24

Kita Masih Perlu Kartini

Kemarin malem gue tiba-tiba keinget sama salah satu kejadian pelecehan seksual yang pernah gue alami, eeehhh hari ini lagi heboh sama pelecehan seksual yang dialami pasien di Rumah Sakit N Surabaya.

Seperti biasa, postingan ini akan jadi postingan yang panjang. Lol. Typical postingan gue yak mihihihi.

Membahas pelecehan seksual itu terkadang bikin orang meringis dalam hati. Seakan-akan itu hal yang tabu. Seakan-akan itu hal yang bikin malu, aib. Padahal, seringkali pelecehan seksual itu terjadi di sekitar kita bahkan terjadi pada kita sendiri. Entah kita sadari atau tidak.

Semalem gue jadi pengen bahas ini karena gue tiba-tiba keinget sama salah satu bapak kenalan gue. Katakanlah dia Pak Amin.

Awal ketemu Pak Amin, gue merasa dia orangnya baik. Kebapakan. Ramah. Memang sih dia terkadang suka menepuk-nepuk pundak, atau mengusap punggung gue ketika ngobrol. Tapi gue anggap itu sebuah friendly gesture.

Lama kelamaan, gue mulai tidak nyaman karena dia bisa terus mengusap punggung gue selama kita berbicara. Tapi kalo ngambil tangannya ato berhentiin usapannya kok terkesan tidak sopan. Rasanya akan menjadi canggung.

Padahal GUE SANGAT TIDAK NYAMAN.

Hal ini dia lakukan kepada perempuan-perempuan lainnya. Dan perempuan-perempuan lainnya juga saat berkumpul, membuka suara mengakui bahwa mereka tidak nyaman dengan gesture dari Pak Amin tersebut. Tapi tidak ada yang berani mengatakan langsung kepada Pak Amin bahwa apa yang dia lakukan membuat kita tidak nyaman.

Pernah suatu waktu gue melihat Pak Amin mengusap-ngusap tangan salah satu perempuan di tengah rapat. Entahlah perempuan itu menikmati, atau sungkan menarik tangannya, yang jelas itu dilakukan terang-terangan seakan-akan hal tersebut lumrah.

Contoh lainnya, ada juga yang bernama Pak Yayan. Dia terkadang bisa melakukan gesture yang membuat bawahan perempuannya tidak nyaman. Bahkan pernah, saat tali bra salah satu bawahannya tidak sengaja terlihat di bagian pundak, dia tiba-tiba membantu membetulkan menyelipkan tali tersebut ke dalam blus.

Bawahannya cuma bisa cengengesan. Dalam hati mungkin merutuki. Siapa tau. Karena posisinya serba salah. Dia tidak bisa konfrontasi ke Pak Yayan, beliau atasannya. Dia tidak bisa mengadu kepada manajemen, karena banyak yang dikhawatirkan: Susah dibuktikan, nanti Pak Yayan sensi dan dia jadi dipersulit saat di kantor, belum lagi rasa malu diliat orang-orang kalau sampai cerita ini kemana-mana.

Gue juga pernah di posisi serba salah begitu.

Suatu hari naik kereta saat lagi padat-padatnya, bergeser saja sulit. Gue bener-bener terhimpit di tengah-tengah. Tau-tau, berasa ada yang ngegesek-gesekin sesuatu di pantat gue.

Okay, I’m not stupid. I’m not an innocent woman, I’m married and I know exactly what that thing is. Ada yang gesekin p*nisnya ke pantat gue.

Dari ujung rambut ke ujung kaki langsung dingin. Kaku. Gue bingung harus apa. Gue mau sikut dia tapi susah gerakin tangan gue. Gue mau geser berpindah tempat tapi gak bisa gerak. Kalo gerak pelan-pelan, gue takut malah semakin bikin dia “enak” karena badan gue yang menggeser pelan-pelan. Gue mau berbalik teriak marahin dia, tapi gue… takut.

Iya, takut.

Izinkan gue flashback sebentar.

Dulu, gue kuliah di Akademi Sekretari T di daerah Jakarta Timur. Agak terpencil lokasinya hahaha. Karena itu banyak yang ngekost di dekat kampus dan baru balik ke rumah orang tua saat weekend. Trus karena kampus calon-calon sekretaris, otomatis isinya cewek-cewek semua. Sasaran empuklah kita untuk menjadi korban pelecehan seksual. Tanya aja ke semua mahasiswa aksek T yang kampusnya di situ, waduh obrolan tentang PK (Penjahat Kelamin, sebutan kita untuk pelaku pelecehan) seru dan sama banyaknya dengan obrolan kita tentang setan ato kejadian mistis di kampus lol.

Seru tapi ngenes.

Kalo di list banyak banget kejadian yang gue sendiri mengalami secara langsung tidak langsung:
1. Pagi-pagi (IYA PAGI-PAGI) di depan kostan ada cowok berdiri depan pagar dan nanya ke kita “Mbak, mbak, ini depan pagernya kenapa nih?”. Gue posisinya lagi di ruang tamu, tapi salah satu kakak kelas yang lagi di teras langsung nyamperin dan ngecek apa yang dimaksud. Ternyata, si mas kasih liat p*nisnya. Kampret.
2. Malem-malem, habis dari makan malem berempat, pulang ke kostan dengan posisi lagi di pintu pager. Kebetulan, gue yang paling depan jadi gue yang buka gembok pagar. Ada motor lewat. Pas gue udah ngebuka pintu, belom sempet masuk eh temen-temen gue udah pada menghambur masuk semua ke dalem dengan panik. Tangannya pada dingin semua. Semua kayak abis ngeliat setan. Taunya, mas yang naik motor barusan, lewat sambil ngangkang dan kasih liat p*nisnya. Iya, kampret.
3. Siang-siang pulang kuliah, di jalan balik ke kostan di dekat salah satu tiang, ada cowok berdiri sendirian. Temen gue yang udah ngeliat duluan, langsung narik gue dan ngajak mampir tukang jus dulu. Baru di tempat tukang jus dia jelasin ada apa. Ternyata cowok tadi lagi on@ni. Kampret banget.
4. Lagi jalan sama temen sore-sore pulang kuliah. Yang namanya anak kuliah bubaran ya, pasti jalannya entah berdua, bertiga, ato satu geng gitu. Tapi mencar-mencar, di depan ada yang berdua, di belakang gue dan temen gue ada yang bertiga. Nah tau-tau ada motor lewat, ngueeennggg! Eh sambil lewat, t*ket temen gue diremes sama dia dong.  Tau-tau kita udah denger temen gue itu jerit terus pada heboh di belakang. Kampret banget banget.
5. Sumfe masih banyak kasus serupa lainnya tapi ga bakal gue list lagi.

Kalo kalian perhatikan, di kejadian-kejadian itu gue ada tapi ga menimpa langsung ke gue. Dan gue bingung kenapa temen-temen gue jadi freeze semua kebanyakan kalo ngeliat orang kayak gitu, kenapa langsung jadi pada pucet dan memilih untuk diem langsung pergi. Ludahin aja. Sinisin aja. Katain aja “Cih, t!t!t kecil aja dipamerin!”

Intinya jangan diem aja.

Tapi… pas kejadian di gue. Ternyata gue juga cuma bisa diem, dan ngerasa dingin sebadan-badan. Berasa kaku, berasa takut, berasa kuatir ini kuatir itu.

Pertama kali gue ngalamin kejadian frontal selain di kereta adalah di angkot. Pagi-pagi di pojokan, cowok depan gue on@ni sambil ngeliatin gue. Pas gue ngeh, gue bener-bener bingung harus gimana. Akhirnya gue memilih untuk teriak “Kiri!” ke abang supir dan berenti di salah satu SD Negeri. Gue bahkan ga bilang ke si abang supir bahwa salah satu penumpangnya itu sakit jiwa. Gue terlalu takut dan banyak mikir. Gue kuatir si PK marah dan ikutan turun trus ngejer gue. Gue takut dia berusaha meluk gue. Gue takut ini iu dan khawatir ini itu.

Begitupun saat di kereta. Gue takut kalo gue konfrontasi, trus dia bilang gue kegeeran, gimana? Kalo gue konfrontasi dan orang-orang cuma liatin gue dengan iba tapi ga ada yang bantuin gue, gimana? Gue sampe bisa mendengar nafas dia terengah-engah di belakang gue. Iya, semenjijikkan itu. Tapi gue cuma bisa diem. Dan mikir ribuan gimana kalo.. gimana kalo.. gimana kalo.. di dalem otak gue. Gue lirik kiri kanan berharap someone notice. Untungnya, arah ke Tangerang itu jarak setiap stasiun ga jauh. Jadi saat kereta berhenti di salah satu stasiun, otomatis di dalem ada pergeseran penumpang memberi jalan untuk penumpang yang mau turun. Gue langsung buru-buru geser menjauh dan mepet ke salah satu penumpang perempuan.

Mungkin contoh-contoh di atas terlalu ekstrim ya. Mungkin ga semuanya pernah mengalami pelecehan seperti itu. Tapi sayangnya, pelecehan seksual itu bukan hanya dalam bentuk seperti itu. Pelecehan seksual tak hanya remas-remas, memperlihatkan kelamin.

Omongan pun bisa melecehkan. Dan ini yang sayangnya, juga seringkali kita sambut dengan diam, dengan senyum ga nyaman, dengan tawa palsu berusaha menutupi suasana canggung.

Balik lagi ke Pak Amin ya.

Pak Amin ini pernah komentarin gue keliatan agak gemuk. Trus pas gue diet menjelang mau nikah, dia pernah loh di depan orang banyak ngeliat gue masuk ke ruangan bilang “Wah, top, udah oke nih lekuknya.” Lalu dia diem sejenak merhatiin badan gue dan lanjutin “Cuma kurang perutnya aja tinggal dikempesin sedikit lagi.” dengan gerakan tangan untuk menjelaskan maksudnya.

Gue? Cuma bisa hehehehehehe sambil lanjut ambil posisi untuk duduk dan mulai rapat. Yes, people, komentar itu keluar di tengah rapat dengan belasan pasang mata memandang gue.

Ga cuma sekali dua kali. Dia seringggg banget komentarin badan gue dan perempuan lainnya.  Seakan-akan dia sedang memberi saran bagus untuk kita. Seakan-akan komentarnya bisa memotivasi kita. Seakan-akan kita harus bangga sama pujiannya ketika dia dengan gerakan tangan membentuk gelombang biola gitu bilang “Wah, bagus loh badanmu, mantap.” kemudian tunjukin jempolnya dengan mata masih merhatiin badan kita.

Oh ya? Badan saya bagus ya? Oke then let me tell you something…

My eyes are up here and… FUCK YOU.

FUCK YOU, YOU DISGUSTING OLD PERVERT, FUCK YOU!!

Dan tentu saja itu cuma ada di otak gue saja 🙂

Gue cuma bisa berusaha memberikan senyum palsu. Seakan-akan itu satu-satunya pilihan yang bisa gue lakukan. Untuk mempertahankan being polite.


Menyedihkan sekali ya.

Sebagai perempuan, bahwa kita tidak bisa lebih vokal menunjukkan ketidaknyamanan kita terhadap pelecehan seksual yang kita alami.

Bahwa ada begitu banyak pertimbangan yang harus kita pikirkan hanya untuk sekadar menunjukkan bahwa “NO, IT’S NOT OKAY.”

Bahwa saat ada perempuan yang angkat bicara mengenai pelecehan seksual, kita sesama perempuan cuma bisa berbisik di belakang, mengasihani dia, atau diam-diam mengagumi keberaniannya.

Bahwa banyak yang menyadari pelecehan seksual sedang terjadi di depan matanya tapi hanya diam, atau ikut diam bersama dengan diamnya korban.

Bahwa ketika itu terjadi pada orang lain, mudah bagi kita berpikir kok dia gak begini sih, kok dia gak begitu sih, kok dia diem aja sih, kok dia bego sih gak begini, kok dia mau aja sih digituin.

Bahwa kita sesama perempuan pun seringkali tidak bisa membela perempuan yang menjadi korban.

Menyedihkan sekali ya.

Kenyataan bahwa kita, ketika akhirnya bersuara pun, seringkali langsung diredam.

Atau dibilang cari perhatian.

Ternyata, perjuangan Kartini belum selesai.

Kita masih butuh lebih banyak Kartini.

Advertisements
30

Serem Serem Malesin

Belakangan ini ngalemin beberapa hal yang “serem” dan “malesin”. Gak penting sih. Tapi pengen cerita aja hahaha.

  1. Korean Odyssey
    Nih film lagi sering banget muncul di newsfeed facebook gue. Tentang cewe yang bisa ngeliat setan. Sebelnya, kalo film Goblin kan setannya ya masih lumayan ga frontal-frontal banget (dari cuplikan-cuplikan yang beredar di sosial media), kalo film ini.. setannya ngagetin! Ish. Gue paranoid sama ginian, jadi ga suka kalo ngeliat begini-beginian juga. Manalah video facebook suka maen langsung play begitu aja pas lagi di scroll. Ergh. Mungkin buat orang lain setannya cemen ya, tapi buat gue yang ngeliat setan boongan di Indosiar (orang yang dipakein baju putih trus matanya dipakein eyeliner ampe kayak panda) aja kebayang-bayang dan takut sendiri, ngeliat cuplikan film ini jadi bikin gue kzl. Kenapa sih banyak amet yang share??
  2. Susu formula atau susu asi?
    Itu pertanyaan yang sering di dapat kalo kita punya anak. Susunya minum apa? Sufor atau asi? Selama ini gue kira pilihannya ya cuma dua itu. Entah minum langsung dari tete mamaknya, ato minum susu formula. Kalo anaknya udah rada gede, bisa minum susu UHT instead of susu formula bubuk.
    Sekitar sebulan lalu gue maen ke RPTRA bawa Mireia. Itupun ga sengaja sih nemu RPTRA nya, ngajakin Mireia jalan-jalan pagi ke komplek perumahan belakang ruko, eh ngeliat ada ibu-ibu pada senam. Taunya cuma seratus meter dari rukonya mertua, ada tempat buat Reia ketemu sama anak-anak komplek. Ada perpustakaan, ada jungkat-jungkit, ada perosotan dan ada ayunan juga. Asyik deh, salah satu ‘peninggalan’ berharga dari Pak Ahok 🙂
    Eh maap melenceng ke RPTRA hahaha. Balik ke persoalan susu. Pas lagi maen jungkat-jungkit, ada satu anak cowok yang sedikit lebih gede dari Reia (kayaknya udah mau 2 tahun ato udah 2 tahun gitu) jadi pasangan maen Mireia. Trus mamanya nanya Reia nyusu apa kalo ga salah. Gue bilang asi. Trus emaknya nih anak cowo bilang gini: “Oh dia dulu juga nete badan sampe setahunan trus setelah itu minumnya susu bendera, kenceng ini minum susunya, sekarton isi beberapa kaleng itu aja bisa habis dalam 3 hari.”
    Pertama gue ga gitu ngeh. Tapi abis itu gue baru sadar yang dia maksud itu susu kental manis.
    EBUSET. Gue tau sih susu kental manis bisa diseduh air panas trus jadi susu, tapi nyokap gue ga pernah ngasih gue susu kayak gitu. Selalu susu bubuk atau susu UHT. Temen gue ada yang minum susu dari susu kental manis gitu tapi sesekali doang. Nah kalo buat dijadiin sebagai susu yang sehari diminum berkali-kali oleh anak batita…. GUE BARU TAU.
    Menurut gue itu sereeemmmmm. Apalagi seminggu kemudian koko secara bilang ke gue gini, “Tau gak ce, aku baru baca, ternyata ya susu kental manis itu sebenernya GULA. Yang dibikin memiliki perisa rasa SUSU.”
    YAAMPUN MAKIN SEREM. Mudah-mudahan sih anak itu sehat selalu ya, dan semoga mamanya segera beralih ngasih anaknya susu UHT aja.
  3. Mimpi
    Gue itu selalu mimpi. Tidur 15 menit di kantor pas jam istirahat aja gue bisa mimpi. Dan gue seringkali inget mimpi gue. Lelah ga sih? Lelah sangaaaaatt.
    Apalagi kalo mimpinya berasa real banget. Bangun-bangun ga berasa bobo sama sekali. Paling sebel lagi kalo mimpinya bikin baper, sampe-sampe pas bangun masih kebawa emosi sedih/kecewa/marah dari mimpi.
    Beberapa hari lalu gue mimpi gue membunuh seseorang.
    Sekarang gue udah lupa alasannya apa, tapi detail saat gue narik pelatuk pistol (yang mana pelatuknya gak banget gitu macem dari benang maenan, aneh lah pokoknya), trus gue samperin tuh perempuan ke dalem tempat dessert dalem mall, semuanya gue inget.
    Gue juga inget gue tempelin pistol ke kepalanya dari samping, dan memutuskan nembak. Ga ada darah, ga ada suara tembakan, ga ada kepala bolong, cuma tau-tau dia collapse aja gitu. Dan gue langsung kabur. Naik lift ke lantai 3 trus turun ke dasar dengan tangga darurat. Sampe di bawah gue naik ojek. Ojeknya gue tawar 15 ribu ampe rumah, dia maunya 20 ribu. Gue deg-degan takut ditangkep jadi gue iyain aja. Trus ujan, dan gue keluarin handphone nge-google apakah berita pembunuhan ini udah masuk berita. Gue liat masih belom ada yang bahas.
    Gue mikirin pasti nanti setelah CCTV di cek, mereka bakal tau gue lah yang bunuh. Gue pasti bakal dipenjara. Gue mikir kudu kasih tau nyokap sekarang apa ngga. Kalo gue kasih tau sekarang, reaksinya gimana ya. Histeris kayak apa. Nyokap bakal stres trus sakit ga ya. Kalopun ga kasih tau, nantinya pas gue ditangkep polisi juga nyokap bakal tau. Jadi better kasih tau dari sekarang apa kaga ya.
    Gue inget perasaan menyesal gue, kok cuma karena awal yang sepele doang bisa akhirnya nembak orang. Trus gue berharap itu cuma mimpi. Duh boleh ga sih ini tau-tau gue terbangun dan cuma mimpi. Tapi kecewa karena ini kenyataan yang harus gue hadapi. Ada perasaan kuat denial berharap itu cuma mimpi. Tapi juga perasaan sedih karena bukan mimpi.
    Dan… gue kebangun. Ternyata emang cuma mimpi. Tapi saking realnya itu semua perasaan yang gue alamin dalem mimpi, gue cape banget.
    Gile ya. Sebel banget kalo mimpi kayak gini. Apalagi kalo berasa nyata sampe pas ujan-ujanan di atas motor itu aja berasa nyata banget gue kebasahan.
    Serem ga sih mimpi bisa ampe gini? Ada ga caranya supaya tidur bisa deep sleep aja? Gue kayaknya ga pernah loh ngerasain deep sleep. Huhuhu.
    Kalo ada yang tau caranya, info plisss. Gue yakin kalian baca cerita gue aja bisa kira-kira lah ya capenya kayak apa hahahaa. Tidur kok malah bikin cape. Hufh.
17

Happy New Year 2018 and Merry Belated Christmas!

Maafkan keterlambatan untuk ngucapin Merry Christmas hahaha. Yang pasang pohon natal aja mungkin udah pada nyimpen pohonnya lagi kali ya? 😛

Gue suka Natal tahun 2017 jatuhnya di hari Senin, jadi dari hari Sabtu tanggal 23 udah berasa suasana Natal banget, tapi juga udah liburan! Asyik.  Gue bisa ke mall untuk tukeran kado ama temen-temen.

Tanggal 24 di rumah aja trus ikut misa malam Natal. Koko selalu ngotot bilang misa malam Natal dan misa Natal pagi itu sama, tapi berhubung menurut gue maknanya beda, jadilah gue ngotot ikutan kedua misa itu. Ealah, gue lupa kalo misa malam natal yang pake sakramen mahakudus itu ternyata yang misa terakhir ya biasanya, yang jam 21.00. Sementara gue pergi yang jam 17.00 karena jam 20.00 udah jam bobonya Mireia 😛

Alhasil emang berasanya macem misa Natal biasanya, mirip ama misa Natal pagi hahahaha

Tanggal 25 pagi kita misa Natal bareng Mireia 🙂 Setelahnya lanjut ke Central Park untuk ngeliat Baby Shark Show. Ga bisa ikut sesi meet n greet karena udah full yang jam 14.00, tapi setelahnya bersyukur karena Reia kayaknya bakal takut hahaha. Sama patung Pinkfong aja dia takut, apalagi badutnya 😀

Beraninya sama cardboard gitu doang, dipeluk ga mau lepas hahaha.

Tanggal 26 ga kemana-mana, 27 nya ngedate berduaan koko nonton Star Wars dan Coco. Duh bagus banget ya film Coco, mengharukan. Tapi film animasi Disney Pixar emang selalu mantap sih, selalu bikin gue super lafffff ❤

“Remember me…” Hiks hiks 😦

Tanggal 28 ngajakin Reia berenang di komplek aja, tapi 4 sport club pada tutup semua. Ampun, pas udah mulai kecewa kayaknya batal berenang eh nemu sport club yang buka di Citra 2. Syukurlah, soalnya Reia udah semangat banget mau berenang 😀

Tanggal 29 gue ngantor setengah hari hahaha, emang cutinya nanggung bener ya, tapi mau ngurusin tagihan boss jadi mampir dululah di kantor.

Tanggal 30 ketemuan sama buibu blogger di Grand Indonesia, lanjut ke Lippo Mall Puri setelah itu. Gue seneng ketemu sama Gide dan Raka hahaha. Gue suka berinteraksi sama anak-anak seru begini lol. Kalo sama anak-anak lain ga banyak ngobrol karena either masih terlalu kecil ato macem Sophie dan Madeline yang udah asyik sendiri 😀

Lah kok malah jadi ama anak-anak bukan buibu? Ya abesss sama buibu cuma ngomong bentar-bentaran trus kepotong karena pada sibuk juga jagain anak masing-masing hahahaha. Nevertheless, it was fun! Gue mau ngumpul-ngumpul lagi 🙂

Tanggal 31 hari ulang tahun koko! Dia udah 36 tahun ini! Bininya 30 aja belom padahal! Hahahaha Tapi sayangnya kita ga bisa memanfaatkan keuntungan hari ultah di resto-resto karena di KTP itu tanggal lahirnya 3 Januari 1982. Aneh ya kelurahan jaman dulu, mau daftarin akte lahir masa tanggal lahir anaknya kudu sesuai tanggal permohonan akte. Lah pegimane mau daftarin tgl 31 Desember 1981 wong situ tutup kok. Hahahaha. Semoga kerjaan selalu sukses dan lancar, selalu diberi kesehatan jasmani rohani, galaknya berkurang dan selalu hepi ya suamiku! Tanggal 31 ini kita ke Central Park sama papamer dan mamamer untuk lunch birthday koko di Dharma Kitchen. Koko emang udah bilang ke gue mau makan di sini aja biar mamamer juga bisa ikutan makan bareng, biasanya kalo kita ke resto biasa gitu, mamamer kudu beli makanan vegetarian take away. Jadi mendingan ke restoran vegetarian aja sekalian deh. Eh menu yang dipesen kok hampir semuanya pedes-pedes. Lah nih orang padahal kan gue doain biar galaknya berkurang, tapi makan-makan ultahnya kok malah pedes-pedes tar tetep galak dongggg huahahaha 😛

Trus malem tahun baru ini di deket rumah kayaknya pada maen kembang api, suaranya kenceng banget jedar jeder sampe Reia sempet kebangun dan nangis, untungnya di puk-puk gitu bisa balik tidur lagi. KZL bener mamaknya. Kalo tahun depan ada rezeki, mau staycation ajalah di hotel, perasaan kok di hotel ga seberisik kalo di komplek rumah hahahaha.

Tanggal 1, SELAMAT TAHUN BARU 2018!!! Di hari pertama tahun baru kita ngebesuk temen koko yang baru punya anak kedua 🙂

Tahun baru, ngejenguk anak bayi yang baru lahir, rasanya entah kenapa nyenengin hehehe. Setelah itu karena rumahnya di Metland, deket sama tol Alsut, kita lanjut ke mal alam sutra untuk makan malem. Ngajak Reia maen mobil-mobilan yang pake remote control, ini pertama kalinya loh gue liat maenan gini. Kirain cuma bisa buat anak yang lebih gede karena kudu ngendarain sendiri, ternyata bisa buat anak seumuran Reia juga karena tar mobil dikendalikan oleh orang tuanya. Keren ya mainan anak-anak sekarang. Trus pintu mobilnya naik ke atas gitu pas dibuka macem Lamborgini! Ish keren kali. Dan sebagai orang tua yang norak, gue seneng bisa ngasih anak gue maen maenan keren begini huahahaha.

Tanggal 2 balik ngantor deh!

Di 2018 ini gue punya beberapa impian yang gue harap bisa tercapai. Tapi karena gue memang bukan tipikal yang bisa ngelist resolusi dan kemudian di checklist satu-satu, jadi yaudahlah dijalanin aja sambil berusaha diwujudkan itu mimpinya hahaha.

Yang jelas di 2018 gue berharap gue bisa jadi orang yang lebih berbesar hati. Tahun 2017 merupakan tahun di mana gue penuh emosi negatif, menjadi orang yang sangat sempit hati, dan mudah berpikiran buruk. Gampang tersulut amarah, gampang mikirin yang nggak-nggak trus emosi sendiri, duh gak suka deh gue dengan diri gue yang kayak gini.

Jadi gue pengen jadi orang yang lebih besar hati biar semua yang negatif berhenti di gue. Meskipun gue dapet perlakuan ga nyenengin dari orang lain, meskipun dinyinyirin, meskipun orang lain melakukan atau mengatakan hal yang bikin gue pengen kemudian ngejambak ato ngegampar, semoga gue bisa berbesar hati memaafkan dan yaudahlah saja gitu.

Karena kalo negatif dibales negatif ya ra uwis-uwis.

Biarlah negatifnya berhenti sampe di gue aja, ga perlu gue sembur-sembur lagi ke orang lain.

Sedappp.

Keren ya gue. Tapi ya prakteknya mana segampang itu, kakak kakaaakk. HAHAHAHAHA.

Yah tapi diaminkan saja semoga bisa dijalani meski pelan-pelan dan secimit secimit. Yang penting kan usahanya ya untuk menjadi lebih baik. Angguk-angguk ya plis pas baca ini, ikutan setuju sama gue. Hahahaha.

Semoga 2018 bisa menjadi tahun penuh berkat dan menyenangkan untuk kita semua ya!

Yuk sama-sama kita ucapkan ke tahun baru ini ucapan yang sangat mainstream, sama-sama ya di hitungan ketiga, satu… dua…. tiga…

2018, PLEASE BE NICE TO ME!!

Cup muah!!