Kita Masih Perlu Kartini

Kemarin malem gue tiba-tiba keinget sama salah satu kejadian pelecehan seksual yang pernah gue alami, eeehhh hari ini lagi heboh sama pelecehan seksual yang dialami pasien di Rumah Sakit N Surabaya.

Seperti biasa, postingan ini akan jadi postingan yang panjang. Lol. Typical postingan gue yak mihihihi.

Membahas pelecehan seksual itu terkadang bikin orang meringis dalam hati. Seakan-akan itu hal yang tabu. Seakan-akan itu hal yang bikin malu, aib. Padahal, seringkali pelecehan seksual itu terjadi di sekitar kita bahkan terjadi pada kita sendiri. Entah kita sadari atau tidak.

Semalem gue jadi pengen bahas ini karena gue tiba-tiba keinget sama salah satu bapak kenalan gue. Katakanlah dia Pak Amin.

Awal ketemu Pak Amin, gue merasa dia orangnya baik. Kebapakan. Ramah. Memang sih dia terkadang suka menepuk-nepuk pundak, atau mengusap punggung gue ketika ngobrol. Tapi gue anggap itu sebuah friendly gesture.

Lama kelamaan, gue mulai tidak nyaman karena dia bisa terus mengusap punggung gue selama kita berbicara. Tapi kalo ngambil tangannya ato berhentiin usapannya kok terkesan tidak sopan. Rasanya akan menjadi canggung.

Padahal GUE SANGAT TIDAK NYAMAN.

Hal ini dia lakukan kepada perempuan-perempuan lainnya. Dan perempuan-perempuan lainnya juga saat berkumpul, membuka suara mengakui bahwa mereka tidak nyaman dengan gesture dari Pak Amin tersebut. Tapi tidak ada yang berani mengatakan langsung kepada Pak Amin bahwa apa yang dia lakukan membuat kita tidak nyaman.

Pernah suatu waktu gue melihat Pak Amin mengusap-ngusap tangan salah satu perempuan di tengah rapat. Entahlah perempuan itu menikmati, atau sungkan menarik tangannya, yang jelas itu dilakukan terang-terangan seakan-akan hal tersebut lumrah.

Contoh lainnya, ada juga yang bernama Pak Yayan. Dia terkadang bisa melakukan gesture yang membuat bawahan perempuannya tidak nyaman. Bahkan pernah, saat tali bra salah satu bawahannya tidak sengaja terlihat di bagian pundak, dia tiba-tiba membantu membetulkan menyelipkan tali tersebut ke dalam blus.

Bawahannya cuma bisa cengengesan. Dalam hati mungkin merutuki. Siapa tau. Karena posisinya serba salah. Dia tidak bisa konfrontasi ke Pak Yayan, beliau atasannya. Dia tidak bisa mengadu kepada manajemen, karena banyak yang dikhawatirkan: Susah dibuktikan, nanti Pak Yayan sensi dan dia jadi dipersulit saat di kantor, belum lagi rasa malu diliat orang-orang kalau sampai cerita ini kemana-mana.

Gue juga pernah di posisi serba salah begitu.

Suatu hari naik kereta saat lagi padat-padatnya, bergeser saja sulit. Gue bener-bener terhimpit di tengah-tengah. Tau-tau, berasa ada yang ngegesek-gesekin sesuatu di pantat gue.

Okay, I’m not stupid. I’m not an innocent woman, I’m married and I know exactly what that thing is. Ada yang gesekin p*nisnya ke pantat gue.

Dari ujung rambut ke ujung kaki langsung dingin. Kaku. Gue bingung harus apa. Gue mau sikut dia tapi susah gerakin tangan gue. Gue mau geser berpindah tempat tapi gak bisa gerak. Kalo gerak pelan-pelan, gue takut malah semakin bikin dia “enak” karena badan gue yang menggeser pelan-pelan. Gue mau berbalik teriak marahin dia, tapi gue… takut.

Iya, takut.

Izinkan gue flashback sebentar.

Dulu, gue kuliah di Akademi Sekretari T di daerah Jakarta Timur. Agak terpencil lokasinya hahaha. Karena itu banyak yang ngekost di dekat kampus dan baru balik ke rumah orang tua saat weekend. Trus karena kampus calon-calon sekretaris, otomatis isinya cewek-cewek semua. Sasaran empuklah kita untuk menjadi korban pelecehan seksual. Tanya aja ke semua mahasiswa aksek T yang kampusnya di situ, waduh obrolan tentang PK (Penjahat Kelamin, sebutan kita untuk pelaku pelecehan) seru dan sama banyaknya dengan obrolan kita tentang setan ato kejadian mistis di kampus lol.

Seru tapi ngenes.

Kalo di list banyak banget kejadian yang gue sendiri mengalami secara langsung tidak langsung:
1. Pagi-pagi (IYA PAGI-PAGI) di depan kostan ada cowok berdiri depan pagar dan nanya ke kita “Mbak, mbak, ini depan pagernya kenapa nih?”. Gue posisinya lagi di ruang tamu, tapi salah satu kakak kelas yang lagi di teras langsung nyamperin dan ngecek apa yang dimaksud. Ternyata, si mas kasih liat p*nisnya. Kampret.
2. Malem-malem, habis dari makan malem berempat, pulang ke kostan dengan posisi lagi di pintu pager. Kebetulan, gue yang paling depan jadi gue yang buka gembok pagar. Ada motor lewat. Pas gue udah ngebuka pintu, belom sempet masuk eh temen-temen gue udah pada menghambur masuk semua ke dalem dengan panik. Tangannya pada dingin semua. Semua kayak abis ngeliat setan. Taunya, mas yang naik motor barusan, lewat sambil ngangkang dan kasih liat p*nisnya. Iya, kampret.
3. Siang-siang pulang kuliah, di jalan balik ke kostan di dekat salah satu tiang, ada cowok berdiri sendirian. Temen gue yang udah ngeliat duluan, langsung narik gue dan ngajak mampir tukang jus dulu. Baru di tempat tukang jus dia jelasin ada apa. Ternyata cowok tadi lagi on@ni. Kampret banget.
4. Lagi jalan sama temen sore-sore pulang kuliah. Yang namanya anak kuliah bubaran ya, pasti jalannya entah berdua, bertiga, ato satu geng gitu. Tapi mencar-mencar, di depan ada yang berdua, di belakang gue dan temen gue ada yang bertiga. Nah tau-tau ada motor lewat, ngueeennggg! Eh sambil lewat, t*ket temen gue diremes sama dia dong.  Tau-tau kita udah denger temen gue itu jerit terus pada heboh di belakang. Kampret banget banget.
5. Sumfe masih banyak kasus serupa lainnya tapi ga bakal gue list lagi.

Kalo kalian perhatikan, di kejadian-kejadian itu gue ada tapi ga menimpa langsung ke gue. Dan gue bingung kenapa temen-temen gue jadi freeze semua kebanyakan kalo ngeliat orang kayak gitu, kenapa langsung jadi pada pucet dan memilih untuk diem langsung pergi. Ludahin aja. Sinisin aja. Katain aja “Cih, t!t!t kecil aja dipamerin!”

Intinya jangan diem aja.

Tapi… pas kejadian di gue. Ternyata gue juga cuma bisa diem, dan ngerasa dingin sebadan-badan. Berasa kaku, berasa takut, berasa kuatir ini kuatir itu.

Pertama kali gue ngalamin kejadian frontal selain di kereta adalah di angkot. Pagi-pagi di pojokan, cowok depan gue on@ni sambil ngeliatin gue. Pas gue ngeh, gue bener-bener bingung harus gimana. Akhirnya gue memilih untuk teriak “Kiri!” ke abang supir dan berenti di salah satu SD Negeri. Gue bahkan ga bilang ke si abang supir bahwa salah satu penumpangnya itu sakit jiwa. Gue terlalu takut dan banyak mikir. Gue kuatir si PK marah dan ikutan turun trus ngejer gue. Gue takut dia berusaha meluk gue. Gue takut ini iu dan khawatir ini itu.

Begitupun saat di kereta. Gue takut kalo gue konfrontasi, trus dia bilang gue kegeeran, gimana? Kalo gue konfrontasi dan orang-orang cuma liatin gue dengan iba tapi ga ada yang bantuin gue, gimana? Gue sampe bisa mendengar nafas dia terengah-engah di belakang gue. Iya, semenjijikkan itu. Tapi gue cuma bisa diem. Dan mikir ribuan gimana kalo.. gimana kalo.. gimana kalo.. di dalem otak gue. Gue lirik kiri kanan berharap someone notice. Untungnya, arah ke Tangerang itu jarak setiap stasiun ga jauh. Jadi saat kereta berhenti di salah satu stasiun, otomatis di dalem ada pergeseran penumpang memberi jalan untuk penumpang yang mau turun. Gue langsung buru-buru geser menjauh dan mepet ke salah satu penumpang perempuan.

Mungkin contoh-contoh di atas terlalu ekstrim ya. Mungkin ga semuanya pernah mengalami pelecehan seperti itu. Tapi sayangnya, pelecehan seksual itu bukan hanya dalam bentuk seperti itu. Pelecehan seksual tak hanya remas-remas, memperlihatkan kelamin.

Omongan pun bisa melecehkan. Dan ini yang sayangnya, juga seringkali kita sambut dengan diam, dengan senyum ga nyaman, dengan tawa palsu berusaha menutupi suasana canggung.

Balik lagi ke Pak Amin ya.

Pak Amin ini pernah komentarin gue keliatan agak gemuk. Trus pas gue diet menjelang mau nikah, dia pernah loh di depan orang banyak ngeliat gue masuk ke ruangan bilang “Wah, top, udah oke nih lekuknya.” Lalu dia diem sejenak merhatiin badan gue dan lanjutin “Cuma kurang perutnya aja tinggal dikempesin sedikit lagi.” dengan gerakan tangan untuk menjelaskan maksudnya.

Gue? Cuma bisa hehehehehehe sambil lanjut ambil posisi untuk duduk dan mulai rapat. Yes, people, komentar itu keluar di tengah rapat dengan belasan pasang mata memandang gue.

Ga cuma sekali dua kali. Dia seringggg banget komentarin badan gue dan perempuan lainnya.  Seakan-akan dia sedang memberi saran bagus untuk kita. Seakan-akan komentarnya bisa memotivasi kita. Seakan-akan kita harus bangga sama pujiannya ketika dia dengan gerakan tangan membentuk gelombang biola gitu bilang “Wah, bagus loh badanmu, mantap.” kemudian tunjukin jempolnya dengan mata masih merhatiin badan kita.

Oh ya? Badan saya bagus ya? Oke then let me tell you something…

My eyes are up here and… FUCK YOU.

FUCK YOU, YOU DISGUSTING OLD PERVERT, FUCK YOU!!

Dan tentu saja itu cuma ada di otak gue saja 🙂

Gue cuma bisa berusaha memberikan senyum palsu. Seakan-akan itu satu-satunya pilihan yang bisa gue lakukan. Untuk mempertahankan being polite.


Menyedihkan sekali ya.

Sebagai perempuan, bahwa kita tidak bisa lebih vokal menunjukkan ketidaknyamanan kita terhadap pelecehan seksual yang kita alami.

Bahwa ada begitu banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan hanya untuk sekadar menunjukkan bahwa “NO, IT’S NOT OKAY.”

Bahwa saat ada perempuan yang angkat bicara mengenai pelecehan seksual, kita sesama perempuan cuma bisa berbisik di belakang, mengasihani dia, atau diam-diam mengagumi keberaniannya.

Bahwa banyak yang menyadari pelecehan seksual sedang terjadi di depan matanya tapi hanya diam, atau ikut diam bersama dengan diamnya korban.

Bahwa ketika itu terjadi pada orang lain, mudah bagi kita berpikir kok dia gak begini sih, kok dia gak begitu sih, kok dia diem aja sih, kok dia bego sih gak begini, kok dia mau aja sih digituin.

Bahwa kita sesama perempuan pun seringkali tidak bisa membela perempuan yang menjadi korban.

Menyedihkan sekali ya.

Kenyataan bahwa kita, ketika akhirnya bersuara pun, seringkali langsung diredam.

Atau dibilang cari perhatian.

Ternyata, perjuangan Kartini belum selesai.

Kita masih butuh lebih banyak Kartini.

Advertisements

24 thoughts on “Kita Masih Perlu Kartini

  1. Gile horror yaa lip itu kost2an ampun deh tu PK PK berkeliaran. Emang sbg perempuan pasti pernah ngalemin pelecehan baik lgsg maupun tdk lgsg ky gitu yaa lip. Ak jg ntn tu video yg pasien di RS.. gile minta d tampar bolak balik tu perawat kek gitu. Grrr emosi.

    Like

    • Iya malesin banget Nie, jadi parno kalo ngeliat ada cowok sendirian gitu males bener deh pengen jauh2. Hehehe tapi soal pasien NH itu gosipnya sih sebenernya si perawat berusaha copot alat2 di area dada dan payud4r4 nya aja loh. Kesian juga kalo beneran si perawat difitnah 😦

      Like

  2. Gua juga pernah ngalamin. emang gua ngerti banget perasaa freeze. gua inget ada 2 kejadian yang bener2 gua lawan. ada anak macem anak kampung gitu, boncengan naik sepeda (yg dibelakang berdiri dan dia yang megang t0k3t gua, alhasil gua lari kejer mereka dan gua jambak rambutnya. yg bawa sepeda raib kabur.

    yg kedua temen kantor, dia setiap ketemu gua, dia megang pipi gua dengan kedua tangannya dan bahu gua (sambil ditepuk2 gitu). (mirip kaya pak amin) padahal belum lama masuk, baru sekitar 2 bulan, trus gua lapor atasan gua, dan akhirnya di pecat.

    emang serem2 sih kalo ngalemin model gini. kalo yang gak brani gua tereak banyak. hahaha.. dan akhirnya gua trauma sama pemulung yang bawa2 besi kaitan itu, krn pernah gua tereak, dia ngejar gua dan ngacung2in kaitnya, trus bilang gua mau dibunuh. ish.

    Like

  3. pernah dulu jaman naik bis, ada yang pegang pegang tanganku, bahuku. karena lama kelamaan kok orangnya kayak mau lecehin, aku balik badan dan kupelototin. cuma berani melotot aja, ga brani ngamuk. untungnya kondekturnya ngeh dan tiba-tiba langsung berdiri di antara aku dan si bapak mesum.

    kejadian lain, pernah nunggu kantor dibuka, ada cowok yang parkir di dekat tempatku duduk. dan dia pamerin asetnya. mulanya aku freeze. lama lama, ambil batu gede, kudekati dia dan kulempar batu. dia ngancem, aku ngancem balik. rasanya takut setengah mati.

    ngerti banget rasanya freeze itu kayak gimana. huhuhu

    Like

  4. Gw juga pernah di esek di bis 213… Kamfret tuh, ngebayangin aja merinding lagi gw..Tapi waktu itu gw berusaha jauhin. Gw sikut2, pas gw menjauh gw bilang ke sekitar hati2 ada orang porno.. Terus kejadian ke dua di jembatan penyebrangan yg skrg jadi halte TJ karet. Dulu kan sepi itu, gw dicolek di pantat pas lewat papasan gitu. Gw balik kan, cowonya lari dong. Sayang banget cuma ada batu kecil. gw lempar tuh sambil teriakin. Gw benci banget nih sama orang2 begini. Skrg gw kalau di kereta ada yang sender2in badannya aja pasti gw langsung dorong balik. Emang mesti sigap yg bgni2, ga usah takut Lip kalo mikir ga akan dibelain karena pasti akan ada aja. Setidaknya yg sejauh gw liat begitu.

    Ini si amin *dah ga bisa hormat lagi, sama sekali ga bisa dilaporin? Kan sudah banyak korbannya Lip..

    Like

  5. Gue sbg korban pelecehan agree bgt Lip sama penjabaran reaksi qta saat ngalamin pelecehan itu sendiri. Syok kaget en mematung. Mau lawan?! Qta punya banyak pemikiran “tar malah begini begitu” yang mana bakal ngerugiin qta. Gue sebnrnya males kalo cerita pernah dilecehkan soalnya rekasi yg gue terima bukan org prihatin (bukan ngarep dikasihanin ya) tapi malah dibilang “bodoh deh ga ngelawan” dsbnya. Gue cuma bisa hela nafas. Mrk bisa blg gt krn ga ngerasain/ngalamin (bukan nyumpahin mrk ngerasain/ngalamin).
    Gue pernah kayak lo Lip; di busway ada kakek gesek2in p*nisnya ke belakang gue, busway full! Ga bs gerak kemana2. Ga berlsg lama krn brenti di halte en pas gue turun tuh kakek bilang “makasih ya neng” sambil cengar cengir. Fangkeee kan!!

    Gue lagi jalan di trotoar. Org sebelah gue jalan lbh cepet tiba2 muter balik ke arah gue en cemek2 tete gue.

    Gue lagi naik bajaj, ad anak (iya anak) ngamen terus gue ga kasi duit. Gitu lampu ijo, dia cemek tete gue.

    Gue turun dari bajaj, pas lagi ngasi duit eh abangnya narik tangan gue en bilang “nikah yuk neng sama abang” sambil garuk2 p*nisnya.

    Pas kuliah, gue pernah dipanggil sama salah satu dosen ke ruangannya. Gegara gue komplen kenapa nilai gue anjlok sdgkan kalo gue liat2 sama temen gue tuh jawaban gue bener. Diruangan itu, gue dielus2 punggung sama mau dicium pipi!! Taekkk! Gue langsung lari kuar en sebodo amat sama nilai gue.

    En beberapa pelecehan lainnya…

    Entahlah Lip, gue sendiri bingung baiknya gimana qta bertindak ketika qta dilecehkan. Kalo emank memgknkan emank baiknya qta lawan mgkn dgn cara qta lari tow menghindar jau2 tapi kalo sikonnya ga kayak gitu, gmn?! Apa dengan qta ngelawan qta bener2 bakal dpt dukungan dr org2 sekitar? Atau malah jd senjata makan tuan?

    yg bisa gue bilang, qta sbg cewek kudu lbh ati2, lbh mawas diri. Qta ga pernah tau lelaki macem apa yg qta hadepin diluar sana. Penampilan blh baik tapi hati en niatnya qta ga pernah tau (kayak pak Amin entuh).

    Sbg sesama korban, qta cuma bisa saling support saling nguatin en berharap angka pelecehan kek gini bisa ditekan

    Jah jadi panjang dah komen gue Lip, ga males bacanya kan?! *u know what i mean* bwkwkwkwkwkwk

    Like

    • Ya ampun Pingggg, mudah2an ga akan ngalamin gituan lagi ya. Ish tuh orang-orang norak ya mentang2 ngeliat artis korea, trus mereka pikir boleh melecehkan, gitu?? Semoga udah pada tobat semuanya, hih amit2 sebel mikirinnya.
      Trus yang sama dosen itu gimana ping kan tetep aja gimanapun ketemu lagi di kampus?

      Like

  6. Sebenarnya baca post ini mengingatkan aku kembali pengalaman kelamku dulu. Pertama kali mengalami pelecehan sexual adalah disaat aku masih kecil, kelas 4 SD oleh guru ku sendiri.
    Fyi guru tersebut termasuk populer untuk kalangan anak-anak dan juga mengajar olahraga. And aku saat itu murid pindahan, pas lagi di aula sekolah karena baru kelar olahraga, guru tersebut merangkul aku dan tangannya meremas2 payudaraku. Aku paham banget rasa takutnya di lecehin itu gimana… beranjak dewasa aku baru sadar kalau guruku itu pedofilia, cuman ya kalaupun mau lapor polisi, tidak ada bukti sama sekali and kejadian sudah berthun2 lalu. Entah sekarang gurunya masih mengajar atau tidak. Semoga sudah mampus itu guru. Terus kejadian kedua pas naik angkok jurusan Tanah Abang.. bapak2 meremas pahaku..sambil melototin lagi and di angkot sepi nggak ada orang.. akhirnya teriak stop and loncat kelaur dari angkot. Sebenarnya hingga saat ini juga sering mengalami pelecehan sexual ( secara verbal ) karena suami kebetulan WNA, dulu ke hotel bareng suami dikira cewe bayaran, sampai dengan teman ( bukan teman dekat ) kadang nggak di sadari kalau ngomong itu melecehkan and suka membahas ke arah2 urusan ranjang hanya karena aku bersuamikan WNA (mereka keracunan video porno ), kadang sebagian pribadi emang nggak sadar sih kalau lagi ngobrol/bercanda itu mengarah kepada pelecehan ( mungkin nggak bermaksud melecehkan tapi jatuhnya jadi melecehkan ), kalau di nasihatin tar dibilang kitanya baperan hehe.

    Like

    • Bener An!! Kadang dari sisi cowok itu kayak nganggep mereka cuma becanda dan mereka expect us to laugh along with them. Wth. Lo jadiin gue ato perempuan lain sebagai object sexual dan dicandain and you want me to be okay with that?? To accept that?? Tapi ya gitu ya repotnya, kalo kita kzl eh kita dibilang too sensitve. Ga asyik. Ga bisa becanda. ISHHH.

      Like

  7. We have to fight back! seharusnya!!! tapi di saat itu, gw pilih lari doank dengan alibi karena terlalu shock buat mencerna yang terjadi!!! *sigh* emosi banget ya lip kalo kayak gini!!! dan miris baca cerita dari temen2 yg laen! pokoknya jangan kasih kendor!!! hajar aja laen kali!!!

    Like

  8. Gua shock bacanya, Lip.. trus baca komen temen2 tambah shock. Gua pernah sih pantat di remet ma bapak2 di mol. Jalannya mepet2 banget pdhl molnya ga rame, gua jalan cepet kenapa tangannya tetep nempel aja. Gua tepis2 sambil gua pelototin dan teriakin, om2nya jalan ngeloyor mukanya biasa banget kek ga ada apa2. Jijik banget kan. Kita diem, mereka cuek. Kita ngelawan, mereka jg pasang tampang innocent. Emang mustinya senggol bacok aja langsung.

    Liked by 1 person

    • Kayaknya kalo sering naik angkutan umum otomatis jadi lebih sering ketemu pengalaman aneh2 malesin gini ci 😦
      Dih itu bapak2 kok parah banget ya, minta ditendyaaannggg.

      Like

  9. Memang serba salah sih Ci bingung gimana ngadepinnya ketika diri sendiri ngalamin kejadian kayak gitu, serba takut tapi juga mau marah susah, didiemin atau diplototin malah makin jadi 😦
    Udah beberapa kali stasiun tv bikin simulasi tentang pelecehan seksual misal di kendaraan umum/transjakarta/kereta, ketika ada cewe teriak2/nyemprot si penjahat kelamin sayangnya kebanyakan yg ngeliat kejadian cuma bisa ngeliatin doang tanpa bantuin apa2, sekedar bantu ngomelin pun ga ada 😦

    Like

    • Nah iya, waktu itu di commuter line juga ada cewe yang berani teriakin cowo di belakangnya karena dia bilang pegang2 dia. Penumpang lain ada beberapa yang komen2 gitu tapi ya kaga ada yang bener2 bantuin nih cewe loh. Jadi cewe ini dengan gagah beraninya nahan pegangin tangan cowok yang PK itu biar ga kabur dan dia geret turun di stasiun berikutnya utk dilaporin ke petugas. Aku kagummmm.

      Like

  10. Brutal truth ya lip. Bener tuh itu kejadian sehari2 yang sangat common terjadi tapi ga pernah benar2 diangkat dan diselesaikan issu nya. Sebagai korban emang harus berani speak up dan itu sangat ga mudah. Entah harus gimana baiknya. Kynya emang harus hukuman sosial si kalo PK2 itu. Kalo hukuman formal belom tentu kapok. Btw kl ga salah skrg di bus tj ato kereta kalo ketauan ada PK bisa kena hukuman sosial deh yg disuru berdiri ditelanjangin (dada) sambil bawa karton tulisan gitu. Pernah baca soalnya. Semoga masyrakat kt lebih sadar utk perang sm para PK2 ini

    Like

    • Exactly, masalahnya ketika terjadi di kantor kadang bikin serba salah. Yang cewe2 bisa pada share dan bilang kzl zbl tapi ga ada yang bener2 speak up untuk nuding si oknum udah melecehkan kita 😦

      Like

  11. 1. akuh juga pernah di remessss pas lagi naik motor trus ku kejar balikkk dia ngebut trs aku juga ngebut. and then saya pikir trs kalo dapet trs mo ngapain? aku takut ya kan kalo malah semakin menjadi. dan parahnya dia jadi hafal plat nomer motor aku dan aku pun hapal. sampe akirnya 2x ketemu dijalan aku dikejer2 terussss. akupun ngebuttt sampe akirnya ngumpet masuk bank lah. masuk hotel gede lah zzzz
    2. baru tau tnyata ngeri bgt ya jakarta sampe onani aja pamer di angkot. emang yang lain ga liat?
    3. akirnya komen dimari juga setelah inget pasword wordpress lol

    Like

Write your thoughts or questions here! :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s