Protected: Je5us Love

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements
24

Kita Masih Perlu Kartini

Kemarin malem gue tiba-tiba keinget sama salah satu kejadian pelecehan seksual yang pernah gue alami, eeehhh hari ini lagi heboh sama pelecehan seksual yang dialami pasien di Rumah Sakit N Surabaya.

Seperti biasa, postingan ini akan jadi postingan yang panjang. Lol. Typical postingan gue yak mihihihi.

Membahas pelecehan seksual itu terkadang bikin orang meringis dalam hati. Seakan-akan itu hal yang tabu. Seakan-akan itu hal yang bikin malu, aib. Padahal, seringkali pelecehan seksual itu terjadi di sekitar kita bahkan terjadi pada kita sendiri. Entah kita sadari atau tidak.

Semalem gue jadi pengen bahas ini karena gue tiba-tiba keinget sama salah satu bapak kenalan gue. Katakanlah dia Pak Amin.

Awal ketemu Pak Amin, gue merasa dia orangnya baik. Kebapakan. Ramah. Memang sih dia terkadang suka menepuk-nepuk pundak, atau mengusap punggung gue ketika ngobrol. Tapi gue anggap itu sebuah friendly gesture.

Lama kelamaan, gue mulai tidak nyaman karena dia bisa terus mengusap punggung gue selama kita berbicara. Tapi kalo ngambil tangannya ato berhentiin usapannya kok terkesan tidak sopan. Rasanya akan menjadi canggung.

Padahal GUE SANGAT TIDAK NYAMAN.

Hal ini dia lakukan kepada perempuan-perempuan lainnya. Dan perempuan-perempuan lainnya juga saat berkumpul, membuka suara mengakui bahwa mereka tidak nyaman dengan gesture dari Pak Amin tersebut. Tapi tidak ada yang berani mengatakan langsung kepada Pak Amin bahwa apa yang dia lakukan membuat kita tidak nyaman.

Pernah suatu waktu gue melihat Pak Amin mengusap-ngusap tangan salah satu perempuan di tengah rapat. Entahlah perempuan itu menikmati, atau sungkan menarik tangannya, yang jelas itu dilakukan terang-terangan seakan-akan hal tersebut lumrah.

Contoh lainnya, ada juga yang bernama Pak Yayan. Dia terkadang bisa melakukan gesture yang membuat bawahan perempuannya tidak nyaman. Bahkan pernah, saat tali bra salah satu bawahannya tidak sengaja terlihat di bagian pundak, dia tiba-tiba membantu membetulkan menyelipkan tali tersebut ke dalam blus.

Bawahannya cuma bisa cengengesan. Dalam hati mungkin merutuki. Siapa tau. Karena posisinya serba salah. Dia tidak bisa konfrontasi ke Pak Yayan, beliau atasannya. Dia tidak bisa mengadu kepada manajemen, karena banyak yang dikhawatirkan: Susah dibuktikan, nanti Pak Yayan sensi dan dia jadi dipersulit saat di kantor, belum lagi rasa malu diliat orang-orang kalau sampai cerita ini kemana-mana.

Gue juga pernah di posisi serba salah begitu.

Suatu hari naik kereta saat lagi padat-padatnya, bergeser saja sulit. Gue bener-bener terhimpit di tengah-tengah. Tau-tau, berasa ada yang ngegesek-gesekin sesuatu di pantat gue.

Okay, I’m not stupid. I’m not an innocent woman, I’m married and I know exactly what that thing is. Ada yang gesekin p*nisnya ke pantat gue.

Dari ujung rambut ke ujung kaki langsung dingin. Kaku. Gue bingung harus apa. Gue mau sikut dia tapi susah gerakin tangan gue. Gue mau geser berpindah tempat tapi gak bisa gerak. Kalo gerak pelan-pelan, gue takut malah semakin bikin dia “enak” karena badan gue yang menggeser pelan-pelan. Gue mau berbalik teriak marahin dia, tapi gue… takut.

Iya, takut.

Izinkan gue flashback sebentar.

Dulu, gue kuliah di Akademi Sekretari T di daerah Jakarta Timur. Agak terpencil lokasinya hahaha. Karena itu banyak yang ngekost di dekat kampus dan baru balik ke rumah orang tua saat weekend. Trus karena kampus calon-calon sekretaris, otomatis isinya cewek-cewek semua. Sasaran empuklah kita untuk menjadi korban pelecehan seksual. Tanya aja ke semua mahasiswa aksek T yang kampusnya di situ, waduh obrolan tentang PK (Penjahat Kelamin, sebutan kita untuk pelaku pelecehan) seru dan sama banyaknya dengan obrolan kita tentang setan ato kejadian mistis di kampus lol.

Seru tapi ngenes.

Kalo di list banyak banget kejadian yang gue sendiri mengalami secara langsung tidak langsung:
1. Pagi-pagi (IYA PAGI-PAGI) di depan kostan ada cowok berdiri depan pagar dan nanya ke kita “Mbak, mbak, ini depan pagernya kenapa nih?”. Gue posisinya lagi di ruang tamu, tapi salah satu kakak kelas yang lagi di teras langsung nyamperin dan ngecek apa yang dimaksud. Ternyata, si mas kasih liat p*nisnya. Kampret.
2. Malem-malem, habis dari makan malem berempat, pulang ke kostan dengan posisi lagi di pintu pager. Kebetulan, gue yang paling depan jadi gue yang buka gembok pagar. Ada motor lewat. Pas gue udah ngebuka pintu, belom sempet masuk eh temen-temen gue udah pada menghambur masuk semua ke dalem dengan panik. Tangannya pada dingin semua. Semua kayak abis ngeliat setan. Taunya, mas yang naik motor barusan, lewat sambil ngangkang dan kasih liat p*nisnya. Iya, kampret.
3. Siang-siang pulang kuliah, di jalan balik ke kostan di dekat salah satu tiang, ada cowok berdiri sendirian. Temen gue yang udah ngeliat duluan, langsung narik gue dan ngajak mampir tukang jus dulu. Baru di tempat tukang jus dia jelasin ada apa. Ternyata cowok tadi lagi on@ni. Kampret banget.
4. Lagi jalan sama temen sore-sore pulang kuliah. Yang namanya anak kuliah bubaran ya, pasti jalannya entah berdua, bertiga, ato satu geng gitu. Tapi mencar-mencar, di depan ada yang berdua, di belakang gue dan temen gue ada yang bertiga. Nah tau-tau ada motor lewat, ngueeennggg! Eh sambil lewat, t*ket temen gue diremes sama dia dong.  Tau-tau kita udah denger temen gue itu jerit terus pada heboh di belakang. Kampret banget banget.
5. Sumfe masih banyak kasus serupa lainnya tapi ga bakal gue list lagi.

Kalo kalian perhatikan, di kejadian-kejadian itu gue ada tapi ga menimpa langsung ke gue. Dan gue bingung kenapa temen-temen gue jadi freeze semua kebanyakan kalo ngeliat orang kayak gitu, kenapa langsung jadi pada pucet dan memilih untuk diem langsung pergi. Ludahin aja. Sinisin aja. Katain aja “Cih, t!t!t kecil aja dipamerin!”

Intinya jangan diem aja.

Tapi… pas kejadian di gue. Ternyata gue juga cuma bisa diem, dan ngerasa dingin sebadan-badan. Berasa kaku, berasa takut, berasa kuatir ini kuatir itu.

Pertama kali gue ngalamin kejadian frontal selain di kereta adalah di angkot. Pagi-pagi di pojokan, cowok depan gue on@ni sambil ngeliatin gue. Pas gue ngeh, gue bener-bener bingung harus gimana. Akhirnya gue memilih untuk teriak “Kiri!” ke abang supir dan berenti di salah satu SD Negeri. Gue bahkan ga bilang ke si abang supir bahwa salah satu penumpangnya itu sakit jiwa. Gue terlalu takut dan banyak mikir. Gue kuatir si PK marah dan ikutan turun trus ngejer gue. Gue takut dia berusaha meluk gue. Gue takut ini iu dan khawatir ini itu.

Begitupun saat di kereta. Gue takut kalo gue konfrontasi, trus dia bilang gue kegeeran, gimana? Kalo gue konfrontasi dan orang-orang cuma liatin gue dengan iba tapi ga ada yang bantuin gue, gimana? Gue sampe bisa mendengar nafas dia terengah-engah di belakang gue. Iya, semenjijikkan itu. Tapi gue cuma bisa diem. Dan mikir ribuan gimana kalo.. gimana kalo.. gimana kalo.. di dalem otak gue. Gue lirik kiri kanan berharap someone notice. Untungnya, arah ke Tangerang itu jarak setiap stasiun ga jauh. Jadi saat kereta berhenti di salah satu stasiun, otomatis di dalem ada pergeseran penumpang memberi jalan untuk penumpang yang mau turun. Gue langsung buru-buru geser menjauh dan mepet ke salah satu penumpang perempuan.

Mungkin contoh-contoh di atas terlalu ekstrim ya. Mungkin ga semuanya pernah mengalami pelecehan seperti itu. Tapi sayangnya, pelecehan seksual itu bukan hanya dalam bentuk seperti itu. Pelecehan seksual tak hanya remas-remas, memperlihatkan kelamin.

Omongan pun bisa melecehkan. Dan ini yang sayangnya, juga seringkali kita sambut dengan diam, dengan senyum ga nyaman, dengan tawa palsu berusaha menutupi suasana canggung.

Balik lagi ke Pak Amin ya.

Pak Amin ini pernah komentarin gue keliatan agak gemuk. Trus pas gue diet menjelang mau nikah, dia pernah loh di depan orang banyak ngeliat gue masuk ke ruangan bilang “Wah, top, udah oke nih lekuknya.” Lalu dia diem sejenak merhatiin badan gue dan lanjutin “Cuma kurang perutnya aja tinggal dikempesin sedikit lagi.” dengan gerakan tangan untuk menjelaskan maksudnya.

Gue? Cuma bisa hehehehehehe sambil lanjut ambil posisi untuk duduk dan mulai rapat. Yes, people, komentar itu keluar di tengah rapat dengan belasan pasang mata memandang gue.

Ga cuma sekali dua kali. Dia seringggg banget komentarin badan gue dan perempuan lainnya.  Seakan-akan dia sedang memberi saran bagus untuk kita. Seakan-akan komentarnya bisa memotivasi kita. Seakan-akan kita harus bangga sama pujiannya ketika dia dengan gerakan tangan membentuk gelombang biola gitu bilang “Wah, bagus loh badanmu, mantap.” kemudian tunjukin jempolnya dengan mata masih merhatiin badan kita.

Oh ya? Badan saya bagus ya? Oke then let me tell you something…

My eyes are up here and… FUCK YOU.

FUCK YOU, YOU DISGUSTING OLD PERVERT, FUCK YOU!!

Dan tentu saja itu cuma ada di otak gue saja 🙂

Gue cuma bisa berusaha memberikan senyum palsu. Seakan-akan itu satu-satunya pilihan yang bisa gue lakukan. Untuk mempertahankan being polite.


Menyedihkan sekali ya.

Sebagai perempuan, bahwa kita tidak bisa lebih vokal menunjukkan ketidaknyamanan kita terhadap pelecehan seksual yang kita alami.

Bahwa ada begitu banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan hanya untuk sekadar menunjukkan bahwa “NO, IT’S NOT OKAY.”

Bahwa saat ada perempuan yang angkat bicara mengenai pelecehan seksual, kita sesama perempuan cuma bisa berbisik di belakang, mengasihani dia, atau diam-diam mengagumi keberaniannya.

Bahwa banyak yang menyadari pelecehan seksual sedang terjadi di depan matanya tapi hanya diam, atau ikut diam bersama dengan diamnya korban.

Bahwa ketika itu terjadi pada orang lain, mudah bagi kita berpikir kok dia gak begini sih, kok dia gak begitu sih, kok dia diem aja sih, kok dia bego sih gak begini, kok dia mau aja sih digituin.

Bahwa kita sesama perempuan pun seringkali tidak bisa membela perempuan yang menjadi korban.

Menyedihkan sekali ya.

Kenyataan bahwa kita, ketika akhirnya bersuara pun, seringkali langsung diredam.

Atau dibilang cari perhatian.

Ternyata, perjuangan Kartini belum selesai.

Kita masih butuh lebih banyak Kartini.

30

Serem Serem Malesin

Belakangan ini ngalemin beberapa hal yang “serem” dan “malesin”. Gak penting sih. Tapi pengen cerita aja hahaha.

  1. Korean Odyssey
    Nih film lagi sering banget muncul di newsfeed facebook gue. Tentang cewe yang bisa ngeliat setan. Sebelnya, kalo film Goblin kan setannya ya masih lumayan ga frontal-frontal banget (dari cuplikan-cuplikan yang beredar di sosial media), kalo film ini.. setannya ngagetin! Ish. Gue paranoid sama ginian, jadi ga suka kalo ngeliat begini-beginian juga. Manalah video facebook suka maen langsung play begitu aja pas lagi di scroll. Ergh. Mungkin buat orang lain setannya cemen ya, tapi buat gue yang ngeliat setan boongan di Indosiar (orang yang dipakein baju putih trus matanya dipakein eyeliner ampe kayak panda) aja kebayang-bayang dan takut sendiri, ngeliat cuplikan film ini jadi bikin gue kzl. Kenapa sih banyak amet yang share??
  2. Susu formula atau susu asi?
    Itu pertanyaan yang sering di dapat kalo kita punya anak. Susunya minum apa? Sufor atau asi? Selama ini gue kira pilihannya ya cuma dua itu. Entah minum langsung dari tete mamaknya, ato minum susu formula. Kalo anaknya udah rada gede, bisa minum susu UHT instead of susu formula bubuk.
    Sekitar sebulan lalu gue maen ke RPTRA bawa Mireia. Itupun ga sengaja sih nemu RPTRA nya, ngajakin Mireia jalan-jalan pagi ke komplek perumahan belakang ruko, eh ngeliat ada ibu-ibu pada senam. Taunya cuma seratus meter dari rukonya mertua, ada tempat buat Reia ketemu sama anak-anak komplek. Ada perpustakaan, ada jungkat-jungkit, ada perosotan dan ada ayunan juga. Asyik deh, salah satu ‘peninggalan’ berharga dari Pak Ahok 🙂
    Eh maap melenceng ke RPTRA hahaha. Balik ke persoalan susu. Pas lagi maen jungkat-jungkit, ada satu anak cowok yang sedikit lebih gede dari Reia (kayaknya udah mau 2 tahun ato udah 2 tahun gitu) jadi pasangan maen Mireia. Trus mamanya nanya Reia nyusu apa kalo ga salah. Gue bilang asi. Trus emaknya nih anak cowo bilang gini: “Oh dia dulu juga nete badan sampe setahunan trus setelah itu minumnya susu bendera, kenceng ini minum susunya, sekarton isi beberapa kaleng itu aja bisa habis dalam 3 hari.”
    Pertama gue ga gitu ngeh. Tapi abis itu gue baru sadar yang dia maksud itu susu kental manis.
    EBUSET. Gue tau sih susu kental manis bisa diseduh air panas trus jadi susu, tapi nyokap gue ga pernah ngasih gue susu kayak gitu. Selalu susu bubuk atau susu UHT. Temen gue ada yang minum susu dari susu kental manis gitu tapi sesekali doang. Nah kalo buat dijadiin sebagai susu yang sehari diminum berkali-kali oleh anak batita…. GUE BARU TAU.
    Menurut gue itu sereeemmmmm. Apalagi seminggu kemudian koko secara bilang ke gue gini, “Tau gak ce, aku baru baca, ternyata ya susu kental manis itu sebenernya GULA. Yang dibikin memiliki perisa rasa SUSU.”
    YAAMPUN MAKIN SEREM. Mudah-mudahan sih anak itu sehat selalu ya, dan semoga mamanya segera beralih ngasih anaknya susu UHT aja.
  3. Mimpi
    Gue itu selalu mimpi. Tidur 15 menit di kantor pas jam istirahat aja gue bisa mimpi. Dan gue seringkali inget mimpi gue. Lelah ga sih? Lelah sangaaaaatt.
    Apalagi kalo mimpinya berasa real banget. Bangun-bangun ga berasa bobo sama sekali. Paling sebel lagi kalo mimpinya bikin baper, sampe-sampe pas bangun masih kebawa emosi sedih/kecewa/marah dari mimpi.
    Beberapa hari lalu gue mimpi gue membunuh seseorang.
    Sekarang gue udah lupa alasannya apa, tapi detail saat gue narik pelatuk pistol (yang mana pelatuknya gak banget gitu macem dari benang maenan, aneh lah pokoknya), trus gue samperin tuh perempuan ke dalem tempat dessert dalem mall, semuanya gue inget.
    Gue juga inget gue tempelin pistol ke kepalanya dari samping, dan memutuskan nembak. Ga ada darah, ga ada suara tembakan, ga ada kepala bolong, cuma tau-tau dia collapse aja gitu. Dan gue langsung kabur. Naik lift ke lantai 3 trus turun ke dasar dengan tangga darurat. Sampe di bawah gue naik ojek. Ojeknya gue tawar 15 ribu ampe rumah, dia maunya 20 ribu. Gue deg-degan takut ditangkep jadi gue iyain aja. Trus ujan, dan gue keluarin handphone nge-google apakah berita pembunuhan ini udah masuk berita. Gue liat masih belom ada yang bahas.
    Gue mikirin pasti nanti setelah CCTV di cek, mereka bakal tau gue lah yang bunuh. Gue pasti bakal dipenjara. Gue mikir kudu kasih tau nyokap sekarang apa ngga. Kalo gue kasih tau sekarang, reaksinya gimana ya. Histeris kayak apa. Nyokap bakal stres trus sakit ga ya. Kalopun ga kasih tau, nantinya pas gue ditangkep polisi juga nyokap bakal tau. Jadi better kasih tau dari sekarang apa kaga ya.
    Gue inget perasaan menyesal gue, kok cuma karena awal yang sepele doang bisa akhirnya nembak orang. Trus gue berharap itu cuma mimpi. Duh boleh ga sih ini tau-tau gue terbangun dan cuma mimpi. Tapi kecewa karena ini kenyataan yang harus gue hadapi. Ada perasaan kuat denial berharap itu cuma mimpi. Tapi juga perasaan sedih karena bukan mimpi.
    Dan… gue kebangun. Ternyata emang cuma mimpi. Tapi saking realnya itu semua perasaan yang gue alamin dalem mimpi, gue cape banget.
    Gile ya. Sebel banget kalo mimpi kayak gini. Apalagi kalo berasa nyata sampe pas ujan-ujanan di atas motor itu aja berasa nyata banget gue kebasahan.
    Serem ga sih mimpi bisa ampe gini? Ada ga caranya supaya tidur bisa deep sleep aja? Gue kayaknya ga pernah loh ngerasain deep sleep. Huhuhu.
    Kalo ada yang tau caranya, info plisss. Gue yakin kalian baca cerita gue aja bisa kira-kira lah ya capenya kayak apa hahahaa. Tidur kok malah bikin cape. Hufh.
54

Why I Decided To Say Bye

Warning: Postingan ini isinya negatif. Keselnya gue. Ngomongin orang. Hilangnya pertemanan. Jadi kalau lagi ga mau ngeliat yang negatif-negatif, jangan lanjut baca. Tapi biasanya makin negatif orang makin penasaran pengen baca kali ya, soalnya kan suka seru baca drama orang lain. Huahahaha 😛

Yuk ah cuss.

Belum lama ini gue menjaga jarak dengan salah seorang temen di kantor. Sebelumnya deket dan gue nganggep gue sendiri sebagai salah seorang temen baek dia di kantor. Tapi entah karena gue bertepuk sebelah tangan, apa kegeeran apa gimana, ternyata beberapa hal yang terjadi kayak membuka mata gue bahwa dia sendiri ga menganggap gue sebagai temen baik. Hehe.

Dan yang bikin sedih adalah, ternyata dia punya satu sifat yang sangat gue hindari dari seorang temen, yaitu: Suka bohong.

Sebenernya gue udah tau dia suka boong, cuma gue kira masih untuk hal-hal kecil yang sifatnya becandaan. Tapi ternyata hal sepele banget aja tuh dia bisa boong juga. Ini gue kasih contoh aja ya, tapi bukan dari kejadian yang sebenernya, cuma contoh kasus yang kira-kira mirip aja.

Contohnya lagi ngobrol santai di kantor dan gue nanya, “Tadi pagi lo sarapan apa?” dan dia jawab “Makan bubur”, trus gue tanya lagi, “Oh makan bubur, lagi sakit?” “Ngga sih, tapi bingung mau makan apa, yaudah deh jadi makan bubur aja.” kemudian kita lanjut ngomongin hal lain.

Percakapan wajar, ga ada yang aneh, ga ada yang lain dari biasanya. Tapi sebenernya, dia udah bohong karena sebenernya gue sempet ke kantin pagi itu dan ngeliat dia makan nasi uduk. Aneh kan? Ga tau kenapa dia memilih untuk berbohong, tapi percakapan itu bener-bener seperti percakapan biasa di hari yang biasa tanpa ada hal yang harus bikin gue paranoid.

Tapi setelah tau kalo dia bisa bohong semudah itu, secepat itu, dan sesantai itu, bikin gue jadi bertanya-tanya gimana gue bisa percaya lagi sama dia? Kalo untuk percakapan begitu aja dia bohong?

Sebenernya trigger utama gue jadi jaga jarak sama dia sih jauh lebih parah dari itu, tapi kemudian ada tambahan kejadian sepele barusan yang bikin gue jadi mempertanyakan selama ini cerita-cerita dia ke gue beneran apa bohongan? Sampai mana bisa gue percaya?

Jadi.. yah begitulah. Gue putuskan kita jadi rekan kerja biasa aja, ga usah sedekat dulu yang selalu makan bareng, curhat-curhatan, dll.

Ini bukan pertama kali. Gue udah pernah langsung ambil langkah seribu ngejauhin temen kantor (sebut saja Anggrek) yang dulu bisa ngotot dia jujur ampe sumpah-sumpah segala, tapi ujung-ujungnya ngaku juga kalo dia bohong. Ditambah nih orang memutarbalikkan fakta pas cerita ke temen lain.

Kejadiannya: Gue denger cerita dari si Mawar kalo dia lagi sedih sama Delima. Mawar ini hamil sebelum nikah, dan pas dia cerita ke si Delima, Delima ini ngomelin dia kok bisa malah sampe hamil, makanya dijaga dong blablabla gitu deh ya. Nah gue tuh baru denger cerita dari Anggrek kalo si Mawar kayaknya lagi jaga jarak sementara ama Delima. (Waktu itu kita masih satu circle pertemanan jadi masih saling berbagi cerita) trus gue ngomong lah sama si Anggrek, oh alesan si Mawar jaga jarak sama Delima ternyata karena dia sedih ngerasa Delima ga supportive, malah ngomelin dia. Maklumlah hormon bumil ya, maunya disayang-sayang tapi kok malah diomelin, jadi baper.

Eh tau ngga si Anggrek ngomong apa ke Delima?

“Delima, gue denger dari Olive, lo suruh si Mawar aborsi ya??”

Marah lah si Delima ke Mawar karena dia ga pernah ngomong begitu. Mawar juga ngoceh dong ke gue, kok bisa nyampenya gitu padahal kan dia ga ngomong begitu ke gue. Pas gue konfrontasi, si Anggrek cuma dengan santai bilang “Eh iya, gue salah ngomongnya.”.

-_-

Padahal udah jadi heboh. Sejak itu juga gue langsung bye-bye deh untuk temenan sama Anggrek. Serem gue sama orang begini.

Kejadian terakhir yang baru saja terjadi adalah, gue memutuskan untuk unfollow instagram dan blog salah seorang blogger.

Mari kita sebut B. Awal gue ketemu si B ini sebenernya menurut gue anaknya lucu, asyik dan seru.

Super pede. Which, somehow, becomes her trademark.

Tapi entah itu emang dia yang sebenernya ato that’s what she wants people to believe how she is. (Duh diomelin deh nih gue pake bahasa indonesia campur inggris gini dalem satu kalimat lol).

Anyway, suatu hari dia posting di IG pendapat dia mengenai cara seorang seleb kasih makan anaknya. Jadi concern si B pertama adalah: Cara ngasih makannya salah. Lalu banyak yang komen. Kebanyakan emak-emak sih emang hahaha. *sentil satu-satu emak-emak yang pada baper*

Gue saat itu masih kalem. Masih biasa aja. Gue merasa yang dia omongin sih ada benernya dan ada salahnya. Gue setuju untuk beberapa hal namun juga ga setuju untuk hal yang lain.

Lalu dia dikomen beberapa orang yang menyatakan bahwa kurang lebih cara ngasih makan mah sesuka mama yang mau ngasih aja, kan tiap ibu tau yang terbaik buat anaknya. Ntar juga B bakal tau kalo dia jadi seorang ibu.

Eh dia kok terkesan kesel pas dikomen-komen “Bakal tau ntar kalo udah punya anak sendiri”. Dia dengan teges bilang dia toh ga mau punya anak. (which is completely fine).

Tapi gue ngerasa tersentil saat dia bilang bahwa dia ga perlu punya anak untuk memahami. Dia ga perlu menjadi seorang ibu untuk mengerti, karena dia bisa ngerti dan paham dari ngeliat ibunya, ditambah dia pernah ngajarin anak-anak.

Hmmm. Kalo gitu seharusnya semua yang menjadi tenaga pengajar anak bocah udah bisa jadi parenting expert ya. Pfftt.

Gue memutuskan untuk nimbrung. Komen gue kurang lebih ngasih tau kalo dulu gue juga suka merasa apaan sih saat nyokap gue bilang kalo suatu hari nanti gue akan mengerti saat gue menjadi seorang ibu. Bahkan saat udah menikah pun gue masih ngerasa ih apaan sih. Tapi begitu udah punya Mireia, gue baru bener-bener paham, oohh ini toh maksud nyokap gue.

Ternyata bener. Ternyata memang harus tunggu sampe gue sendiri punya anak dulu baru deh gue paham. Seberapa banyak pun teori yang gue lahap, seberapa lamanya gue ngeliatin orang lain mengasuh anaknya, seberapa seringnya gue bantu orang merawat anak mereka, tetep aja gue ga akan bener-bener ngerti sebelum gue sendiri punya anak.

Beneran deh. Lo mau sok pinter kayak apapun ga bakal bisa bener-bener ngerti karena rasanya tuh beda. Semua emak-emak pasti setuju sepaham sesuara deh sama gue lol.

Concern B selanjutnya adalah bahwa karena si seleb ini public figure, maka kalo dia posting kan tar orang-orang bisa ikutan caranya dia padahal salah.

B kemudian posting lagi screenshot pendapat seorang dokter untuk mendukung pendapatnya. Which is, once again, completely okay. Tapi dia (menurut gue) menelan mentah-mentah tweet nyinyir si dokter  dengan posting di caption mengutip kembali omongan si dokter, yang mana mengatakan bahwa kalo anak-anak pada sampe sakit (karena cara pemberian makan yang menurut dia salah itu) tar berobatnya pake BPJS dan termasuk di dalamnya berarti kan pake duit BPJS dia. Kelas 1 pula.

Nah di sini gue komen lagi dong. Lebih keras daripada komen gue di postingan pertama, tapi sebenernya sih ga pake marah-marah kok. Ga pake emosi, gue cuma mau ngelurusin bahwa ga bisa plek-plekan nyalahin si seleb dengan posting cara kasih makan anaknya. Wong anak kan anak dia. Kalo kemudian orang-orang pada ikut-ikutan cara dia ngasih makan anak, yang salah yang ikutan dong. Iya gak sih?

Logikanya gitu ga sih?

Masa kalo ada seleb posting makanan-makanan enak melulu, trus banyak yang ngeliat jadi ikut-ikutan, trus jadi kolestrol ato diabetes, trus jadi kudu berobat pake BPJS… Kita jadi nyalahin si seleb yang posting?

Bukankah kita sebagai pembaca yang seharusnya menggunakan otak kita untuk berpikir, ini cocok ga untuk saya ikuti. Ini baik ga untuk saya tiru. Begitu ga sih?

Menurut gue sih gitu. Terserah lah ya menurut kalian begitu apa ngga. *Loh kok nyolot* Huahahaha.

Trus kalo mengenai BPJS, yah namanya pun fasilitas kesehatan dari pemerintah untuk berobat ya. Kalo emang segitu keselnya duit BPJS dipake buat orang-orang pada berobat karena kebodohan sendiri, mestinya tiap hari tongkrongin RS Dharmais trus marah-marahin orang yang berobat kanker paru karena merokok.

“Bapak sih, merokok! Udah tau merokok bahaya! Bapak ga baca itu peringatan di bungkusan rokoknya?! Sekarang kanker paru kan! Berobatnya pake duit BPJS kan! Duit siapa itu BPJS hah?? Ada duit saya juga! Kelas 1 pula!”

Sebenernya gue udah ga mikirin soal postingan B lagi. Gue juga ga merasa postingan dia atopun komen-komenan kita harus bikin gue unfollow. Berargumen itu hal yang wajar. Kita punya pendapat berbeda pun wajar. Saling mendengarkan pendapat orang lain membantu membuka pikiran kita bahwa ternyata orang lain bisa berpikiran 1234 saat kita mikirnya 5678.

Tapi kemudian B membuat referensi terhadap postingan instagram tersebut di blogpostnya. Alhasil gue iseng ngeliat lagi tuh postingan… dan menyadari bahwa ada komen-komen yang dia hapus. Komen gue yang keras di postingan kedua ga dihapus. Tapi komen pertama yang lebih ‘halus’ dihapus, komen-komen balasan dia terhadap komen orang lain dihapus, disisakan yang (menurut gue) ‘manis-manis aja’. Contohnya komen dia berterima kasih untuk nasihat-nasihat. Padahal nasihatnya aja dihapus lol. Kemudian disisakan juga komen-komen yang terkesan ‘menyerang dia bertubi-tubi’.

Gue jadi inget di hari postingan instagram itu lagi banyak dibahas dan menerima komen, sempat ada komentar entah dari B atau dari temannya bahwa orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat B terkesan seperti ‘hater’.

Lol.

Kalo menurut gue.. (lagi-lagi menurut gue karena kan ini blog gue ya, ga suka ya ga usah dibaca, ato unfollow aja gue, bwek! Hahahahah 😛 Ih olip nyinyir ih) beda pendapat kan wajar banget ya.

Kalo kita ga setuju sama suatu hal trus menyuarakan pendapat kita di publik ya harus siap dengan pendapat-pendapat orang lain yang tidak setuju sama kita juga dong.

Kecuali… kita posting itu maunya cuma dapet dukungan doang. Pokoke ga mau dikomen yang ga sependapat, apalagi dikritik. Hati panas. Hati tak senang. Hati ga kuat, massss. Pokoknya setuju dong sama eike! Nah kalo ini kadang gue gini nih pas cerita ke koko. Jadi gampang esmosi kalo koko malah ga setuju HAHAHAHA #kokcurcol

Balik lagi ke B, gue jadi bertanya-tanya kenapa ya dihapusss? Padahal dengan dia menghapus komen-komen itu, bikin orang yang baru baca itu merasa kita macem ngebully dia rame-rame.

Padahal kalo menurut gue (duileh lagi-lagi menurut olip, bosen aahh), kan cuma pada menyuarakan pendapat ya. Sama seperti dia menyuarakan pendapatnya mengenai cara si seleb kasih makan anaknya. Cuma kebetulan kebanyakan mak-mak yang komen emang kontra terhadap pendapat dia, dan komennya panjang-panjang. Sedangkan yang pro komennya dikit-dikit. Tapi ya rapopo toh? Mestinya yah. Jadi… Kenapa dihapus ya komen-komen dia yang ngebales kesel dibilang baru ngerti ntar setelah punya anak? Kenapa dihapus ya komen gue? (Ih olip mah gitu, baper komennya dihapus. Hakhakhakhak)

Trus di blogpost terbaru dia, dia juga bilang postingan dia soal seleb membuat dia di unfollow beberapa orang. Sementara gue dapet informasi bahwa dia sendiri juga unfollow dan nge-block beberapa orang setelah ‘insiden postingan seleb’.

But she made it seems like she was the victim.

Just because she posted something like that and people oppose her opinion, those people unfollow her. Hiks hiks.

Padahal yah gak gitu-gitu banget juga. Kayaknya dia sendiri unfollow beberapa orang yang komen kontra di postingan dia. Cuma kan orang ndak tau ya. Dia tulisnya kan cuma bagian yang dia jadi korban unfollow.

Jadi ya dia korbannya aja deh pokoke. Kita haterzzz.

Setidaknya, itulah kesan yang gue dapatkan.

It was a shame since I initially thought of her as a funny and bubbly girl.

Ternyata oh ternyata, I can’t handle the drama she offered.

So I said bye to the mere friendship that was formed from blogging.

Btw kalo kalian… hal apa yang kira-kira bisa bikin kalian ilfil dan berhenti temenan? 🙂

Note: Gue memutuskan ga temenan sama B (or maybe just be an acquaintance of her and vice versa) karena ada caranya dia yang ga cocok di gue, tapi tentunya banyak orang lain yang cocok sama dia dan merasa dia asyik-asyik aja. Jadi buat yang tau siapa B, jangan sebut inisial aslinya apalagi tulis namanya ya untuk menghindari terciptanya imej tertentu buat orang lain. Nuhun.

18

Mantan Terindah

Ngomongin mantan emang paling seru. Kadang bikin terharu. Kadang bikin malu. Kadang bikin sedih karena belom bisa move on dari yang dulu. Kadang bikin emosi karena si mantan ngeselin dan minta dicolok pake garpu.

Duileh. Berima bener ini paragraf di atas, bentar lagi bisa jadi puisi.

Muahahaha 😛

Gue bukan lagi mau ngomongin mantan pacar. Bukan ngomongin mantan gubernur juga (duh jadi baper deh kalo inget beliau).

Mantan terindah yang mau gue bahas adalah… mantan babysitter.

Lah kok? Iyeh. Babysitter – kita sebut saja suster W – yang bantuin gue jagain Mireia, resign pertengahan April kemarin. Mendadak.

Gue cuma tau pagi-pagi dia bilang kalo dia sakit, ga bisa dateng kerja.

Ohya. Background story dulu: Suster W udah kerja sejak Mireia umur seminggu, dan dia ga tinggal bareng gue. Datengnya sekitar jam 7an pagi, pulangnya setelah gue pulang ke rumah. Kalo pas gue lagi ga kerja, dia pulang jam 17.00. Soalnya rumahnya emang ga jauh dari rumah gue.

Nah pas dia laporan sakit itu kebetulan hari minggu, jadi gue masih selawww. Dalam sebulan dia memang dapet jatah cuti dua hari dan udah beberapa kali juga dia izin ga masuk karena sakit. Terlebih, Seninnya tanggal merah jadi gue masih libur kerja.

Senin malem gue tanyain udah bisa kerja apa belom, eh ternyata hari Minggu siang itu dia masuk RS dan diopname aja dong. Senin sore keluar dari RS. Ternyata ada problem sama ususnya. Trus katanya dokter suruh dia istirahat dulu sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Dengan berat hati gue pastiin ke dia, apa itu artinya dia ga bisa kerja lagi? Dia bilang “Ya gimana non, kondisinya saya harus istirahat entah sampai kapan…”

Gue ga mungkin nungguin dia yang ga jelas kapan baliknya. Gue butuh seseorang untuk bantu mengasuh Mireia saat gue kerja. Jadi yaudahlah mau ga mau gue kudu cari suster baru.

Sebelum dapet yang baru, gue cuti seminggu lebih, jadi total hampir 2 minggu di rumah ngurusin Mireia tanpa suster sama sekali. Di saat-saat begini, gue bersyukur selama ini selalu berusaha ngurusin anak sendiri meskipun udah ada suster. Kalo gue lagi ga kerja, suster biasanya bantuin buat bersih-bersih dan nyuci-nyuci doang, Mireia tetep gue yang handle. Alhasil saat ditinggal suster mendadak begini, gue ga kagok.

Cuma males aja nyuci-nyuci. Hahahaha 😛

Di hari ke 4 tanpa suster, gue mulai galau. Mulai gelisah. Mulai… kangen.

Saat Mireia bobo siang, gue ngeliatin pintu kamar gue yang sedikit terbuka dan mikir, “Biasanya si Sus bakal ngintip nih, dari celah pintu, ngecekin Reia udah bangun apa belom”

Saat duduk bersila di lantai bejek-bejek sayur di saringan nyiapin makanannya Mireia, gue inget “Dulu si Sus pernah komentar bilang nyaring di atas counter dapur ga enak, enakan di lantai, lebih mantep.”

Saat Mireia lagi maen sama gue di kamar, gue mikir “Biasanya selagi Mireia maen, gue sambil ngobrol juga nih sama Sus. Entah dia yang cerita, ato gue yang cerita, tapi yang jelas biasanya kita suka cekikikan ato ketawa-ketawa berdua sementara Mireia bingung ngeliat kita ketawa.”

Saat Mireia baru kelar mandi, gue inget “Ah kalo sus pasti ngotot nih tetep harus dipakein minyak telon meskipun cuma dikit doang.”

…Ya Gusti, gue inget suster melulu 😦

Gue melalui fase denial, fase berharap ini hanya mimpi, fase berharap dia akan kembali, sampai fase berdoa mudah-mudahan dia masih cinta sama gue  dia bakal tau-tau bilang kalo dia udah sembuh dan siap balik kerja lagi.

Gue sampe nangis-nangis sedih saat mandi karena berharap dia bakal balik. Iyeh. Kurang lebay apa gue coba.

Image result for sad laugh meme

Gue ga pernah ngerasain ditinggalin atau diputusin pacar, tapi gue rasa, mungkin beginilah rasanya 😦

Apa karena ga pernah ditinggal itu ye, jadinya gue lebay menyikapi perasaan pertama kali ditinggalin suster.

Dia ga sempurna, kadang-kadang suka bikin gue gemes. Kadang bikin gue hela napas berusaha sabar-sabarin diri sendiri. Tapi dia banyak ngajarin gue. Dia banyak kasitau gue info-info berguna yang bikin gue berterima kasih sampai sekarang. Dia ngasuh Mireia dengan telaten bahkan lebih telaten daripada gue. Dia udah dengerin curhatan gue saat gue baby blues, dan udah jadi orang yang bisa bikin Mireia ketawa ngakak seakan-akan dia pelawak paling lucu di dunia. Gue ama dia sering banget ngobrol soal berbagai macam hal.

Hari ke 5, gue telp dia nanyain kabar dan setelah tutup telp, gue nangis. Pas koko nanya kenapa, gue cuma bilang habis telpan sama Sus. Koko diem, usep-usep kepala gue.

Hari ke 7 tanpa Sus, gue video call dia untuk ngasih liat ke Mireia. Tapi Mireia cuma bengong. Hahaha. Dan abis kelar video call, ndilalah gue kok ya… berasa hampa. Ya ampun, mengakui perasaan hampa itu aja bikin gue malu dan pengen jedotin pala ke tembok. Hahaha. Kok  bisa-bisanya gue selebay iniii.

Dah setelah di awal Mei gue dapet suster baru (Suster N), ngeliat cara kerja si Sus N gue jadi mikir “Kalau si Sus W, pasti bakal begini… kalau si Sus W, ga perlu gue kasih tau udah tau mesti begini… Kalau si Sus W… Kalau si Sus W…”

Argh.

Image result for holding forehead meme

 

Pokoknya di awal-awal gue jadi sering membandingkan, meskipun gue tau banget si Sus N juga banyak kelebihan dibanding Sus W.

2 minggu setelah ga ada sus W, gue udah ga nangis-nangis lagi. Gue udah dalam fase move on, tapi tetep aja ada kalanya gue inget dia dan gue berharap dia masih bisa kerja sama gue.

Eh itu namanya move on apa bukan? Hahaha 😛

Pernah pas gue pulang kerja dan liat di atas meja ada sayur singkong, gue jadi mikir,

Duh, Sus W kan suka makan singkong. Rasanya pengen telp dia deh suruh dia ke sini makan di rumah. Tapi dia boleh gak yah makan sayur singkong dengan kondisi ususnya? Apa gue simpen aja ya trus besok gojekin ke rumahnya? Kalo ada dia, pasti dia seneng banget nih ngeliat lauknya sayur singkong.

Mampus gak sih gueeeeeeee?

DITINGGAL PACAR AJA GAK GINI-GINI BANGET KALI SHAYYY~

Hahahahahahahahahaha *menertawakan diri sendiri dengan miris*

Gue bilang ke koko si Sus W resmi jadi mantan (babysitter) terindah gue. Apa karena dia first (babysitter) love ya? Jadinya lebih istimewa dan selalu dikenang di hati.

Muahahaha. Lebay yak.

Tapi beneran loh itu yang gue rasain. Sampe gue sendiri bingung kok begini amat sih gue. Mungkin karena gue udah nganggep dia temen dan kakak/mbak sendiri. Ato karena dia udah bantuin gue saat gue lagi baby blues. Entahlah.

Semoga si sus W cepet sembuh dan sehat selalu.

Semoga berat badannya yang turun 9 kg dalam beberapa bulan bisa segera naik lagi.

Dan semoga gue… bisa move on beneran ga terkenang-kenang Sus W melulu 😀

 

 

25

Baby Blues

“The postpartum blues, maternity blues, or baby blues is a transient condition that 75-80% of mothers could experience shortly after childbirth with a wide variety of symptoms which generally involve mood lability, tearfulness, and some mild anxiety and depressive symptoms.” – Wikipedia

Dulu… gue kira baby blues itu sebuah kondisi di mana ibu pasca melahirkan jadi sebel ato acuh tak acuh ato bahkan benci sama bayinya.

Jadi setelah gue ngelahirin, gue pikir gue aman, ga mengalami baby blues.

Tapi kok gue mau nangis melulu ya bawaannya. Kok gue jadi sensitif banget ya. Kok dikit-dikit baper dan jadi sebel, kesel, marah, ato sedih ya. Kenapa ya?

Ternyata… gue lagi mengalami baby blues.

Temen-temen di grup (yang isinya mami-mami muda kece nan gaul) bilang kalo apa yang gue alami itu wajar, normal dan akan berlalu setelah 3-4 minggu.

Tapi masa 3-4 minggu itu jadi terasa super panjang buat gue.

Baby blues gue akhirnya berlalu setelah Reia genap sebulan. Meskipun setelah itu ternyata dampaknya cukup traumatis dan masih ada luka batin yang belum bener-bener sembuh akibat semua pergolakan emosi gue saat lagi baby blues.

Hal-hal yang membuat gue baby blues mungkin karena:

1. Deep down inside gue sebenernya mengkhawatirkan kondisi Reia yang jaundice. Gue berusaha tenang, berusaha ga panik, berusaha kuat. Tapi nyatanya pas suster Yeti dari RS Hermina dateng, gue sempet nangis beberapa kali sambil curhat kekhawatiran-kekhawatiran gue.

2. Masa confinement. Dalam bahasa indonesia mungkin semacam pingit. Jadi kalo tradisi orang chinese biasanya ibu yang baru melahirkan itu ga boleh kemana-mana selama sebulan ato 40 hari. Selama dipingit ini,si ibu juga bakal ciakpo ato makan-makanan yang sehat dan biasanya dicampur herbal cina. Selain soal makanan, banyaaaakkk banget pantangan-pantangan dalam masa confinement, meskipun beda-beda tergantung suku apa (Tiociu, Hokkian, Khek/Hakka dll) dan tergantung keluarga juga.
Contohnya di gue, nyokap gue termasuk yang ga banyak aturan ini itu. Sedangkan kalo mertua gue banyak banget aturannya (menurut gue).
Pantangannya ga boleh keramas, ga boleh kena air dingin, ga boleh kena angin apalagi angin malem, mandi cuma boleh sekali sehari, ga boleh nangis, ga boleh ini ga boleh itu ampe puyeng dah gue sebenernya.
Dan gue mengikuti masa confinement dengan setengah hati, meskipun mertua menekankan bahwa semuanya demi kebaikan (kesehatan fisik) gue. Biar nanti tua ga gampang sakit-sakitan.
Tapi yang dibilang untuk kebaikan gue malah ga baik untuk kesehatan psikologis gue hahahah 😛
Gue stres berat hehe.

3. Jadwal pompa. Di saat gue berusaha nenenin Reia secara direct, gue dapet komentar dari orang-orang deket kalo Rei ga bisa kenyang dengan nenen langsung sama gue. Gue jadi patah semangat dan akhirnya memilih untuk pompa setiap dua jam sekali. Ternyata pumping dengan sering ini bikin gue kurang istirahat dan akhirnya gue malah jadi stres dan gampang uring-uringan. Ini nanti akan gue ceritain secara terpisah di postingan lain aja ya. Yang jelas karena gue ngerasa kerjaan gue cuma mompa melulu, gue jadi merasa kayak sapi perah. Ditambah dengan mertua yang over excited menyambut cucunya, jadinya setiap Reia lagi melek, mertua selalu berusaha supaya Reia maen sama mereka. Gue tambah merasa merana karena jadi negative thinking, mikir “Tugas gue itu hamil, ngelahirin dan nyediain susu doang ya kayaknya. Semacam surrogate mother gini ya jadinya gue.”
Duh pokoke kalo inget masa-masa ini, sungguh masa yang kelam deh. Otak mikir negatif melulu dan hati campur aduk kalo bukan kesel, marah. Bukan marah, sedih. Bukan sedih, stres. Itu aja bolak balik. Hahaha.

Selain 3 hal di atas, gue ngerasa kalo hormon pasca melahirkan gue juga berperan besar bikin gue baby blues.

Jujur aja… masa sebulan pertama setelah melahirkan ini terasa seperti nightmare.

Saking pengennya gue supaya masa ini cepat berlalu, setiap hari gue bener-bener countdown “Oke tinggal sekian hari lagi. Oke tinggal sekian hari lagi. Oke tinggal sekian hari lagi.”

Dan karena tiap hari gue kerjanya cuma begitu, gue merasa ingatan gue tentang apa aja yang dilakukan Reia selama sebulan pertama ini jadi samar-samar.

Gue merasa seakan-akan setiap hari itu kayak potongan fragmen-fragmen dari film drama yang membosankan dan melelahkan. Reia kuning. Gara-gara gue dan koko pake kapur barus. Reia mesti sering nenen. Tapi nenen sama gue ga cukup. Gue harus pompa pompa pompa biar produksi asi gue makin banyak. Gue kurang istirahat. Cape. Gampang uring-uringan. Nangis almost every day.

And here comes the shameful part (menurut gue, menurut kalian mungkin biasa aja dan gue terkesan lebay lol):

Bukannya sebel sama baby (pengertian gue dulu tentang baby blues), gue justru merasa takut baby gue ga bakal sayang sama gue.

Hampir tiap hari kerja gue saat gendong Rei adalah nangis-nangis bilang ke dia bahwa gue sayang dan cinta banget sama dia. Dan gue selalu nanya “Rei juga sayang mama kan? Iya kan Rei, iya dong ya Rei, Rei sayang mama kan ya Rei…” sambil terisak isak kayak orang gila.

Hahahah. Aib bener dah cerita beginian. Tapi gue kok ya merasa gue mesti cerita supaya kalo ada mama-mama di luar sana yang merasakan hal yang sama, tenang mom, you are not alone! 🙂

Hal-hal yang menolong gue saat baby blues adalah:

  1. Suami. Support dari suami itu penting banget. Suer dah. SUPER DUPER PENTING. Koko ga serta merta langsung paham dan pengertian saat gue baby blues. Dia sempet bingung kenapa sih kok gue negatif melulu. Kenapa sih kok gue nangis melulu. Dia jadi ikutan sebel karena merasa kayak semuanya salah terus di mata gue. Tapi setelah dia cari tau soal baby blues ini, akhirnya dia lebih pengertian dan bisa support gue. Dia dengerin saat gue ngoceh-ngoceh, dia berusaha becandain gue, dia berusaha mengangkat hati dan perasaan gue, dan dia selalu berusaha nyuruh gue istirahat.
  2. Kehadiran nyokap. Dengan adanya nyokap yang tinggal di rumah mertua gue selama masa confinement, gue merasa jauhhhhh lebih baik karena ada yang bisa gue curhatin dan ajak ngobrol. Kebetulan nyokap gue tipikal yang ga terlalu banyak ngatur soal jaga anak, ga banyak ikut campur. Jadinya gue ga perlu berantem karena beda cara asuh hahaha.
  3. Support group. Ini adalah salah satu penolong gue dengan segala ilmu pengetahuan ((hahahah)) yang gue dapatkan dari mereka. Sampe sekarang, gue ga bosen bilang gue sangat bersyukur masuk ke dalam grup ini sebelum gue lahiran. Seringkali chat di grup ini juga membantu membuat mood gue lebih baik. Kebingungan-kebingungan gue pun banyak terbantu oleh mereka. Mami-mami muda super cihuy, you all know who you are 🙂

Tanpa ketiga ini mungkin baby blues gue bisa jadi post partum depression alias PPD. Google sendiri ya kalo mengenai PPD 🙂

Gue suka mikir, mungkin hal yang gue bilang jadi penyebab gue baby blues ini, buat ibu-ibu lain ada yang jadi terkesan lebay ato ah masa gitu aja jadi baby blues sih. Tapi sama kayak toleransi sakit orang yang berbeda-beda, toleransi kesensitifan dan kebaperan ibu yang baru melahirkan juga beda-beda kali ya.

 

Huahahahah 😛

Maap itu gue sotoy 😀

Buat yang baru melahirkan dan merasa terus-terusan sedih ato gampang kesel dan sejenisnya, sini pelukan yuuukkk. Gue tau setiap hari, jam bahkan detik jadi terasa panjang, tapi gue cuma bisa bilang kalimat yang sama yang diucapkan oleh ibu-ibu di support group gue: “Nanti juga bakal lewat kok.” hehehe 😛

Karena beneran bakal lewat kok, mom. So hang in there. Please (at least, try to) be happy for your baby, and for yourself.

Cari hal yang menurut lo bisa mengalihkan perhatian lo dan bikin lo lupa sama semua yang negatif-negatif.

Kalo gue hal-hal itu adalah:

  1. Online shopping barang bayi. Saat scrolling ngeliatin produk-produk itu rasanya semangat dan saat kiriman udah sampe rasanya hepi 🙂
  2. Nonton film korea yang lucu ampe bikin ngakak-ngakak.
  3. Chat seru sama suami dan support group.
  4. Ngobrol sama nyokap mengenai hal-hal yang konyol
  5. Ngobrol sama cici gue.

Dan inget, gue ulang lagi ya kali ini dalam bahasa enggres (hahaha),

THIS TOO SHALL PASS.

 

Beneran deh 🙂

 

32

Ngalor Ngidul Sebelum Lahiran

26 jam menjelang lahiran kalau semuanya berjalan sesuai rencana.

Perasaan gue: Masih ga yakin mau ngeluarin nih anak hahahaha. Rasanya bakal super kangen dengan dia yang masih di dalem peruttt huhuhuhu.

Habis curhat-curhat ga jelas di grup, gue juga baru semakin menyadari satu hal: Gue ini cinta bener ya sama si koko. *topiknya tetiba jadi malesin gini lol*

Gue jadi inget sama hal-hal kecil yang koko ucapkan, yang buat orang lain pasti dianggep garing dan apa siiihhh, tapi buat gue kok ya super hilarious. Pokoke nih laki gue lucu banget deh. Bikin gue terkekeh-kekeh, bikin gue ngakak, bikin gue berasa makin cinta.

Udah gitu kemaren malem dia pulang kantor bawa foto habis training tax amnesty, dan pas gue liat itu foto… gue ngerasa duh laki gue ganteng bener ya. Di antara semua orang di foto itu, dia yang paling ganteng. Sama suami aja udah bias gini, apalagi ntar sama anak yaaaaa. Hahahahaha.

Padahal dulu, gue paling anti sama muka kokoh-kokoh kayak dia. Gue kan demennya yang mata belo dan kulit gelap dan pake kacamata. Gue inget pernah bilang mau kawin ama cowo yang kayak Craig David ato Will Smith, trus nyokap langsung ngancem mau mencoret gue dari kartu keluarga hahahahhahaha.

Ealah yang gue sebelin itu lah yang gue kawinin ya akhirnya. Sekarang merasa dia ganteng pula! Lol.

Entahlah dulu dia bertapa di goa mana untuk dapetin pelet ajisakti mandraguna yang bisa bikin gue begini mihihihih.

Anyway, balik lagi soal lahiran, kenapa gue pilih melahirkan secara caesar? Karena dokter Binsar menyarankan demikian, alesannya rhesus negatif gue.

Aslinya gue mau melahirkan normal. Gue mau ngerasain kontraksi. Gue juga ga keberatan kalo seandainya udah ngerasain sakit kontraksi, udah ampe bukaan 10 eh ternyata mesti dilakukan emergency caesar. Biasanya orang-orang suka bilang sayang kan ya ngerasain sakit dua kali, mendingan dari awal caesar. Tapi gue sama sekali ga keberatan kok kalo gue mesti ngelewatin itu. Beneran deh. Mungkin karena gue lumayan optimis sama ambang sakit/pain tolerance gue.

Pas kontrol terakhir sabtu kemarin, dokter Binsar juga masih bisa-bisanya komentar “Posisi bayi kamu udah di bawah terus kepalanya dari minggu-minggu kemarin, cakep banget nih sebenernya kalo mau lahiran normal.” trus nanya “Gimana, ngilu kan ya dia mulai di bawah gini?”

Gue jawab ngga dok, cuma kadang berasa agak ga nyaman. Trus dia komentar “Kamu tahan sakit ya orangnya.”

IYA! IYA DOK, MENURUT SAYA JUGA GITU! Makanya saya pengen normal sebenernya!

Hahaha.

Lagipula gue yakin dan mengimani bahwa kalau Tuhan menciptakan jalan lahir manusia melalui sono, pasti kita perempuan juga bakal dikasih kemampuan untuk melahirkan dari sono. (Ga usah dijelaskan terperinci lah ya sono mana)

Tapi koko orangnya lumayan keder’an, dia kuatir kalo gue ngotot normal terus taunya ntar mesti emergency c-sect gimana. Dia ga mau berada dalam pressure seakan-akan nyawa istri dan anak terancam dan mesti segera tanda tangan semua dokumen untuk operasi caesar emergency kayak gitu.

Apalagi akhir-akhir ini banyak banget cerita yang mau normal eh ujung-ujungnya ceasar juga. Yang diinduksi belasan puluhan jam tapi pembukaan ga nambah lah, yang udah pembukaan sekian taunya bayinya ngadep atas jadi mesti caesar (dadah dadah sama Ian lol) ato kalo cerita orang kantor gue malah udah pembukaan 10, udah tinggal cus brojol, eh ternyata di rahimnya ada semacam undakan gitu yang baru ketahuan pas mau lahiran. Jadinya bayi ketahan jalannya oleh semacam ‘polisi tidur’ gitu di rahim mamanya. Caesar juga deh akhirnya. Nah koko ga mau gue melalui itu. Mendingan memutuskan dari awal c-sect aja dengan tenang, daripada ambil keputusan csect di tengah kepanikan.

Rempong ya. Akhirnya gue ngalah aje. Yaudah caesar. Yaudah suka-suka lah yang penting bayi gue sehat dan gue juga sehat-sehat aja. *tapi abis itu masih suka ragu-ragu sama keputusan sendiri hahahahahah*

Sebenernya gue ga perlu menjelaskan begini juga sih ya. Mau gue caesar ato normal, suka-suka gue sebenernya. Toh gue dan koko pasti mengharapkan yang terbaik buat gue dan anak. Maunya sehat-sehat semua, lancar semua, sempurna semuanya.

Tapi selalu ada orang yang terkesan mau berargumen mengenai pilihan begini. Padahal ini pilihan yang personal banget.

Ohya, selama hamil ini, kondisi kulit gue parah banget. Keringnya kering pake banget ampe kulit muka terkelupas-terkelupas dan memerah, tapi jerawatan juga semuka-muka ampe leher dan punggung. Padahal biasanya jerawatan itu kan sepaket sama muka berminyak yah. Sedih sih, tapi mudah-mudahan dengan begini kulit M mulus dan cantik deh ya karena mamanya udah menanggung yang jelek-jeleknya. Hahahahaha.

Sebenernya nih hari pengennya tuh koko bisa cuti, trus kita berdua leyeh-leyeh aja penuh cinta di hari terakhir sebelum ada M yang nyempil di antara kita. Tapi apa daya dia malah ada meeting seharian penuh dan bakal pulang malem. Belum lagi ntar dia sampe rumah, kita mesti capcus berangkat jemput nyokap gue yang lagi nginep di rumah tante di BSD.

*siap-siap ngadepin macetnya*

Selagi gue tulis postingan ini, M lagi aktif banget dari tadi ngulet-ngulet sana sini. Beneran bakal kangen banget-banget deh ngerasain gerakan anak ini dalem perut dan bawa dia kemana-mana dalem perut. Huhuhuhu.

Udahan aja deh ngalor ngidul ga jelasnya. Sebelum gue makin baper trus kangen sama suami. Hahahaha. *toyor diri sendiri*