2

Masih Ada Besok?

Beberapa hari lalu gue kehilangan seorang teman dekat. Meninggal beberapa hari setelah terkonfirmasi positif Covid-19. It hits me quite hard, I sobbed uncontrollably and I couldn’t stop even when my head told me to stop crying.

I am sad. I am grieving. I am still constantly thinking of him every now and then in my everyday routine.

Saking terlalu tiba-tibanya temen gue pergi, rasanya masih kayak ga bener-bener nyata. Seakan-akan nanti – setelah udah bisa makan bareng lagi, bisa ke mall bareng lagi – kita bisa janjian aja seperti biasanya. Seakan-akan nanti – setelah pandemi dinyatakan kelar – bisa telpon ke 1826 extension number dia lagi, trus ngajakin jajan bareng di FamilyMart kantor.

Gue ga selalu chat dia tiap hari. Tapi rasanya… masih akan ada waktu untuk ngobrol ga jelas lagi nantinya.

Perasaan yang sama kayak saat gue berantem sama laki gue, trus diem-dieman aja karena tengsin ga mau ngajak ngomong duluan. Bisa sampe 2 hari. Pernah lebih lama dari itu. Karena gue pikir ya ntar-ntaran juga tau-tau bakal baikan sendiri.

Ato gue yang menunda untuk telepon nyokap yang tinggal di luar kota.

Gue yang mikirin mau nanyain kabar temen, tapi trus lupa karena tarsok tarsok.

Semua itu karena gue pikir, gue masih ada waktu.

Masih bisa ngajak baikan suami nantinya meski harus makan waktu seminggu, misalnya.

Masih bisa telepon nyokap besok-besok.

Masih bisa nanyain kabar temen kapan-kapan.

Tapi sebenernya siapa yang menjamin besok-besok itu masih bisa?

Siapa bilang minggu depan pas mau baikan sama suami, dia bakal bisa bangun dari tidurnya dan tidak tertidur selamanya kayak bokap gue yang meninggal waktu tidur?

Gue sering banget baca artikel-artikel dan kutipan-kutipan motivasi di internet, ngasi tau untuk “Do it. Say it. Now.”, entah itu bilang I love you, I miss you, or as simple as forgive me, thank you. Lakukan sekarang secepatnya jangan ditunda.

Tapi udah baca… ya udah. Ga dipraktekkan juga tiap hari ke semua temen kan. Ga inget juga pas udah lagi kesel sama suami ato pas lagi ribet dan telepon dari nyokap jadi missed call.

I took a lot of things for granted.

“Ah besok juga masih bisa.”

Emang yakin, masih ada besok?

2

Siap Gak Anak Dikasih Kondi?

((KONDIII~~~))
Duileh tuh bahasa.
Muahaha.

Kemaren ngobrol ama temen-temen gue trus si Ame cerita soal kenalan dia, cowok 19 tahun, yang“dikasih bekal” berupa kondom oleh mamanya kalo dia pergi-pergi ama temen (dengan manfaat apa ngga, gue kurang paham, ya pokoke temen lah ya)
*Note: Teman Dengan Manfaat=Friend With Benefit
Reaksi semua temen gue pas denger cerita itu adalah “Gak siaaappp kalo mesti ngelakuin itu buat anak gue” muahahaha

Tapi ya zamannya emang udah berubah. Meskipun premarital sex sudah ada sejak zaman nenek moyang, tapi cara generasi sekarang memandang hal itu sudah nggak sama.

Dulu kalau ada yang udah pernah ML sebelum nikah pasti kayak dapet stempel cewek gak bener. Atau bahasa diplomatisnya dalam bahasa daerah nyokap gue, “Bandel”
Padahal mah yang seperti itu tapi diem-diem dan terlihat alim juga buanyaaak hahaha.
Cuma ya gitu, tabu untuk diomongin terus terang. Tau sama tau aja sambil dijadiin bahan gosip.

Nah bedanya kalo sekarang itu mungkin kurang lebih seperti kata Epoi,

Zaman dulu kalo bilang “Eh gue pernah berhubungan seks.”, temen-temen shock.
Zaman sekarang temen-temennya shock kalo denger “Eh gue belom pernah berhubungan seks.”

Hahahah :”)
Tapi gue pribadi percaya kalau memang kita tidak bisa seperti orang tua zaman dulu.
Tidak bisa lagi membandingkan dengan zamannya kita, gak bisa lagi kayak nyokap gue yang kadang ngomong gini;
“Dulu waktu mama muda juga begitu, gak apa-apa! Dulu zamannya mama, bisa aja kok begini begini!”
(Begitu dan begini silakan diganti sesuai konteks pembicaraan dan apa yang diyakini benar oleh sang pembicara :P)

Gue bilang gak bisa karena anak-anak sekarang lahir di era teknologi informasi. Dari mereka lahir udah difoto-foto pake handphone dengan gampangnya. Trus sedunia bisa tau karena tinggal diposting ke sosial media.
Waktu gue lahir? Foto aja kudu minjem kamera orang karena kamera itu barang mahal saat itu. Trus kudu cetak dulu ke tukang foto, cetaknya juga harus di kamar khusus yang gelap. Kalau kita buka roll film fotonya di tempat terang, nanti hasil fotonya bakal burem. Anak gue kalo gue ceritain begini mungkin bakal bingung, yailah mau punya foto aja ribet amat sih mak :”D

Trus zaman dulu mana bisa pamer-pamer foto anak kita ke orang lain kecuali mereka maen ke rumah. Lah begimane pamernya ya. Mau telepon ke luar kota aja kudu ke wartel dulu, karena kalo pake telepon rumah sendiri ntar mahal tagihannya MUAHAHAHA.

Anak cewek zaman dulu kalau dibilangin “Jangan deket-deket sama cowok nanti bisa hamil”, mungkin iya-iya aja dan percaya-percaya aja.
Anak zaman now kalau dibilangin begitu, DUH KITA DIKETAWAIN KALI.
Gue membayangkan kalo gue bilang gitu ke Mireia yang umur 10 tahun, mungkin bakal disahutin,
“Bisa hamil itu kalau sperma ketemu sama sel telor kaleeeee. Dipangku-pangku sama dicipok doang mah gak bakal hamiiiilll. Mama kok gitu aja gak tau sih. Nah sekarang pertanyaan aku buat mama, cara mempertemukan sperma dan sel telor itu gimana sih ma?”
#YHAAAA (lalu emaknya pura-pura budeg) HAHAHAHA

Orang tua zaman dulu mana mau ya ngomongin soal seks sama anaknya.
Siapa yang pernah ngalamin, nanyain soal itu ke orang tua, trus malah dimarahin? SAYAAA~~ hahaha.
Padahal nanya karena ga dingerti, eh malah dibentak karena itu dianggap “jorok”, gue jadi bengong.
Lah kenapa gue dibentak? Memang sih, gue jadi tau itu sesuatu yang salah untuk ditanyakan, tapi gue gak ngerti kenapaaa.
Nah zaman sekarang? Kalo kita ga informasiin yang bener duluan ke mereka, mereka PASTI AKAN mendapat informasi dari luar. Entah dari temen, ato yang paling cepet dan mudah, ya dari internet.
Tapi informasinya bener gak? Dan mereka menangkapnya bagaimana? Kita jadi gak tau kan.

Gue sendiri suka mikir gini,
Gue gak akan bisa kontrol anak. Gue bisa aja mencoba mau ngatur anak. Jadi anak bisa aja di rumah keliatan alim dan penurut, tapi kalau udah di luar rumah pan kita gak tau yak?
Jadi mending gue terbuka, dengan harapan dia pun akan terbuka sama gue.
Karena gue sendiri ngalamin ngobrol banyak hal sama temen lebih asyik dibanding sama orang tua sendiri. Karena kalau sama orang tua sendiri, belum apa-apa udah diomelin ato diocehin :”)
Harapan gue, Mirea bisa ngobrol sama gue dengan nyaman kayak sama temen.
(YAH NAMANYA JUGA NGAREEPPP~ hahaha)
Dan gue gak mau denial juga mikir kalau anak gue gak bakal begini, gak bakal begitu.

Gue pengen dia tau apapun yang dia lakukan, itu semua ada risikonya. Apalagi berhubungan seks.
And I’m not even talking about virginity. Karena gue percaya perempuan tidak seharusnya dinilai dari selaput daranya.
Risiko yang lebih mengkhawatirkan menurut gue itu sebenarnya penyakit menular seksual, kehamilan sebelum benar-benar siap, dan efek psikologis yang bisa saja terjadi (jadi attached secara tidak sehat ke pasangan misalnya)
Intinya sebelum dia dapat informasi secara tidak benar, mending gue duluan yang ngasih informasi dan pendidikan seksual dengan sebaik-baiknya.

Lalu setelah itu? Iya gue juga akan jadi orang tua yang membekali dia dengan kondom saat dia udah pacaran nantinya. Sambil berharap semoga tidak akan digunakan sebelum dia benar-benar mengerti dan benar-benar siap.

2

When He Sleeps Next To Me

God, I feel so thankful.

When husband laid asleep next to me, I studied his face and thought to myself,
I’ve come so far.

12 years ago I wouldn’t have thought that I will be like who I am now in 2021.

I’m not that much wiser, smarter or anything. I gained quite some weight, if that counts as accomplishment lol.

But I’m happier.

That, I can be certain of.

I feel blessed.

With a husband, a daughter, a house we can call our own (Mortgage: “Ahem. Don’t forget me, I will be staying around here until a decade and half later. Just thought you need reminding. Ahem.”), and how I can live my everyday routines gratefully.

A routine that could feel mundane, sometimes. A repeatedly day-by-day that made me ask some friends, hey am I doing life correctly? Because I feel like I’m not very ambitious, I don’t have any grande goal in this life. I don’t do big awesome things that could affect or help people’s life positively. I don’t think I must travel this world to feel life to the fullest. I’m not eager in thinking how to invest this and that.

I kind of feel as if all of these things, that I have right now, are enough.

My loved ones are relatively healthy, and I have a good husband, a smart daughter.

Everyday mostly consists of doing what I should do at work, tittle-tattled with my close friends and my sister in a messenger application, thinking about what should I prepare for breakfast and lunch+dinner tomorrow, helping kiddo to do her homework, video calls with my mum.

Sometimes having heated arguments with hubby, or screaming my head off at kiddo for not listening to what I told her. Or mostly, just having simple quality times with them. With some jokes here and there, teasing and giggling, tickling and laughing.

Also financially independent enough so I can buy some cute things I like, or some toys and books for kiddo. Even spontaneous small presents for hubby.

Well, I wouldn’t say no to more $$$ in my savings,

But right now,

as I lay next to husband, I feel enough.

All of these mundane routines, they reminded me of how I’m still doing okay.

and for that,

God, I feel so grateful and blessed.