It Takes Two To Tango

Belum lama ini Ninie share video di Path, video itu dibuat oleh seorang perempuan yang curhat bahwa dia dipoligami oleh suaminya. Tanpa suara, tanpa menunjukkan keseluruhan wajahnya karena menggunakan hijab bercadar, dia menunjukkan potongan-potongan kertas berisikan tulisan curhatannya.

Gue bersimpati banget sama perempuan ini.

Banget.

Sampai… di akhir video, dia menunjukkan nama akun instagramnya. Di akun itu, banyak foto selfie tanpa cadar. Ada foto anak-anaknya. Ada nama lengkap anak-anaknya. Kita bisa tau siapa suaminya, kayak apa suaminya, siapa istri kedua suaminya dan kayak apa si istri kedua ini.

Dan gue… malah jadi ilfil.

At first, I thought she was hiding her identity. I thought she was trying to tell people her story, without showing personal information.

Ternyata ngga. Dia membuka aib keluarganya untuk diketahui publik. Dia membuat video yang memuat identitas pribadinya, dengan resiko video tersebut bisa goes viral (atau apakah memang tujuannya seperti itu?).

Begitu video dia hits facebook, komen-komen beragam di facebook langsung bermunculan. Tentu saja, kebanyakan perempuan. Mungkin karena perempuan lebih merasa bisa relate dengan curhatan si Mbak A ini. Dan mayoritas perempuan, tentu saja, bersimpati dengan Mbak A. Mayoritas menghujat si suami. Banyak yang share video dia, dan asumsi gue, sharing tersebut dilakukan untuk menjeritkan, “Hei laki-laki, lihat nih, gak ada bagus-bagusnya poligami. Cuma bikin perempuan sengsara. Tengoklah ini teman kami, korban malang dari poligami. Jangan perlakukan istri kalian seperti itu.”

Perempuan mana yang rela dipoligami? Perempuan mana yang bisa benar-benar dengan ikhlas berbagi suami?

Tapi pertanyaan lain gue, siapa yang bisa senang kalau aib keluarganya digunjingkan khalayak ramai? Dijadikan bisik-bisik tetangga aja, kita udah ga seneng. Apalagi jadi omongan orang seindonesia? Mungkin ada di antara kita yang ternyata adalah temen SD kakaknya Mbak A. Atau temen main catur bapaknya suami Mbak A. Atau teman arisan ibunya si istri kedua. Semuanya… jadi tau.

Sekali lagi, meskipun gue kasian sama Mbak A, tapi video itu somehow malah bikin gue ilfil. That’s probably just me, though. Gue rasa, banyak yang ga setuju sama gue.

Anyway, gue bikin postingan ini bukan buat ngasitau kalau gue ilfil sama video mbak A.

Tapi karena… banyak sekali perempuan yang terbutakan oleh penderitaan mbak A, dan menutup mata terhadap apa yang MUNGKIN terjadi di balik tirai rumah tangganya.

Maaf, penggunaan bahasanya mulai drama abis ye. Hahahaha 😛

Salah satu perempuan yang komen di facebook, sebut saja dia mbak X, menyuarakan pendapat dia yang merasa bahwa ada hukum SEBAB AKIBAT dalam pernikahan. Walaupun dia tidak mendukung poligami, tapi menurut dia, barangkali ada sesuatu dari Mbak A yang menjadi penyebab suaminya berpoligami. (Dalam komen itu, dia berpendapat penyebabnya mungkin karena Mbak A yang menuntut ilmu di luar kota ampe bikin si Mbak A LDR sama suaminya).

Trus ada perempuan-perempuan yang langsung menyerang si Mbak X. Bahkan ada yang terkesan mengatakan bahwa mungkin mbak X harus merasakan dipoligami dulu baru bisa ngerti apa yang dirasakan oleh Mbak A.

LAH.

LAH????

Gue langsung gemets abis. Padahal, menurut gue, Mbak X ini ada benarnya juga loh. Bukan berarti kita ini mendukung suami si Mbak A untuk berpoligami, atau membenarkan poligami. Bukan juga merasa wajar aja kalau suaminya poligami, soalnya dia LDR an sihhh. Bukan, bukan begitu.

Seringkali kita merasa geram sama perlakuan laki-laki terhadap sesama kita yang perempuan. Tapi kita lupa, setiap permasalahan, apalagi rumah tangga orang lain, pasti punya cerita lebih lengkap dan detail di baliknya.

Selalu ada dua sisi dari sebuah koin.

Kalau gue misalkan cerita soal permasalahan rumah tangga gue ke temen gue, kemungkinan besar, teman gue akan menangkap kesan bahwa koko lah yang udah menyakiti gue. Koko yang salah. Soalnya, gue menceritakan versi gue.

Seandainya koko juga cerita ke temen-temennya, maka mungkin, temen koko akan merasa bahwa yang salah itu justru gue.

Because we tend to tell our story with us as the victim.

Yaiyalah. Siapa yang mau jadi tokoh antagonis? Kalau kita curhat, pasti kita yang jadi korbannya. Pasangan yang jadi orang jahat alias villain nya. Misalnya (ini misalkan loh ya, amit-amit banget choi choi choi) gue cerita kalau koko kemarin ngomel-ngomel sama gue, marahin gue babi, bilang gue tolol, ngatain gue istri ga becus. Temen-temen gue syok. Ih ternyata si koko jahat banget. Kasar banget. Tega banget sama istrinya.

Tapi… Mungkin gue ga cerita bahwa sebelum koko ngomel-ngomel itu, gue belanjain uang kebutuhan rumah sampe ngutang sama orang lain buat beli senter penghilang lemak samcan seharga belasan juta rupiah. Gue ga cerita ke temen-temen gue, kalau gue ngatain koko sebagai suami yang payah, suami yang ga bisa menghasilkan uang banyak.

Gue ga cerita itu, mungkin bukan karena gue menyembunyikan fakta. Tapi karena gue fokus sama apa yang gue rasain setelah diomelin koko, gue fokus sama sakit hatinya gue setelah dibilang babi dan tolol, gue cuma inget betapa sedih dan kecewanya gue dikatain istri ga becus. Jadi itulah yang gue curhatin ke temen-temen gue.

Gue lupa, kalau sebenernya, tindakan dan perkataan gue juga salah. Gue ga sadar, koko mungkin sakit hati banget pas dikatain suami payah. Gue ga sadar, koko kecewa sama gue yang menyalahgunakan kepercayaan dia. Gue lupa cari apa sebabnya, sampai-sampai bisa berakibat koko ngeluarin omongan sekasar itu.

Temen emak gue, ada yang terlalu perhatian ke anak sampe-sampe suaminya lupa diperhatiin. Akhirnya suami selingkuh. Istri ngamuk dan bilang suami jahat banget padahal dia udah ngurusin rumah dan anak dengan sebaik-baiknya.

Waktu gue denger cerita itu, gue pikir, ih kok jahat banget suaminya. Brengsek banget. Setelah gue makin gede, gue baru tau kalau si istri selalu punya segudang alesan untuk menolak saat diajak bercinta sama suaminya. Suaminya pulang kantor dan cerita tentang kegiatan dia, si istri selalu sibuk sama anak dan urusan rumah, ga sempet ngedengerin suami. Terkadang malah mencemooh atau menganggap remeh cerita suaminya. Membuat suaminya merasa gak dihargai.

Waduh. Gue pikir, berarti yang salah istrinya dong? Saat gue semakin gede lagi (alias sekarang), gue sadar… yang salah ya dua-duanya.

Suaminya salah karena memilih selingkuh, padahal ada pilihan untuk membicarakan permasalahan ini berdua dengan istrinya, cari solusi sama-sama. Istri pun salah karena tidak membagi perhatiannya dengan berimbang, lupa untuk memberikan perhatian yang seharusnya diterima suaminya, lupa untuk mengkomunikasikan permasalahan dia atau capenya dia ke suaminya.

Dulu, saat mendengarkan cerita orang lain, gue pernah menjadi seperti perempuan yang menyerang Mbak X. Saat ada orang baik yang mau mencoba membukakan mata gue untuk melihat bahwa there’s a bigger picture, gue menuding orang itu ga bersimpati sama masalahnya si korban. Gue bersikukuh pokoknya si korban itu korban yang sangat malang dan tak bersalah. Yang salah itu si orang jahatnya karena udah menjahati dia.

Padahal? Ya belum tentu.

Kalau balik lagi ke video tadi, gue sadar bahwa memang ada orang-orang tertentu yang tetep aja selingkuh padahal pasangannya udah sempurna, pengertian dan perhatian banget.

But oh well… Most of the time, it takes two to tango.

Advertisements

38 thoughts on “It Takes Two To Tango

  1. Olip dewasa bangettt kamuh, ak sih termasuk yg belain mba A dan ampe lupa pikiran ini sempit banget yaa, thanks udah nyadarin 😀 hihi

    Bener2 banget lah cece Olip ternyata di balik tingkah dan cerita lucu2nya si cece pribadi yg dewasa banget menyikapi segala sesuatuh *give her applause* prok prok

    Btw, akun ig nya apaan sih? mau tau dong 😀 wkwk *stalker mode*

    Liked by 1 person

    • Tadinya abis ngeliat di Path, stalking di ig bentar, trus udahan Nie. Eh taunya muncul di newsfeed Facebook dengan komen-komen itu. Yaudahlah tak bikinkan postingan ae. Mihihihi.

      Like

  2. Itulah Lip, Sometimes we must open minded dikit lah buat menanggapi segala sesuatu yg ada di sosmed 🙂
    Jujur sih gw juga tipe orang yang panasan, gw juga kadang kala tanpa disadari bisa kepancing emosi gara2 curhatan orang, tapi tetep gw selalu nahan diri buat think twice, dan teorinya kaya yg lu bilang, mana ada coba orang curhat terus malah ngebuka aib yang akhirnya bikin dy dihujat sama temen curhatnya.. 🙂
    Gw juga perna nieh ketemu sama salah satu temen main gw dimana waktu itu after merried dy pindah jauh dan lost contact, sampe 1 hari yah ga sengaja ketemu sama si temen gw ini di salah 1 mall. Refleks dengan keponya gw say hi dan nanya “kemana aja lu, buset abis dapet angpao ngilang lupa temen. Gimana bini lu uda isi belom?” *keponya kumat*
    Terus dari yg berdiri di lorong mall kt duduk n dy curhat, intinya yah dy bilang uda pisah, pernikahan mereka cuma bertahan 1 bln dan itu gegara istrinya kepergok selingkuh sama laki2 yang notabene lebih tajir, itu intinya.. Sebagai temen langsung donk kepancing buat komen ikut nyalahin bininya, langsung sama FG gw ditarik dibisikin suru keep silent jgn comment lagi.. hhahha..
    Selidik punya selidik eh ternyata donk, awal mulanya after merried temen gw ini pengangguran, numpang di rumah mertuanya, terus si mertua negur donk nanya knp ga cari kerjaan, eh temen gw ga seneng tuh. Akhirnya bininya mutusin buat kerja kantoran (lagi) + jualan online shop. Nah dari sana temen gw cemburu buta sm salah 1 dr rekan kerjanya si istri. Ribut ribut cerai deh.. Ada sebab ada akibat kan?

    Dari sana gw selalu belajar buat ga terpancing sama orang, kalo memang dicurhatin jadilah pendengar yang baik dan ga usah komen kalo belom tau cerita dari 2 pihak..

    Jadi panjang lebar komenin elu Lip, Maap ya.. Ga afdol kalo ga cerita detail.. ahhaha

    Liked by 2 people

    • Iya gak apa-apa kok Val. Nambah-nambah cerita tentang drama hidupnya orang lain hahaha. Tapi iya, emang itu poin gue juga, kadang kita suka menilai dari sisi orang yang curhat ke kita, padahal… ada sisi lain juga ya Val.

      Like

  3. Hualoooww cicik…
    *lgi pengen ninggalin jejak*
    Gw sih agak males (baca : muak) sama berita sosmed… Terutama komentatornya..
    Yg komen bs lebih heboh dr judul beritanya.. Bisa lebih panas, lebih ganas, lebih… *lebih baik gak usah dibaca*
    Hahahaha…

    *terlepas dr topik yg ada*
    Tpi gw demen baca ceritamu…
    Tetep seru, lucu, informatif dan gak lupa selalu ada nilai positip yg di selipkan..
    Dan saya, selaku pembaca paporit, selalu dpt hal2 positip yg membuat gue jd lbh baik.. *setidaknya gw ngrasa begitu sih*
    Wahahahaha….

    Makacii ya cece… *smooochhh*

    Like

    • Iya bener Lee, mungkin karena merasa strangers dan merasa bukan orang yang ‘nyata’ jadinya bisa komen seenak jidat ya. Hahahah seringnya emang lebih baik ga usah dibaca karena menebarkan aura negatif 😛 Makasih juga, silent reader favorit akohhhh hahahha :*

      Like

  4. wahahaha aku sampe kepo nyari IG nya pake nama lengkapnya. aku sih belum nonton videonya, walaupun sudah tau ceritanya. Ternyata dia nyantumin acc IG nya? jiaahh, niatnya apa coba -_-

    Like

    • Aku malah ga tau nama lengkapnya. Ato udah lupa sih tepatnya, soalnya kayaknya dia pake nama lengkap juga ya di ig? Iya pas di ending dia nyantumin nama akun IG, rasanya antiklimaks abis. LOL.

      Like

  5. Couldnt be more agree with u, Olip. Klo g memilih ga menonton tu video at all..to avoid any judgement opinion dr hasil ntn tu video. Di era skrg ini semua foto, video dan apapu bs lead qta untuk membuat opini br dan menjadi seakan2 tau segala hal dr sebuah postingan.. jd drpd membuat karma buruk lebih baik klo g ga liat krn mkr pasti isinya blm tentu bs jd pelajaran buat g. Nyatanya ga lama beritanya muncul di detik ttg latar belakang tu org. Hehehe.

    Liked by 1 person

  6. Gw malah demen liatin komennya, ada yg komen OOT n gajebo. Videonya gw ga nonton sampe abis sih, menurut gw terlalu banyak ce yg mau2nya dipoligami sampe gw ud ga terlalu bisa berempati. Dia buka cadar n IG jangan2 buat klo yg mau kasi endorsan gituuu, mayan.

    Lip, soal dua sisi cerita itu bener sekali, ada sebab akibat dari setiap keputusan atau tindakan yang kita ambil. Kita harus mawas diri yah, dlm ajaran Buddhis juga selalu dikasitaunya “musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri”.

    Like

    • Gue suka gemats ndri, sama komen-komen gajebo dan oot. Rasanya pengen cabein mulut orang yang komen. Hahahahah. Padahal pas liat videonya pake cadar, gue pikir oh iyalah ya, pasti mau protect identity ya. OALAH malah ngasih tau akun IG! Folbeknya kakaaakkkk hahahahah.

      Iya, apalagi rasa kepo dan iri hati. Musuh terbesar banget tuh, tapi malah sering di embrace. *tunjuk diri sendiri* LOL

      Liked by 1 person

  7. kebanyakan emank cuma liat dr 1sisi ya Lip terlbh sisi korban. ga mau liat sisi lainnya, ga mikir panjang en lsg judging dink 😦

    belum lama ini gue dapet hal serupa Lip dimana org2 menilai tapi ya cuma sepihak, ga liat pihak lain. gue komen tp cuma bilang “sabar aja, cari solusinya” bukan ga mau kasi saran2 krn dia ini malah publish aib RTnya yang mana mnrt gue harusnya lo keep aja. kalo pun mau cerita bukan di medsos. ya dari situ gue jadi males. ga tau deh tujuannya apa tapi menurut gue itu ga etis dilakukan. tapi ya ini balik ke hak msg2 individu ya mau gimana. kalo gue c ga suka kek gt caranya

    Liked by 1 person

    • Gue sampe sekarang gagal paham banget sih sama orang yang terlalu suka mengumbar aib rumah tangga di sosmed. Mungkin mencari perhatian kali ya, karena secara batin terluka ato ada kepahitan. Ada temen gue yang bilang dia mau tau aja pendapatnya orang-orang. Tapi tempatnya salah ya 😦

      Like

      • sah2 aja kalo mau cari pendapat org tapi jadi salah kalo di medsos. yg ga berkepentingan jd ikutan kepo en bisa buat mslh jd runyam kan Lip?

        makanya pas temen gue mule umbar di medsos, hadeh gile tuh Lip komen org2. selain banyak jd pro kontra juga. entah dia nyari pembelaan, perhatian tow apa dink

        Like

        • Iyaaaa. Orang-orang kepo yang komen pun belum tentu orang yang bener-bener care sama masalahnya dia ya padahal.
          Temen gue malahan ada yang pernah posting seakan-akan marah ke suaminya tapi di status facebook. Bilang kalau toh selama ini gedean gaji dia daripada suaminya, trus bilang suaminya itu ga pernah becus sebagai kepala keluarga.
          Mau negur, gak enak. Gak negur, kasian banget sama suaminya. -_-

          Like

  8. ohh iaa ak liat,,
    modelnya yg macem istri Indra Brugman yang tutupan cadar smua yakk
    *salah fokus.,,

    miris si kalo liat dari pihak cewenya..
    tapi bener jg si,, selalu ada 2 mata koin ya ci,,
    ga tau apa yg melatarbelakanginya.,.

    sekarang kita hidup di jaman sosmed si ci,,
    jadi apa-apa rame duluan di sosmed,,
    abis rame timbul deh pro si A pro si B
    abis itu ada de yang ikut tenar (pengacara) yang ikut2an tampil ngebela kaum tertindas,,
    abis itu gak lama jadi cerita sinetron..
    eh si cewe korban jadi artis de
    *indonesia bangett sihh…

    ahhh,, amit-amit laki qt kaya gitu,,
    kalo ampe iyaa,, ak cincang pake pisao tukang babi di pasar,,
    hahaha

    Like

  9. Gue baru liat depannya tuh video, tapi males ngelanjutin. Gue sebagai orang kristiani berpegang kalau kita punya masalah dalam rumah tangga, sebisa mungkin dibahas berdua, bukan untuk diumbar ke orang-orang. Paling mentok juga dibicarakan di keluar besar kali ya kalau sampai terjadi masalah. Gue mengerti poligami itu bukan hal yang baik, tidak ada hal yang benar dari poligami (walaupun di agama tertentu dilegalkan) dengan alasan apapun. Tapi kan itu menurut gue toh? Ya biarkan hal-hal rumah tangga orang cukup digossipin, tapi jangan sampai kita nyampurin hihihi (apalagi jadi benci2an sm org lain gara-gara komen berlawanan).

    Liked by 1 person

  10. Hello Ce Olip.
    Mau ikutan komen ah (biasanya silent reader doang. Hihihi)

    Awalnya aku juga liat video itu dan sewot “seganteng apa sih lakinya, sekaya apa sih lakinya sampe poligami” lalu sampe diakhir video yang nulis akunnya dia. Lalu berlanjut kepo buka sosmednya dan terus mikir “Laah…ngana ngapain bercadar dipidio? -____-”

    Terlepas dari apa motivasi dia bikin itu, permasalahan keluarga emang sebaiknya engga diumbar. Di vidio itu keliatan bahwa dia seolah paling bener, but kita engga tau dari si laki gimana. Tapi yaudahlah yaaaa….

    Btw, i love your blog. Tau blog ini waktu mampir blog Sarah. Jadi buka terus deh blog ini dari jaman persiapan kewong :)) Aku papasan sama dirimu waktu di resepsi Sarah. Lagi mau ngambil makanan. Dan kalian kok sendiri2? karena aku ngeliat koko sendirian pas mau ngambil makanan juga. hahahaha :”))

    Well…semoga berbahagia selalu dengan kehidupan pernikahannya. Salam kenal. 😀

    Liked by 1 person

    • Halloooooo 😀 Manggilnya apa? Cupah aja? ihihii lucuk 😀 Iyaaa, aku juga langsung mikir gitu, lah nape pake cadar kalo ujung-ujungnya ‘ngasih liat’ koleksi foto selfie? 😛

      Thank you yaaaa, your comment made my day ❤
      Ih mestinya nyapaaaa, siapa tau kita bisa jadi berteman ikribbb 😀
      Iya kalo ambil makanan di kondangan selalu masing-masing, trus tar baru ketemuan lagi. Demi efesiensi. "Kamu ambil A ya ce, aku antri ambil B." Trus ntar ketemuan saling cobain makanan masing-masing mihihihhihi.
      Amin, amin, amin. Makasih yaaaa :*

      Like

      • Iya Cupah aja 😀

        Hhihihhihii..lain kali kalo ketemu dicolek-colek deh 😛
        Sungguh kerjasama yang baik ya. Hahaha. Gak rugi waktu dan bisa nyobain semua makanan. Muahahahaaha.

        Samasama, ce :*

        Like

  11. ya ampunn..ya ampun..ya ampuuun.
    ternyata ada yg sependapat sm aku dan kya aq, smp nulis tentang mba ini di blog.hehehehe 😀

    jadi ilfill, apalagi stlg skrg dia balik mesra2an sm suaminya stlh sebelumnya “curcol” di youtube.

    Like

      • *okee lanjutin gosip.

        iya kan tadinya pas abs video yutub itu di IGnya keliatan mesra sm madunya, trs menyalahkan pak suami.
        terus 2 bulan kemudian malah balik nyalahin madu trs mesra lagi sama suami -_-‘

        aq tau pas iseng2 buka bloknya dia dan dhuaaaar..keluar lagi semua aib madunya 😀

        (berasa nonton ftv indosiar) wekekekekk

        Like

        • Astagaaaaa drama banget ya jadinya. Drama yang disuguhkan terang-terangan buat pembaca ya. Ga sekalian provide kita-kita dengan popcorn, mbaknya? Ato pisgor sama teh manis anget gituh? :)))))

          Mau dong link nya kalo boyeee *eyaampun kepo amaattt* :))))

          Like

          • boyeeeh..boyeeehh..

            keyword “spagethiandchickenwings” di google nti juga muncul blognya di urutan teratas.
            baca yg judulnya “untukmu melawan prasangka”

            ga brani mention langsung krn nti mbaknya tau 😀

            Like

Write your thoughts or questions here! :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s