Selingkuh itu asyik

Gegara cerita Layangan Putus yang lagi viral dan kemudian dibawa oleh Ibu Gee ke grup wasap buibuk blogger yang berfaedah, jadi tergelitik ngomongin soal manisnya berselingkuh (halah) hahaha.

Semua tulisan di bawah ini adalah opini personal gue jadi of course, you can beg to differ 🙂

Kadang pas suami/istri selingkuh, suka ada komentar dari orang lain… “Mungkin karena pasangannya kurang begini kali, jadi suami/istrinya selingkuh deh…”

Entah kurang merawat diri.
Kurang merawat rumah.
Kurang pinter ini.
Kurang pinter itu.
Kurang kasih perhatian.
Kurang kasih duit.

Segala asumsi dilemparkan seakan-akan ya wajar aja diselingkuhin kalo lo-nya kurang ini kurang itu.

Cuma masalahnya, kayak pertanyaan bu Aina di grup, harus sampe seberapa pinter ini itu? Harus sesempurna apa biar pasangan dijamin 100% ga bakal selingkuh?

Kalo menurut gue… yang namanya menikah ya jalanin aja. Kita ga perlu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, tapi setidaknya ya kita melakukan apa yang kita bisa sebaik-baiknya untuk menjaga hubungan harmonis sama pasangan.
Bawa dalam doa semoga kita dan pasangan sama-sama menjaga hati dan sikap.

Yang sebenernya mau gue soroti dan menurut gue penting untuk jadi pemikiran adalah…

Pas deket sama cowok/cewek baru, kita cenderung merasa kayak “Aduh sama dia (yang baru) ini kok ya aku lebih seneng ya dibanding sama suami/istriku sendiri.”

Belum lagi perasaan flattered “Ih gue udah ada yang punya aja tetep dideketin orang loh. Tetep ada yang suka loh.”

Iyah.
Sama yang baru itu…
Lebih berbunga-bunga.
Lebih bikin mesem-mesem seneng.
Lebih menyenangkan.

Karena, bukankah hampir semua hubungan awalnya begitu? Nice and easy. Simple and fun. Chattingan “Kamu udah makan belum? Kamu lagi apa? Aku kangen. Kamu kok belum tidur? Kamu tutup telepon duluan gih. Ih kamu aja duluan.”  trus ga sabar nungguin balesan, begitu ada notif dengan namanya si dia, langsung senyum-senyum seneng.

Sedangkan sama pasangan sendiri, sensasinya udah ga semanis seperti dulu.
Ada pasangan yang masih bisa mempertahankan sensasi seperti itu, tapi seringnya, semua itu memudar seiring waktu.

Karena sama mereka yang baru ini, kita ga perlu pusing.

Tagihan sekolah anak.
Tagihan rumah tangga.
KPR rumah.
Cicilan kendaraan.
Penghasilan yang mungkin selalu terasa ngepas.
Tidak ada waktu berlibur.
Cara mendisplinkan anak yang berbeda.
Perhatian untuk anak lebih banyak daripada ke pasangan.
Mood untuk having sex yang tidak selalu matching.
Hubungan dengan mertua dan atau ipar.
Dana buat tabungan masa depan.

Sebenernya ya mirip-mirip sama pas masih pacaran sama suami/istri. Tapi karena setelah menikah semua yang di atas tadi tiba-tiba menjadi bagian dari paket pernikahan, hubungan yang simple sweet fun itu jadi kayak berbeda.

Lagi cape-capenya ngurus anak, suami pulang-pulang ngomong rada nyolot. Ato minta perhatian lebih sementara anak lagi nangis meraung-raung. Sungguh sangat memancing terjadinya perang, bukan?
Atau istri minta liburan tapi suami masih berjuang ambil lemburan untuk cicilan rumah. Istri tetep maksa dan ga mau ngertiin, wong temennya aja pamer-pamer foto liburan di instakhrem. “Masa kita ndak kemana-mana” kata istri dengan kecewa.
Mertua dan ipar yang suka ikut campur hubungan rumah tangga kita.
Belum lagi kalau suami ngotot anak kudu ditabok biar nurut sedangkan kita meyakini bahwa cara itu sudah kuno.

Hadeh.
Semua itu bisa bikin berantem ga sudah-sudah.

Lalu insert a new guy/girl di tengah-tengah perjalanan pernikahan.

Bersama dia, kita merasakan yang simple sweet fun lagi. Mungkin isinya cuma chatting manis manja, belai-belai mesra, bobok-bobok asyique, tapi ya tau-tau udah dibandingkan sama pasangan dan otomatis rasanya…

IH BEDA YAH.
SAMA YANG BARU INI LEBIH ASOY.

Yaiyalah, kentang (:

Sama yang baru kan lo ga pusing ngomongin tagihan rumah dan uang sekolah anak (:

Pernikahan itu rumit.

Bukan cuma 1+1=2.

Ribet, beneran deh.

Cara mengendalikan emosi pas kita lagi lelah tapi pasangan nyerocos.
Cara berkomunikasi ketika salah satu ngeyelan ato merasa males untuk ngobrol/menceritakan harinya.
Cara mencintai tanpa egois.
Cara membagi waktu.
Cara mendengarkan tanpa menghakimi.
Cara berusaha memahami meski sulit.

Jadi ya wajar aja kalo sama yang baru dan tanggung jawabnya masih ga seberapa itu terasa lebih manis dan berbunga-bunga.
Apalagi kalo yang baru ini secara penampilan lebih oke.
Yang baru perutnya sixpack sedangkan suami udah one big pack.
Yang baru tetenya masih gede dan kencang sedangkan istri udah ngewer-ngewer setelah melewati masa menyusui 3 anak kalian.

Beuhhh udah deh segala hal jadi maha benar untuk berselingkuh.

Iya, ngerti, mungkin yang baru terasa lebih asyik.

Tapi pada suka lupa…

Bukankah hampir semua hubungan AWALNYA begitu? 🙂

Jadi yah tinggal tunggu waktu aja, kalau cerai trus menikah sama yang baru ini,
Yang baru juga akan menjadi yang lama pada akhirnya (:

Karena kalau hati ini ga bisa puas dan mensyukuri apa yang dimiliki, maka akan selamanya siklus semacam itu terulang kembali.

Ada amin? (:

 

5 thoughts on “Selingkuh itu asyik

  1. Baca kata CHATTINGAN kok aku jadi pengen CHATIME. Ada promo? #ditaboklayangan

    Tp postingan ini emg bener ya. Trutama bagian akhirnya. Semua ya memang indah pada AWALNYA. Lama kelamaan ya welkambek to reality aja deh.

    Like

  2. buat gua menikah itu komitmen, bukan cuma sekedar cinta… cinta kan bisa pudar seiring dengan tampang kita yang makin bulet atau kerutan dimana2, untuk itu dibutuhkan komitmen… makanya suka gemes deh ama dede unyu yang bawaannya uda pada ngebet pengen kawin… dipikir kawin isinya manis2 semua kali ya…

    Like

  3. Setujuhhh bgt liv. Menurut gw.. Yg sulit dalam pernikahan adalah menjaga semuanya tetep mesra dan harmonis ketika anak2 lg tumpahin bumbu dapur, emaknya lagi nyapu ngepel, dan bapaknya goleran sambil nonton ngelawak di youtube.🤣🤣🤣🤣🤣

    Like

  4. Setuju bagian bahwa semua hubungan pada awalnya manis. Tapi juga setiap orang kan memiliki set kelebihan dan kekurangan yang berbeda. Bisa jadi ketika kelak pun menjalani hubungan pernikahan dengan orang baru kita akan menjumpai dinamika yang berbeda. Permasalahan pasti ada, tapi bisa aja ga serumit atau sesulit sama pasangan yang lama.

    Like

    • Betul, bisa saja. Tapi pas sama yang baru kita sudah menjadi orang yang berbeda karena we already have our lessons from the previous one. So perhaps we would be more careful and such. Anyway, gue merasa ga masalah kalo mau divorce and marry someone new. No probs at all. But the key word is divorce. Kalau emang irreconcilable yaudah pisah. Baru cari yang baru.
      Bukan udah punya yang baru duluan, tanpa berusaha menyelesaikan problema sama pasangan existing. Ya pasti kalah lah yang existing dengan segala kerumitan yang ada versus honeymoon phase sama yang baru 🤣

      Like

Write your thoughts or questions here! :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s