadanya* *tepuk-tepuk punggungnya*

Gih minum dulu.

Rasa marahnya sekalian dilarutkan bersama air, ditelen, trus ntar dibuang pas pipis ya.

***

Oh iya.

Selama hari kasih sayang.

Besok, selamat hari kasih suara.

Kenapa ya… masih aja ada yang ragu milih siapa.

Padahal kalo menurut gue, udahlah, yang jelas jelas aja bisa disuruh-suruh untuk benerin Jakarta. Kan kita emang lagi nyari orang yang begitu toh? Yang ga makan duit pajak kita buat kepentingan pribadi, yang beneran kerja buat kepentingan kita?

Mau dia item kek, putih kek, sipit kek, belo kek, yang penting bisa disuruh untuk benerin Jakarta. Jadi ga ada lagi birokrasi-birokrasi busuk. Ga ada lagi pungutan-pungutan liar. Ga ada lagi kota yang berantakan sementara pajak penghasilan kita ditilep.

Di Pilkada DKI Jakarta kali ini…

Gue, Dua.

Kayak isi sarimi aja ah. Mana tau ntar ada ayu tingting muncul dari balik tirai sambil nyanyi “DUAAAA~~~” ye kan.

Kalo kamu?

Mending sarimi apa indomie?

*loh*