29

SELF-REMINDER: Mengapa Menikah?

Gue menemukan tulisan ini tapi gak menemukan penulisnya.

Semua link yang gue klik mengakui ini tulisannya orang lain, bukan tulisan mereka sendiri. Tapi siapa orang lain itu, masih menjadi misteri beranak dalam kubur.

Tulisan ini bagus untuk pasangan yang sudah menikah, maupun yang baru mau menikah.

And I post it here because I want this to become a reminder for me

Mengapa orang menikah ?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia ?
Apakah karena jatuh cinta ?
Bukan…
Tapi karena mereka terus bangun cinta.

Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup…
Mengapa jatuh cinta gampang ?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.
Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi.
Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap…
Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta.

Jatuh cinta dalam keadaan menyukai.
Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.
Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik memahami konflik dan ber-sama2 mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex.. Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan.

Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.
Apakah kondisi ini bisa diperbaiki ?
Tentu saja bisa, saat masing2 mengingat KOMITMEN awal mereka dulu apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan ??
Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta.

Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.

Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.
Mau punya teman hidup ?
Jatuh cintalah….
Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta…Jagalah KOMITMEN awal.

Meski kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.
Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.
Pernikahan bukanlah tanaman bunga mekar harum semerbak yang sudah jadi. Pernikahan adalah lahan kosong yang harus kita garap bersama-sama.
Tidak cukup hanya dengan memilih dan menikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang TEPAT, yang memperlakukan pasangan kita dengan TEPAT pula.
Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau Tuhan sudah mengizinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti Ia mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.
Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan Tuhan dan Imam, untuk tetap setia dan saling mengasihi dalam segala keadaan.

MENIKAH DENGAN ORANG YANG BENAR (ATAU SALAH), ITU TERGANTUNG DARI “CARA” KITA MEMPERLAKUKAN PASANGAN.

Manusia cenderung lebih pintar menilai orang lain daripada memeriksa diri sendiri,
Padahal, ketika satu jari menunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri.
Jangan suka menghakimi tetapi baiklah kita saling mengasihi.

Pernikahan adalah tiket 1x jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.
Pernikahan adalah tempat dimana kita dituntut menjadi dewasa & salah satu tanda dewasa adalah SIAP memikul tanggung jawab.
Pernikahan bukan masalah feeling suka tidak suka, tapi tentang komitmen.
Masalah dalam pernikahan biasanya karena kita tidak memahami perbedaan pria & wanita.
Jangan tuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.
Ingat !!
Better me = Better we.

☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan suami :
A. Tidak perhatikan perasaan istri.
Laki lebih pakai logika , wanita pakai feeling.
B. Lebih fokus memikirkan solusi daripada mendengar.
Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami merasakan apa yang dia rasakan.
C. Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian / jawaban.
☻ 3 kesalahan umum ☻
yang sering dilakukan istri :
A. Memberi petunjuk tanpa diminta.
Mungkin bagi istri menunjukan perhatian , tapi bagi suami merasa dikontrol.
B. Mengeluhkan suami di hadapan orang lain.
C. Mencoba membenarkan pada saat suami melakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)

Selama berumah tangga, milikilah komitmen-komitmen ini:
1. Komitmen untuk tetap berpacaran.
2. Komitmen memiliki sexual intimacy regularly.
3. Komitmen untuk saling membantu (jangan mengkritik pasangan).
4. Komitmen untuk punya romantic get away (liburan berdua)
5. Komitmen berkomunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
6. Komitmen untuk bicara hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
7. Komitmen untuk jadi pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya. (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
8. Komitmen untuk mudah mengampuni pasangan.
9. Komitmen untuk bergandengan dan berpelukan.
10. Komitmen untuk h¡dυp dalam kebenaran.

10 Hukum Pernikahan Bahagia:

  1. Jangan marah pada waktu yang bersamaan. (Efesus 5:1)
  2. Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan. (Matius 5:3)
  3. Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang. (Amsal 16:32)
  4. Tegurlah pasangan Anda dengan kasih. (Yohanes 13:34-35)
  5. Lupakanlah kesalahan masa lalu. (Yesaya 1:18 ; Amsal 16:6)
  6. Boleh lupakan yang lain tapi jangan lupakan Tuhan dan pasangan Anda. (Kidung Agung 3:1-2)
  7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam. (Efesus 4:26-27)
  8. Seringlah memberi pujian pada pasangan Anda. ( Kidung Agung 4:1-5 ; 5:9-16)
  9. Bersedia mengakui kesalahan. ( I Yohanes 1:9)
  10. Dalam pertengkaran yang paling banyak bicara,dialah yang salah. ( Matius 5:9)

Pernikahan yang bahagia membutuhkan jatuh cinta berulang-ulang dengan pasangan yang sama.

Bangun pagi ini katakan kepada pasangan kita ” I LOVE YOU ” biarlah ini menjadi pupuk yang akan menyuburkan kembali cinta kepada pasangan kita.

Tujuan pernikahan bukanlah berpikiran sama, tetapi berpikir bersama.

not for granted

38

It Takes Two To Tango

Belum lama ini Ninie share video di Path, video itu dibuat oleh seorang perempuan yang curhat bahwa dia dipoligami oleh suaminya. Tanpa suara, tanpa menunjukkan keseluruhan wajahnya karena menggunakan hijab bercadar, dia menunjukkan potongan-potongan kertas berisikan tulisan curhatannya.

Gue bersimpati banget sama perempuan ini.

Banget.

Sampai… di akhir video, dia menunjukkan nama akun instagramnya. Di akun itu, banyak foto selfie tanpa cadar. Ada foto anak-anaknya. Ada nama lengkap anak-anaknya. Kita bisa tau siapa suaminya, kayak apa suaminya, siapa istri kedua suaminya dan kayak apa si istri kedua ini.

Dan gue… malah jadi ilfil.

At first, I thought she was hiding her identity. I thought she was trying to tell people her story, without showing personal information.

Ternyata ngga. Dia membuka aib keluarganya untuk diketahui publik. Dia membuat video yang memuat identitas pribadinya, dengan resiko video tersebut bisa goes viral (atau apakah memang tujuannya seperti itu?).

Begitu video dia hits facebook, komen-komen beragam di facebook langsung bermunculan. Tentu saja, kebanyakan perempuan. Mungkin karena perempuan lebih merasa bisa relate dengan curhatan si Mbak A ini. Dan mayoritas perempuan, tentu saja, bersimpati dengan Mbak A. Mayoritas menghujat si suami. Banyak yang share video dia, dan asumsi gue, sharing tersebut dilakukan untuk menjeritkan, “Hei laki-laki, lihat nih, gak ada bagus-bagusnya poligami. Cuma bikin perempuan sengsara. Tengoklah ini teman kami, korban malang dari poligami. Jangan perlakukan istri kalian seperti itu.”

Perempuan mana yang rela dipoligami? Perempuan mana yang bisa benar-benar dengan ikhlas berbagi suami?

Tapi pertanyaan lain gue, siapa yang bisa senang kalau aib keluarganya digunjingkan khalayak ramai? Dijadikan bisik-bisik tetangga aja, kita udah ga seneng. Apalagi jadi omongan orang seindonesia? Mungkin ada di antara kita yang ternyata adalah temen SD kakaknya Mbak A. Atau temen main catur bapaknya suami Mbak A. Atau teman arisan ibunya si istri kedua. Semuanya… jadi tau.

Sekali lagi, meskipun gue kasian sama Mbak A, tapi video itu somehow malah bikin gue ilfil. That’s probably just me, though. Gue rasa, banyak yang ga setuju sama gue.

Anyway, gue bikin postingan ini bukan buat ngasitau kalau gue ilfil sama video mbak A.

Tapi karena… banyak sekali perempuan yang terbutakan oleh penderitaan mbak A, dan menutup mata terhadap apa yang MUNGKIN terjadi di balik tirai rumah tangganya.

Maaf, penggunaan bahasanya mulai drama abis ye. Hahahaha 😛

Salah satu perempuan yang komen di facebook, sebut saja dia mbak X, menyuarakan pendapat dia yang merasa bahwa ada hukum SEBAB AKIBAT dalam pernikahan. Walaupun dia tidak mendukung poligami, tapi menurut dia, barangkali ada sesuatu dari Mbak A yang menjadi penyebab suaminya berpoligami. (Dalam komen itu, dia berpendapat penyebabnya mungkin karena Mbak A yang menuntut ilmu di luar kota ampe bikin si Mbak A LDR sama suaminya).

Trus ada perempuan-perempuan yang langsung menyerang si Mbak X. Bahkan ada yang terkesan mengatakan bahwa mungkin mbak X harus merasakan dipoligami dulu baru bisa ngerti apa yang dirasakan oleh Mbak A.

LAH.

LAH????

Gue langsung gemets abis. Padahal, menurut gue, Mbak X ini ada benarnya juga loh. Bukan berarti kita ini mendukung suami si Mbak A untuk berpoligami, atau membenarkan poligami. Bukan juga merasa wajar aja kalau suaminya poligami, soalnya dia LDR an sihhh. Bukan, bukan begitu.

Seringkali kita merasa geram sama perlakuan laki-laki terhadap sesama kita yang perempuan. Tapi kita lupa, setiap permasalahan, apalagi rumah tangga orang lain, pasti punya cerita lebih lengkap dan detail di baliknya.

Selalu ada dua sisi dari sebuah koin.

Kalau gue misalkan cerita soal permasalahan rumah tangga gue ke temen gue, kemungkinan besar, teman gue akan menangkap kesan bahwa koko lah yang udah menyakiti gue. Koko yang salah. Soalnya, gue menceritakan versi gue.

Seandainya koko juga cerita ke temen-temennya, maka mungkin, temen koko akan merasa bahwa yang salah itu justru gue.

Because we tend to tell our story with us as the victim.

Yaiyalah. Siapa yang mau jadi tokoh antagonis? Kalau kita curhat, pasti kita yang jadi korbannya. Pasangan yang jadi orang jahat alias villain nya. Misalnya (ini misalkan loh ya, amit-amit banget choi choi choi) gue cerita kalau koko kemarin ngomel-ngomel sama gue, marahin gue babi, bilang gue tolol, ngatain gue istri ga becus. Temen-temen gue syok. Ih ternyata si koko jahat banget. Kasar banget. Tega banget sama istrinya.

Tapi… Mungkin gue ga cerita bahwa sebelum koko ngomel-ngomel itu, gue belanjain uang kebutuhan rumah sampe ngutang sama orang lain buat beli senter penghilang lemak samcan seharga belasan juta rupiah. Gue ga cerita ke temen-temen gue, kalau gue ngatain koko sebagai suami yang payah, suami yang ga bisa menghasilkan uang banyak.

Gue ga cerita itu, mungkin bukan karena gue menyembunyikan fakta. Tapi karena gue fokus sama apa yang gue rasain setelah diomelin koko, gue fokus sama sakit hatinya gue setelah dibilang babi dan tolol, gue cuma inget betapa sedih dan kecewanya gue dikatain istri ga becus. Jadi itulah yang gue curhatin ke temen-temen gue.

Gue lupa, kalau sebenernya, tindakan dan perkataan gue juga salah. Gue ga sadar, koko mungkin sakit hati banget pas dikatain suami payah. Gue ga sadar, koko kecewa sama gue yang menyalahgunakan kepercayaan dia. Gue lupa cari apa sebabnya, sampai-sampai bisa berakibat koko ngeluarin omongan sekasar itu.

Temen emak gue, ada yang terlalu perhatian ke anak sampe-sampe suaminya lupa diperhatiin. Akhirnya suami selingkuh. Istri ngamuk dan bilang suami jahat banget padahal dia udah ngurusin rumah dan anak dengan sebaik-baiknya.

Waktu gue denger cerita itu, gue pikir, ih kok jahat banget suaminya. Brengsek banget. Setelah gue makin gede, gue baru tau kalau si istri selalu punya segudang alesan untuk menolak saat diajak bercinta sama suaminya. Suaminya pulang kantor dan cerita tentang kegiatan dia, si istri selalu sibuk sama anak dan urusan rumah, ga sempet ngedengerin suami. Terkadang malah mencemooh atau menganggap remeh cerita suaminya. Membuat suaminya merasa gak dihargai.

Waduh. Gue pikir, berarti yang salah istrinya dong? Saat gue semakin gede lagi (alias sekarang), gue sadar… yang salah ya dua-duanya.

Suaminya salah karena memilih selingkuh, padahal ada pilihan untuk membicarakan permasalahan ini berdua dengan istrinya, cari solusi sama-sama. Istri pun salah karena tidak membagi perhatiannya dengan berimbang, lupa untuk memberikan perhatian yang seharusnya diterima suaminya, lupa untuk mengkomunikasikan permasalahan dia atau capenya dia ke suaminya.

Dulu, saat mendengarkan cerita orang lain, gue pernah menjadi seperti perempuan yang menyerang Mbak X. Saat ada orang baik yang mau mencoba membukakan mata gue untuk melihat bahwa there’s a bigger picture, gue menuding orang itu ga bersimpati sama masalahnya si korban. Gue bersikukuh pokoknya si korban itu korban yang sangat malang dan tak bersalah. Yang salah itu si orang jahatnya karena udah menjahati dia.

Padahal? Ya belum tentu.

Kalau balik lagi ke video tadi, gue sadar bahwa memang ada orang-orang tertentu yang tetep aja selingkuh padahal pasangannya udah sempurna, pengertian dan perhatian banget.

But oh well… Most of the time, it takes two to tango.

23

Suwamih dan motoGP

Sedikit penjelasan: Jadi ceritanya di race Sepang, Malaysia tanggal 25 Oktober kemaren ini, Valentino Rossi menyenggol Marc Marquez sampe si Marquez jatoh. Tapi Marquez yang duluan memprovokasi Rossi, udah dari race di Phillip Island, Australia seminggu sebelumnya. Sebelum disenggol, Marquez terlihat kayak nempelin helmnya ke lutut Rossi. Tapi hanya Rossi yang dikasih sanksi oleh race director, yaitu untuk start di posisi terakhir untuk last race di Valencia. Padahal, dia udah so close untuk jadi juara motoGP 2015. Gegara sanksi ini, sekarang kesempatannya jadi lebih kecil 😦

Koko: “Rossi belum tentu mau join race di Valencia nih.”

Istrinya: (Gak paham-paham banget sama motoGP tapi ngikutin hasil tiap race karena si suami hobi nonton.)“Ohya? Dia kesel banget lah ya karena dikasih sanksi begitu. Jadi dia akan drop the chance to be champion?”

Koko: “Dia masih lagi mikir mau join race di Valencia apa enggak, soalnya keliatannya bakal sulit buat bisa jadi juara. Yaiyalah, susah banget kalau disuruh mulai dari posisi terakhir saat start.”

*koko diem sejenak*

“Dia udah muak sama kejuaraan ini, muak sama orang-orang, muak sama semuanya.”

Istrinya: “….I’m pretty sure that last dramatic sentence was actually your thoughts.”

Koko: *cengengesan* “Well but I’m pretty sure he thought the same way.”

-_-

Rossi, butuh jubir gak? Nih ada yang mau volunteer untuk membantu menyuarakan isi hati mas Rossi 😛

30

Panggilan Koko dan Cece

Gue terkadang wondering, orang lain bingung ga ya sama panggilan sayang gue dan koko? Soalnya, koko itu kakak laki-laki/abang/mas/akang, sementara cece itu kakak perempuan/mbak/teteh.

Jadi sebenernya gue sama koko itu kayak saling memanggil satu sama sama lain “Kakak”. Lah trus yang jadi dedeknya siapa? 😛

Gue manggil dia koko bukan karena dia lebih tua 8 tahun, dan dia manggil gue cece bukan karena gue keliatan lebih tua dari dia. Meski hidup ini terkadang suka gak pasti, tapi salah satu hal yang pasti di dunia ini adalah gue tidak keliatan lebih tua dari koko. Enak aje, ik kan awet muda selaluuuu~ *minta dicupang digigit Edward Cullen*

Sebenernya asal muasal manggil koko dan cece itu karena kita berdua suka saling ngeledek.

Gue sendiri dari awal kenalan, ga pernah manggil dia koko apalagi bapak. Selalu manggil namanya. Soalnya gue ga nyangka dia lebih tua 8 tahun 😛 Meski hal ini jarang gue akui depan orangnya langsung, tapi koko emang keliatan lebih muda dari umur dia sebenernya. Setelah tau dia udah tua pun, gue tetep gak mau manggil dia koko karena gue merasa manggil dia koko somehow bikin gue jadi pengen ngelanjutin nanya “Ini harganya berapa ko? Gak bisa kurang ko? Toko sebelah aja gak segitu ko. Kurangin dikit lagi lah ya ko? Kalau bisa, saya langsung ambil nih ko.” *trus pura-pura mau ninggalin toko/counter* hahahaha 😆

Nah di awal-awal kita ngedate dulu, dia pernah bawa anak tetangganya yang masih SD, Andre. Andre emang udah kayak adek angkatnya, jadi selama kita ngedate dari awal pedekate sampe pacaran, terkadang suka ngajak Andre juga. Karena Andre manggil dia koko, gue jadi suka sambil cengengesan sok-sok ikutan manggil koko. Niatnya sih ngeledek. “Ecieee koko Tasmikaaaa~ Kokoooo~”

Gue sendiri, sering banget ngajakin adek-adek sepupu gue setiap kali gue ngedate sama koko. Sampe mereka akhirnya kenalan juga sama Andre. Lol 😀

Adek-adek gue ini manggil gue: Cece. Alhasil, koko terkadang suka ngeledek ikut-ikutan mereka manggil gue cece juga. Mungkin memang jiwa kompetitifnya membuat dia ga mau kalah dari gue, jadi ikut-ikutan ngeledek 😛

Entah sejak kapan, tau-tau koko dan cece itu udah jadi panggilannya kita berdua. Meskipun biasanya panggilan koko itu pasangannya dedek, tapi gue yang (dulu) gak ada manja-manjanya ini emang gak pas dan gak pantes dipanggil dedek. Terlalu unyu buat gue yang aslinya suka makanin orang. *lah sumanto dong?* 😛

Setelah pacaran beberapa tahun, dia sharing bahwa menurut dia panggilan papi itu bikin dia jijik geli gimana gitu. Kayak terlalu dibuat-buat imut. Gue ngangguk-ngangguk setuju. Setelah itu, gue mulai manggil dia pih. MUAHAHAHAHAHA.

Gak pake pa-pih atau pi-pih. Cukup pih doang. Kenapa? Karena gue demen aja bikin dia kesel hahahahah 😛

Tapi lama-lama jadi kebiasaan, kalau lagi sok manja, jadi lebih suka manggil pih daripada koko.

Setelah nikah dan sering ditanyain oleh orang sejagat raya “Udah isi belum?”, akhir-akhir ini gue jadi kepikiran…

Ntar, jangan-jangan anak kita bukannya manggil papa mama, malah koko dan cece juga kali ya 😀

23

Kok Gitu Sih?

Sekedar mencurahkan isi hati yang gak penting-penting amat sebenernya. Kalau malas membaca keluh kesah gak penting, please stop reading now. LOL.

Gue dan koko ke salah satu pernikahan di hotel mewah. Sebenernya sih yang punya hajat bukan temen gue dan koko. Yang nikah itu anak perempuannya temen papamer, dan karena ini temen yang termasuk deket sama papamer, jadi gue dan koko wajib pergi mewakili papamer yang berhalangan. (bukan, bukan berhalangan haid ya) 😛

Gue gak akan bilang perginya kapan dan venuenya dimana, tapi yang jelas pernikahannya pasti menghabiskan biaya milyaran. The bride was so beautiful, she looked very gorgeous. The wedding cake was stunning. Foods were tasty.

Semua oke menurut gue sebagai salah satu tamu undangan. Kecuali.. EO dan tamu undangannya sendiri.

Hadeh gue gemes banget loh, rose petal carpetnya itu mentok sampe ke dinding. Sedangkan orang tua pengantin, sodara-sodara pengantin, dan pengantinnya sendiri masuk dari pintu yang berada di sisi kiri, yang gak ada karpetnya. Gak ada lampu sorot yang membuat entrance mereka istimewa, lampu tetap remang-remang.

Waktu MC mempersilakan orang tua groom untuk masuk, pintu dibuka dan lamaaaa gak ada orang yang nongol. Kemudian ada salah satu EO melewati gue, ngelangkahin rose carpet sambil terburu-buru dan bilang ke ear set nya, “Lah tadi katanya udah siap, katanya udah tinggal masuk??!” Dia adalah satu-satunya EO yang gue liat malam itu.

Setelah itu dia menghilang di balik pintu dan gak lama kemudian orang tua groom masuk.

Seperti biasa, kalau yang punya hajat lagi entrance, tamu undangan pasti tepuk tangan dengan meriah lah ya. Ini… kaga. Kalo seandainya ada 100 tamu undangan, mungkin yang tepuk tangan cuma 20 orang. Krik krik krik.

Gue langsung bisik-bisik ke koko “Kok, tamu undangannya gak tepuk tangan ya?”

Selanjutnya orang tua pengantin perempuan. Mamanya hampir ngejungkel karena kesandung karpet. Ternyata, karpetnya itu ngapak (gue ga tau istilah lainnya apa, pokoknya kayak menganga mencuat ke atas gitu) sampe lakbannya aja keliatan, ga nempel dengan bener ke lantai. Akhirnya yang benerin adalah bapak-bapak di samping gue, nginjek-nginjek tuh karpet sambil lirik-lirik ke pintu, sebelum sodara-sodara pengantin entrance.

*Mulai gemes mau jitak EO*

Hufh. Btw, her mom was so pretty she looked like a Hong Kong female actress ❤

Trus sodara-sodara pengantin masuk, trus bridesmaid dan bestman, trus ada flower girls gitu. Dan karena dari pintu ga ada rose carpet yang menjadi pathway, bocah-bocah gemesin itu langsung dari pintu jalan lurussss tancep gas ke tengah rose carpet, kaga pake dari ujung rose carpet. Mestinya mereka dari pintu masuk itu membentuk huruf L ke rose carpet.

Gue gak tau apakah orang hotel ato dekornya kekurangan rose carpet apa gimana. Anyway, yang bikin gue paling merasa sedih (anaknya gampang bersimpati banget) adalah pas pengantinnya entrance.

MC heboh dong ya mempersilakan mereka masuk. MC minta kita tepuk tangan untuk menyambut kehadiran mereka. Gue tepuk tangan super semangat, padahal gak kenal. Diliatin temen-temen pengantin seakan-akan gue norak, soalnya gue satu-satunya orang yang berada di pinggir rose carpet yang tepuk tangan dengan heboh. Bodo amat. Eh tapi tau gak sih… yang tepuk tangan itu sedikit banget.

Asli sedikit banget sampe kedengeran garing.

Bayangkan lo lagi di sebuah seminar dengan ratusan peserta, trus pas di salah satu bagian saat pembicaranya seakan-akan mengatakan sesuatu yang wah, ada yang tepuk tangan tapi palingan cuma sekitar belasan orang doang. Yang lainnya kalem. Yang tepuk tangan itu, karena kalah jumlah, pasti bakal tengsin dan berhenti tepuk tangan kan?

Itu yang terjadi pas BRIDE AND GROOM-NYA ENTRANCE.

Gue seriously langsung pasang tampang horror dan bilang ke koko “What the f*** is wrong with these people?? Woy pengantinnya masuk ke ruangan woy, sambut kek dengan meriah! Sambut kek dengan gembira! I can’t even…”

Trus pas mereka udah mulai deket rose carpet, ada yang mulai tepuk tangan lagi dan gue ikutan lagi dengan heboh. Maksud hati sih, biar yang lain terpengaruh dan terpancing untuk tepuk tangan juga dengan meriah. Tapi yang terjadi masih sama, sama garingnya kriuk kriuk kriuk.

Mereka jalan di rose carpet yang remang-remang karena gak ada lampu khusus yang dinyalakan di sepanjang rose carpet. Entahlah kenapa. Yang terang benderang cuma pelaminan.

Gue.. sedih 😦 Melihat pengantin yang cantik dan tetep tersenyum sumringah, I feel pity for her. Di atas panggung pun, dia sempat terlihat agak pasang tampang gak enak gitu, trus baru lanjutin pasang senyum.

Gue gak bisa mengerti apa susahnya bertepuk tangan dengan seru dan meriah untuk orang lain. Itu pertanyaan yang tersisa dari gue sepanjang malam, kok gitu sih? Kok tamu undangannya tega banget sih? Kok ga mau tepuk tangan sih?

Semua pertanyaan yang cuma disambut koko dengan senyum pahit dan ekspresi dia yang gue terjemahkan sebagai “Udahlah ga usah dibahas” karena dia memang kurang suka mengomentari acara orang.

Masalahnya… gue bukannya complaining or whining tentang makanannya, dressnya, make up-nya. No. They were perfect. Tapi tamu undangannya itu loh… apa mereka semua bukan temen ato orang-orang yang bener-bener deket dan care sama pengantin? Jadi merasa ga perlu menyambut pengantin dengan meriah?

…Kok gitu sih? 😦

gloomy guest

27

Sweet Box

Namanya bikin langsung ngebayangin sebuah kotak isi permen warna warni pastel yang super manis ya ❤

Jumat kemaren ini gue dan koko after-office dating. Soalnya Sabtu dan Minggu padat acara, sementara koko udah kepengen nonton Pan. (Istrinya juga kepengen, soalnya trailer Pan ini lumayan keren dan bikin gue berekspektasi tinggi). Jadi sepulang kerja, berangcuslah kita berdua ke mall yang deket dengan kantor koko, Grand Indonesia.

Siangnya gue udah beli tiket pake kartu member CGV Blitz. Ini pengalaman pertama buat gue untuk beli tiket Blitz secara online sejak Blitzmegaplex berubah jadi CGV Blitz.

Gue lumayan suka tampilan website barunya. Lebih user friendly.

Seperti biasa, saat pesan tiket ada pilihan kelas Regular, Gold, Velvet. Nah yang gak biasa adalah Sweetbox, yang langsung menarik perhatian gue.

Ih kok lucu dan manis ya kayaknya. Sweet box kayak apa sih? Apakah kita nonton di dalem cubicle sambil disuguhin permen-permen dan gulali?

Gue coba google, ternyata modelnya kayak sofa berkuping. Jadinya kita ga bisa ngeliat maupun diliat orang di sisi kanan dan kiri kita. Mau curi-curi kecup? Bisa! Asal gak malu diliat karyawan CGV Blitz dari cctv. LOL 😀

Karena gue dan koko udah muhrim buat kecup-kecupan sambil nonton di bioskop, gue coba pesen deh. Hihihi. Harganya 110.000 buat berdua. Katanya sih lagi promo selama bulan Oktober. Tapi ga tau deh promo yang bakal diteruskan untuk selamanya apa ngga 😛

Mesen Sweetbox ngasih kita privilege untuk duduk-duduk di Sweetbox lounge sambil nungguin film dimulai. Sweetbox ini adanya di balkon di atas kursi regular. Jadi tips dari gue, pilih sweet box yang paling bawah, biar ga terlalu jauh banget dari layar.

Pendapat gue terhadap Sweetbox: Gue lumayan suka. Karena kalo duduk gue suka bersila ato agak bersimpuh nyamping gitu, duduk di Sweetbox bikin gue dapet space yang cukup memadai untuk ongkang-ongkang meletakkan kaki. Gue juga bisa menyenderkan kepala ke pundak koko dengan lebih mesra karena tiada pegangan kursi yang memisahkan kita. *nyanyi lagu Kemesraan*

Koko merasa senderan kursinya terlalu tegak, sementara bininya justru suka 😀 Sofa Sweetbox ini juga kayaknya lebih empuk dan lebih nyaman dibanding kursi regularnya Blitz.

Sekarang gue punya pertanyaan,

Apabila di hari Jumat Olive dan Taz menonton sebuah film berjudul Pan di Sweetbox CGV Blitz dengan harga tiket Rp 110.000 berdua, maka hitunglah, berapa harga tiket untuk satu orang…. di hari Sabtu?

Jawabannya adalah.. 130 ribu saja kakak. Hahaha. Karena harga sweet box ini dihitung per satu sofa untuk maksimal dua orang dewasa, jadi meskipun kita pesen untuk duduk sendirian, tetep aja dihitungnya harga per satu sofa alias harga yang sebenernya untuk dua orang.

Meskipun lo udah memandang mbak/mas di counter dengan tatapan memelas, tetep aja gak bisa dibagi dua harganya. Kecuali, lo berhasil minta mbak/mas nya untuk nemenin lo nonton, trus nodong dia untuk bayar setengah harga. Nah kalau itu, mungkin bisa. Bisa digampar satpam.

Kesimpulannya, Sweetbox ini tidak jomblo-friendly.

Mau menggunakan Sweetbox untuk pedekate sama gebetan? Hmmm. Bisa aja sih. Tapi kalau lo masih ragu-ragu si gebetan naksir lo apa gak, gue tidak menyarankan. Kedekatan yang dihasilkan oleh Sweetbox akan bikin canggung. Ga sengaja sentuhan pundak, langsung salah tingkah (Yaahhh meskipun diam-diam dalem hati YES! YES! YES! terus-terusan.) Bingung mau naro tangan dimana, karena gak ada pegangan kursi. Mau ditaro di atas tangan gebetan, salah-salah bikin dia ilfil karena terlalu agresif. Apalagi kalo tangannya dia taro di atas paha, trus kita juga naro tangan kita disono. Bisa-bisa ditempeleng karena dianggap pelecehan seksual.

Jadi, dipertimbangkan lagi deh ya kalo gebetan belum ngasih sinyal yang terlalu positif. Jangan gak sabaran langsung mau ajak gebetan peluk-pelukan hangat dan nan mesra di Sweetbox. Bisa-bisa imej lo langsung positif. Positif penjahat kelamin.

Waktu gue dan koko nonton, pasangan di depan kita kayaknya sih lagi pedekate. Soalnya berasa banget kalo mereka duduk mepet ke sisi kiri dan kanan, jadi di tengah-tengah masih ada jarak yang cukup untuk ngeletakin satu anak bayi. Trus si cowok duduknya tegak banget dan gak nyender ke sofa, kaga nyantai. Jadinya kepala dia malah ngeblok pandangan gue ke layar. Tsk.

Tapi gue kayaknya bakal mau nyobain Sweetbox lagi. Di hari Senin-Kamis aja deh, biar lebih murce 90ribu berdua 😀

happy-quotes-1730

P.S.: Tidak ada bayi maupun jomblo yang dirugikan dalam pembuatan post ini.

34

Mama Mertua

Pada merinding gak baca judulnya?

Huahahahahah. Kebanyakan orang merasa mama mertua itu momok yang menghantui rumah tangga anak dan menantunya ya. Sama kayak Shal, waktu gue bilang ke temen-temen gue akan tinggal sama mertua setelah nikah, banyak banget yang langsung bilang “Waaahhh hayo loohhh, siap-siap deh ya ntar sama mertua” sambil nyengir-nyengir nakutin seakan-akan menyiratkan mampus deh lo lip, siapin mental ya lip. Prepare yourself for hell, lip.

Waktu gue tanya kenapa kok menyiratkan bahwa tinggal sama mertua itu serem, kebanyakan pada bilang: “Karena menantu perempuan itu gak pernah cocok/akur sama mertua perempuan”

Dan dari hasil nanya-nanya lebih lanjut, ternyata gak akur/gak cocok itu kesimpulan dari adanya perbedaan pendapat antara mertua dan menantu. Mertua maunya begini, menantu maunya begitu. Biasanya menantu begono, sedangkan mertua ngotot mesti begana. Lah… kok mirip-mirip sama gue dan emak gue ya? Hahahahahaha 😛

Menurut gue pribadi, beda pendapat itu wajar. Sama emak gue sendiri juga gue kadang beda pendapat dan gemes-gemes kesel. Sama pasangan sendiri aja gue bisa beda pendapat trus berantem ampe diem-dieman, ato ampe nangis, ato ampe mata melotot-melotot mau keluar dari tempatnya, tapi tetep aja gue merasa gue dan dia itu pasangan yang ditakdirkan. Kayak Bibi Lung dan Yoko. Hasek. 😛

Jadi wajar banget kalo sama mertua juga ada perbedaan pendapat. Yang membedakan adalah, kalo sama emak gue dan sama koko, gue lebih berani nyautin dengan nyolot. Kalo sama mertua… gue ga enakan. Hahahaha. *dijepit di keteknya malin kundang*

Tapi ga enakan versi gue tetep dengan tegas bilang apa yang menjadi pendapat gue loh.

Cuma ga nyolot aja nyampeinnya. 😛

Yang membuat gue bersyukur adalah, mama mertua gue termasuk yang golongan mertua yang gak rese-rese banget. Meskipun kita ngotot dengan pendapat masing-masing, tapi kita ga jutek-jutekan ato kesel-keselan. Palingan agak ngedumel, tapi tetep menerima ‘kekalahan’ kita dalam adu pendapat. Kalo gue ngedumelnya ke koko, mamamer ngedumelnya langsung depan gue. Hahaha 😀

Gue dan mamamer juga tipe yang masih bisa asyik ngobrol berdua, jalan berdua, ato ngelakuin aktivitas lainnya dengan seru tanpa koko dan papa mertua. Mesti bersyukur banget ya gue 🙂

Soalnya kalo denger cerita temen sama mertuanya, ternyata ada loh tipe mama mertua yang bikin kita pengen jedotin kepala ke tembok.(Bisa kepala sendiri, bisa kepalanya mama mertua tersebut 😛 ) Gak akur nya bukan sekedar masalah perbedaan pendapat, tapi sepertinya ada kumpulan mertua yang memang kepengen menantunya ngerasain, tinggal di neraka itu kayak apa 😀

Ada mertua yang diem-diem aja ngeliat menantunya ditabokin anaknya. Malah setelah itu ngebelain anaknya seakan-akan menantunya memang pantes buat dianiaya secara verbal dan nonverbal.

Ada juga mertua yang bisa malakin anak dan menantunya untuk uang rokok (yes, mama mertuanya perokok) dan buat judi, trus kalo kemauannya ga diturutin, bisa keluarin sumpah serapah untuk anaknya sendiri dan menantunya.

HIIIY SEREM YA. *ketok-ketok meja kayu* *amit-amit choi choi choi*

Semoga kita dihindarkan dari mertua-mertua mengerikan macam gini 😀

Buat gue sendiri, meskipun pasti-enakan-tinggal-di-rumah-sendiri, tapi gue cukup hepi tinggal sama mertua. Pagi-pagi mau berangkat ngantor, udah disiapin bekal sarapan dan snack. Malemnya pas sampe di rumah, udah ada makanan yang tersedia di atas meja, tinggal hajar bleh dan cuci piring setelah itu. Weekend gue bangun jam 9 ato 10 gak diomelin, malah dimaklumi karena pas weekdays gue mesti bangun pagi buat ngantor. Selain koko, gue juga punya temen ngobrol yang lain. Kalo gue sakit, tetep ada yang ngurusin gue di rumah. Cihuy ya.

Dua hari kemaren ini, papamer dan mamamer ke Melaka buat berobat. Jadilah gue mesti bangun lebih pagi dari biasanya untuk siapin sarapan koko dan siapin sesaji untuk sembahyang dewa & leluhur (siapin doang, yang sembahyang kan koko 🙂 ) Pulangnya pun gue terburu-buru mesti cepet-cepet sampe rumah sebelum koko karena mesti sisihin waktu untuk masak dan beresin chaos yang terjadi setiap gue selesai masak. Jadilah dua hari itu gue kayak keong di cerita rakyat Keong Mas, karena begitu koko sampe rumah, tau-tau rumah udah beres, rapi dan bersih. Makanan dengan ajaibnya sudah tersedia di atas meja. Hepi sih liat suami hepi. Tapi… diam-diam istrinya kangen mamamer dan pengen mamamer cepet-cepet pulang huahahahahahahahaha 😛

Sungguh ya, wanita karir yang masih bisa ngurus rumah dan masak sendiri buat suami tanpa bantuan pembantu itu wonder woman dalam kehidupan nyata. Dan mohon maaf, gue gak sanggup jadi wonder woman. 😆

Mama mertua gue sendiri terkadang lucu karena biasanya menggunakan bahasa Hokkian, jadi bahasa Indonesianya agak gak bener ato membingungkan. Kadang-kadang pake bahasa Medan juga jadi suka ga sesuai sama penggunaan bahasa Indonesia di Jakarta.

Contohnya, waktu gue bantuin masak dan mamamer bilang “Kaco-kacokan itu buburnya”. Artinya, Aduk buburnya 😛 Trus mamamer bilang “Bawa naik kwetiaunya”. Pas gue liat, di lantai ada wajan isi kwetiau goreng, sisa sarapan tadi pagi. Wajannya dipindahin ke bawah karena tadi kompor sempet penuh dipake buat masak bahan-bahan untuk bubur.

Gue angkatlah itu wajan dan gue taro lagi di atas kompor.

Seperempat jam kemudian, di tengah kesibukan bikin bubur (bikinnya banyak karena buat dimakan umat di vihara), mamamer nanya ke gue “LOH kamu belum naikin kwetiaunya liv?”

Gue jawab udah, tapi satu sisi gue mulai ngerasa ada yang janggal. Jadi gue konfirmasi lagi “Naikin ke atas kompor kan maksudnya?”

“Bukaaannn, kwetiaunya diangkat naikkk”

….

“OH Kwetiaunya dipindahin ke piring, taro di meja makan?”

“IYAAAA trus wajannya dicuciii”

“Lah lagian bilangnya angkat naik doangggg” *ngakak* *mamamer juga ngakak*

“Jadi kamu angkat naik gimana?”

“Ya angkat naik taro di atas kompor aja lah wajannya. Kan dinaikin.”

Mamamer ketawa-ketawa aja mengakui bahasa Indonesianya kurang bener. Mamamer emang suka bilang dia gak ngerti mesti nyampeinnya gimana dalam bahasa Indonesia. Maksudnya, apa yang mau disampaikan mamamer itu gak bisa dia bentuk dalam sebuah kalimat bahasa Indonesia yang baik, benar dan jelas. 😀

Tapi ya hal ini jadinya sering bikin gue dan mamamer ngakak-ngakak berdua hihihi.

So, yeah, so far.. I’m a happy wife and a happy daughter-in-law ^^

Gue merasa gue masuk ke dalam rumah yang sama menyenangkannya dengan rumah gue sendiri. Gue mendapatkan keluarga yang sama hangatnya dengan keluarga gue sendiri.

P.S.: Papamer walaupun lumayan kaku dan ga banyak omong, tapi gitu-gitu suka khawatir ama gue kalo belum pulang ato belum makan 😀

P.S.S: Gue memang sejauh ini hepi tinggal sama mertua, tapi gue ga yakin gue sanggup untuk tinggal sama mertua DAN ipar sekaligus 😛

P.S.S.S: Finger crossed, tapi semoga hubungan yang baik sama mertua tidak berakhir saat gue punya anak nantinya. Oh well, you know, cara mendidik yang berbeda 😛